Wednesday, April 08, 2015

Malam itu...

Malam itu pertengkaran mengungkap tabir prasangka...
Membingkai pertemuan yang tak bertemu...
Berseru jiwa ke segenap penjuru angin...
Menghimpun daya semesta padamu...

Di setiap sudut dan jengkal gelapmu...
Hati kecil meratap...
Saat hembusan munajat ini mengudara...
Atau mendung menjadi payung...
Tubuhku ingin terlepas...
Biar ruh ku yang suci...
Menghibur engkau di hening malam...

Perhatikan detak jantungmu...
Perhatikan hembus nafasmu...
Selaraskan senandung syukur...
Dengar,dengarkan aku...
Tak pernah ku mati olehmu...
Tidakkah kau hendak bunuh aku?
Setelah ku terbangkit atas lembutmu?

Bila telagaku mulai mengalir sendu...
Lisanku sejatinya kelu...
Bila harapan kian mengalun syahdu...
Tanganku berbisik ke ujung waktu...

Kekasihku...
Engkau kepentinganku...
Ingin ku genggam waktu...
Kalaupun ku mampu membajak mimpi-mimpi burukmu...

Kekasihku...
Engkau kepentinganku...
Silahkan hujamkan belati di dadaku...
Boleh pula kau hunuskan amarahmu...
Tetap ku kan berdiri...
Tersenyum padamu...

Sunday, April 05, 2015

Entah Apa...

Kekasih...
Entah apa yang mebisikiku...
Saat hati memanggil-manggil namamu...
Saat ingatan melukiskan garis wajahmu...
Saat kenangan memutarkan rekaman senandungmu...

Sekejap hitamku membiru...
Padahal tiada warna yang dapat ku goreskan...
Bila satu satunya yang terukir tetap riwayatmu...
Pada dinding rapuh ini...
Yang terhempas bengisnya sekian waktu tanpamu...

Kekasih...
Bukanlah aku lelaki impian yang turun dari alam nirwana...
Seraya bawakan seteguk keabadian surgawi...
Aku hanyalah sekumpulan bercak hitam...
Yang coba merangkai sekeping keutuhan...

Puisi Tak Berjudul. M.Nurul Hidayat (1-13 April 2008)

Hening senyap,hening gelap…
Aroma kematian menyebar…
Jiwa tergolek lumpuh…
Terhempas dinginnya angin kesunyian…

Telah terbiasa sedari dulu…
Kosongkan pandangan,mengunci tawa…
Pejamkan harapan,merubah suasana…
Jadilah nikmat terasa…
Angan kian bersahaja…
Kala beranjak jauh kabut-kabut impian…
Yang menaungi warna kehidupan…

Tinggalah mengkhayati keindahan…
Meresapi usia…
Menghitung hembusan nafas…
Mencerna pertanda-pertanda sang alam…
Lirih berbisik memanggil cinta di atas segala cinta…
Serupa kilatan cahaya merasuk…
Di gelapnya perangai…
Semakin nista,semakin nista…

Persetan dunia mencibir…
Aku tetaplah aku…dan inilah jalanku!.

Karena di dalam hening…
Berhembus udara kebebasan…
Patah belenggu cinta…
Dan ku temukan keramaian…
Di sanalah imajiku menari…

Kini langit cerah,sayap mengepak…
Awan tersipu,tinggi ku mengudara…
Membumbung jauh,menjelajah langit…
Menjajaki kerlipan gemintang…
Yang melirik manja di malam bulan purnama…

Tanpa perduli kereta kencana semakin pergi…
Membawa masa lalu kepada masa depan…
Beserta hukuman yang telah usai…
Maka bersulanglah merayakannya…
Tuangkan jernihnya harapan…
Sematkan lencana bertabur intan…
Pada hari tiada lagi jeratan…
Bertahtalah di singgasana terindah…
Nikmati sajian semesta terhidang…
Khayati detik,resapi bisikan jiwa…
Siratkanlah makna…

Biar hukuman ini terlepas kekal…
Teriakkanlah pada dunia luapan kebebasan jiwamu…

Resapilah…
Bening berkilaunya bejana hati…
Menuangkan butiran keikhlasan…
Mengguyur kegersangan…
Di padang terhamparnya kekeringan…
Meluas,menerjang sekujur daratan membisu…
Menjelmalah hijau rindang menyebar…
Tempat berteduh merpati yang dilanda letih…
Sejenak singgah rebahkan beban…
Bola matanya jernih…
Pintu hatinya menganga…
Menyambut cahaya menghapus kesedihan…

Aku sukar tuk menafsirkan segala…
Getar jiw kala Nampak wujud itu…
Meski dari seberang sana dia tak sedetikpun menoleh ke arahku…
Aku terus menikmati adanya…
Sampai dia hilang dan tak ada…
Termenung ku tak berdaya…
Rasa hati ingin mengejar,menggapai…
Namun bukankah telah ku ikhlaskan semua?
Bukankah penyesalan ini tak kuasa mengembalikan hatinya?

Sekejap saja,ingin ku dekap dia seerat-eratnya…
Sebelum ku benar-benar kehilangan tuk s’lamanya…
Tapi tak mungkin dari ujung ke ujung langit dan bumi membentang,menentang…
Perpisahan adalah hakikat…
Bagi dia mungkin sungai madu di indahnya surga…
Namun bagiku siksaan membara di kelam neraka…

Ikhlas menyapa,menginap di ruang qalbu…
Karenanya aku tegar di sini…

Wahai puisiku…
Ku tulis janji kita dengan tetesan darah mongering,membeku…
Pada nisan permta kematian…
Setelah ku timbun sejuta harapan…
Di dasar kehancuran dalam…
Pupus terkubur kehendakmu…

Tiada guna berkaca-kaca wahai jendela hati…
Usah ratapi layunya bunga impian…
Akan bersemi bakal tunas lainnya…
Betapapun di hamparan jiwa yang tandus kerontang…

Beranjaklah kian jauh…
Mulailah lejitan langkah…
Menerobos puing-puing kehancuran…
Tinggalkan pusara ini beserta sejuta dukanya…

Dan masih tentangnya Tuhan…
Aku titipkan padaMu sepenggal doa…
Jagalah setiap kedip matanya…
Tampakkan panorama keindahan sempurna…
Jadikanlah bola matanya seumpama benteng yang kokoh…
Yang menghalangi terjangan samudra sedu…
Yang hendak membenamkan canda tawanya…

Dan teringat di saat terdekat…
Ku amati sebentuk tanda…
Melekat di kanan matanya…
Melengkapi cirinya…
Pernah memanggil kerinduanku…
Di penghujung cahaya…
Di lelah sang surya…
Kala awanpun enggan menghalangi…
Dialah saksi yang abadi…

Akankah kembali ku dengar…
Lembut sapaan itu membuka hari-hariku…
Sembari mencubitku mesra…
Dengan senyuman terindah…
Hingga memenggalku kejam…
Saat dia tunjukanku jalan buntu…

Itu masih ku ingat…
Pertanda cirri kekal dia ku kenang…
Tentang pesan terakhir darinya…
Terpahat ikrar di dinding hati…



Takkan ada lagi…
Bidadari yang ku patahkan sayapnya…
Saat dia membentangkannya…
Seraya mengajakku melayang…
Menjelajahi keindahan langit tertinggi…