Sunday, January 27, 2019

Kau Seperti Ada

Kau Seperti Ada

Kau seperti ada...
Menantikan narasi jiwa...
Sampai kapan bisu membatu...
Tiada detikku meragu...


Demi bahasa yang lumpuh...
Seluruh rapuh akan luluh...
Kita tak bermain di permukaan dunia...
Dunia yang picik bertopeng sandiwara...

Kau gemetar di sentuhku...
Khayalmu menari-nari meniti arah tak pasti...
Rindumu menyusuri rangkaian tanda tanya...
Coba merengkuh misteri terdalam itu...
Lalu menyelami lubuk kehampaanku...
Tanpamu...

Kau seperti ada...
Sekali lagi tuk ke sekian kalinya...
Aku merasakan sayup-sayup kehadiranmu...
Menikam alam bawah sadarku...



M. Nurul Hidayat
24 Januari 2018

Kau Seperti Ada 2

Kau Seperti Ada 2

"Kau seperti ada...
Menahan langkah sunyiku beranjak...
Kau seperti ada...
Bila harap kembali menapak..."





Kan ku jadikan kau s'lalu ada...
Namun biar waktu yang menguak...
Sebab kita terlalu polos...
Tiada secarik isyarat menembus mutlak...


Kau seperti ada...
Bersama angin malam yang menggoda...
Aku memanggilmu dalam lirih...
Aku tahu kau merasa...


"Apakah kamu sedang sendiri?"
Dari palung jiwa ku bertanya...
"Apakah kamu sering merindu?"
Bilapun sungguh, temanilah aku...



M. Nurul Hidayat
24 Januari 2018

Saturday, January 12, 2019

Munajat Rindu

Hamba kasihinya...
Tumpah ruah dalam sujud...
Benarkah hamba bila membawa nama...
Dimintakan dalam lirih do'a...


Bolehkah hamba petik...
Sekilas wajah malam yang pamungkas...
Jatuh tersungkur sahaja...
Tergopoh lusuh tuna suara...

Di remang lorong surau...
Gelegarnya membahana...
Tersurat sepasang mata percaya...
Murnikah persembahanku?
Takkan terbaca sealam dunia...


Hamba berpantang...
Hamba berpegang...
Pabila esokpun entahlah mudah...
Hendak sesatkan dari jalan hakikat...
Duhai bukanlah bukan calon selamat...


Hamba kasihinya...
Mungkinkah berbalas nan sama?.


Muhammad Nurul Hidayat
14 Desember 2018

Saksi Mentari

Aku saksi mentari...
Terbangunkan alam harmoni...
Segar jiwa lepas landas...
Mencuri awal pembuka...

Sentosalah ruang rindu...
Tak tercemar keruh nafsu...
Selepas gelap nan sukar terjaga...
Langkah pacu menderu-deru...

Selamatkan...
Sisa waktu yang ditikam keinsyafan...
Esok lagi kan berkelana...
Dalam hingar tempat rahasia...

Aku saksi mentari...
Terbangunkan alam harmoni...
Aku reguk anggurku...
Namun mabuk terdahulu...

Muhammad Nurul Hidayat
17 Desember 2018

Rinduku Yang Getir


Rindu...
Boleh aku datang?
Mengetuk rumah dimana kau mengusirku?
Aku berpijar dalam redup...
Bila detik berkala...
Detakku terjaga...


Rindu...
Duhai penghujungku...
Boleh aku petik secuplik kisahmu...
Sisanya biar ku lengkapi...
Sampai penghujungmu...

Rindu...
Boleh aku menetap?
Saling menyambung nafas...
Hingga mati di pelukanmu...
Mencari yang dicari...
Perjalananku kepadamu...

Rinduku yang getir...
Benarkah kau tak ingat aku?
Kenanglah perlindungan dari sang lemah...
merangkak namun tetap melaju...
Takkan henti padamu...

Muhammad Nurul Hidayat
23 Desember 2018

Untitled Rhapsody


As picturous as my world...
For the dancing paintbrush...
My tears shall vanish the hiding fog...
Forever more...

No truth cringing away...
No shortcut to my way...
Throwing the shadow of sorrow...
I've found you dazzling sight...

Standing strong...
Heading where i trust to belong...
As the pinnacle is our own...
The future is walking closer...
Neither to wait nor to fake...

I am sober and sane...
To have you my last on this earth...
See you on the day of true reborn...
The shine will last and long...

M. Nurul Hidayat
28 Desember 2018

Terakhirku


Pernah letih jiwa ini menghardik bayangmu...
Ketika terus saja jadi irama fikiranku...
Mencoba bengis melawan jujur...
Namun kau tetap unggul...

Kala itu tertelungkup oleh rapuh...
Dipecundangi fantasi-fantasi memilikimu...
Aku merasa engkau jauh...
Engkau jijik... engkau ludahi setulus-tulusku memberi hidup...

Aku mau memberi nafasku...
Bahkan segala yang belum ku miliki...
T'lah tersemat atas namamu...
Lalu perhatikanlah berulang-ulang...
pasang mata hatimu yang tajam...
Hunus aku dari belakang apabila ingkar itu ku genggam...

Kita mesti ditumbuk dan diketam...
di atas bejana penyucian sebelum jadi sepasang persembahan surgawi nan semerbak...
Biarlah habis didera dan dihantam...
Sekeliling alam godaan yang bermuarakan cahaya...

Aku ajak sadarmu...
Ke semenanjung tanpa tepi...
Aku tunjuki engkau ranting-ranting dan dedaunan yang gugur oleh seleksi alam...
Kamu akan dihibur angin-angin sejuk yang bertiup tak kenal waktu...
Kau kan nyaman dan tersipu...
Namun mereka tetaplah angin...

Aku ini siapa?
Nampaknya sinis betul memandangku...
Aku hanya lelaki yang terduduk dengan pena bahasa...
Menari-narilah dikau jenaka...
S'bagai terakhirku kau ku damba...

Muhammad Nurul Hidayat
30 Desember 2018

Friday, January 11, 2019

Bangkit


Aku tahu mimpi apa yang mampir di malammu...
Menghantui di belakang jejakmu...
Aku bukanlah terbaik...
Aku cuma penyayang yang nyata...

Genggam erat jangan jemariku, ikrarku...
Pandangi jangan parasku, pasrahku...
Setiap gerak tanpa hadirmu...
Dalam degup sang waktu...
Menguak ujung cerita yang tak harus seperti semula...
Buka sedikit tirai jendela...
Hujan ini kan reda...
Menyibak celah sang surya...
Sedikit namun selalu...
Bila langitmu menghitam...
Buyarkan pandang cahaya...
Jangan dulu menengadahkan asa...
Sesungguhnya pagi kan ramah padamu...
Maka hempas selimutmu dan bangkitlah...
Bila ia menyapa tidurmu...
M. Nurul Hidayat
3 Januari 2018

Taman Surgawi

Ini aku...
Yuk kita jumpa lagi...
Menyusuri taman surgawi bukan imaji...
Riuh semesta menghujani restu dan cita...
Jembatan fana berperantara...
Alam hakikat melambai-lambai...
Aku mau taruh hatimu di ketinggian kehormatanku...
Aku mau abadikan wajahmu pada kedalaman niat suciku...
Sebelum matahariku terbenam dan suram...
Sebelum langitku tergulung malam...
Perkenankan ku lukis garis tawamu selaras sabda keagungan...
Lalu semesta menyesuaikan...


Hai...
Aku menyapamu di pekat kesunyian..
Sayup-sayup suaraku bergetar...
Pelan ucapku mengakar ke bumi...
Kemudian ia lepas mengangkasa...
Mencumbu nirwana raya...

Aku kecup nuansa kecut...
Aku puja warna membuta...
Selir-selirku sungguhlah prasangka dunia...
Engkaulah kepastian sahaja...

Aku mau kamu...
Bila malam menusuk relung sukma...
Pengabdian yang saling memuliakan...
Cegah-cegahlah penyesalan...

M. Nurul Hidayat
2 Januari 2019

Masa Depan

Ku pinjam jantungmu barang sejenak...
Sekedar meresapi degupnya pada setiap pandang yang nampak...
Mencari-cari deru yang memburu...
Teruntuk rahasia teristimewa...

Wahai debur ombak yang kian pasang...
Aku hendak berkisah tentang dia....
Yang sungguh tinggi memenuhiku...
Dia seperti angin yang liar...
Membelaiku namun tak terkejar...

Aku lemah dalam rintik gerimis...
Aku ditelan malam nan gulita...
Aku ditikam pekat kerinduan...
Akupun tergopoh dalam langkah...
Langkah kecilku yang abadi...

Aku membajak jiwanya di antara reruntuhan dunia...
Saat dia merajuk dia menelisik makna...
Tiadalah mengutuk dia dalam sabarnya...
Menemui akhir yang sejati...

Aku berkemajuan ketika mencintainya...
Sebab masa lalu bukanlah candu yang merantai hati...
Perlahan ku lepas segala yang tak mudah...
Dalam keterasingan suara...

Kadang ku merasa kotor tuk membelainya...
Apalagi mencumbunya di sudut waktu yang terdiam...
Kadang ku rasa tak pantas merindukannya...
Namun ku sadar...
Tak merindunya adalah dusta...

Aku kayuh hari hariku...
Bila gelap berjumpa gelap...
Adakah khayalanku...
Menjelma masa depanmu...

M. Nurul Hidayat
5 Januari 2018

Aku Cuma Wanita Biasa

Aku cuma wanita biasa...
Kadang tergulung samudera gelisah...
Cuma gemuruh bathinku berteriak...
Luka yang menganga mulai terkelupas...

Aku cuma wanita biasa...
Akupun bermain gerimis senjakala...
Menikmati tarian senandung jiwa...
Mengikuti kemana alam membawa...

Aku wanita dalam pencarian hakikat...
Aku menutup segala jalan pecundang...
Yang sekedar melirik memikat...
Jentik jemari genit yang keparat...

Aku ini bukan budak penyesalan...
Meski banyak harapan yang mestinya ku wujudkan...
Aku tersilau oleh kilau...
Yang masih seksama ku pantau...

Aku melagukan nostalgia diam diam...
Ku tutup rapat semesta bungkam...
Semakin demikan semakin rasa bersalahku meraja...
Ku cuma penyair sederhana...

Bila peluhku mulai lusuh...
Aku merajut untaian harap...
Aku yang terjaga dalam lingkup penantian...
Terkadang ku damba perhatian...

Peran terperaga...
Terpelihara lingkar belangga...
Di seluruh tempat kehidupan...
Aku sesungguhnya mencari...
Meski tertabrak nyaringnya nalar yang curiga...
Kerasan jiwa dalam selidik...
Sampai berujung terbaik...

M. Nurul Hidayat
7 Desember 2018

Sajak Wanita

Jangan terus-menerus mengacaukan alam khayalku...
Aku sedang bersemayam tanpa ingin siapapun mengusik...
Segala idealismeku yang tersamar...
Mengawali sesak yang terhijab...


Sebagai wanita aku sekadar ingin menemukanmu...
Sosok rahasia yang hidup dalam doaku...
Ku panjat setinggi harap...
Ku menolak terlambat...

Tunjukkan aku sejatinya hadirmu...
Bimbing gelap jalanku mengenalimu...
Jemput aku dari arah cahaya...
Sebelum jiwa kecil hilang percaya...

Aku kan tetap jadi rahasiamu...
Serahasia kau memastikanku...
Bawalah terus segala yang ada bukanlah sisa...
Ku peluk engkau seiring senja menapak...
Bila waktu kan berperantara...

Aku wanita yang berteduh di bawah senandung rindu...
Entah pada siapa...
Namun sempat ku saksikan garis wajahmu...
Pribadi pelipur antara kesal dan rindu...
Sementara ragaku masih lumpuh...
Sayap-sayapku rapuh...
Biarkan saja senyap jadi jalanku...

M. Nurul Hidayat
7 Januari 2018

Senyap

Aku bagikan kepadamu...
seluruh hidup dalam rentang kekekalan masa...
Cukup kamu, dunia tak perlu tahu...
Kamu adalah objek energi...
Muara perhatianku bersinergi...

Bayanganmu adalah kenyataanku...
Telah luput dari genggaman...
Telah lari dari pandangan...
Namun asaku berdegup mendambamu...

Coba hirup sejenak udara kesunyianku...
Aku menggigil merindumu...
Namun kemana hendak jiwa bernaung?
Semua gerbang suram di kejauhan...

Aku bagikan tanpa batasan waktu...
Dingin yang ku kecup di sudut kecil bibir merahmu...
Ingin ku sentuh lembut jemari yang bergetar itu...
Lalu ku belai rambutmu yang bersandar lemah...
Air matapun kau sembunyikan meski ruang hati kian berguncang...

Ini persembahanku...
Kan ku persembahkan hatiku bila mesti kau patahkan...
Sepatah hatimu di waktu itu..
Sudut duniamu yang selalu ku mengerti...
Agar kita satu...

Seraut manjamu...
Kian pudar terhalang sandiwara...
Hendak apa yang kau pentaskan...
Aku ini pemirsa setia...

Maafkan aku, logika...
Maafkan aku, logika...
Aku ingin mengikuti hati sebelum habis waktuku...
Meski hening meski senyap selimuti tulangku...

M. Nurul Hidayat
9 Januari 2018