Saturday, January 12, 2019

Terakhirku


Pernah letih jiwa ini menghardik bayangmu...
Ketika terus saja jadi irama fikiranku...
Mencoba bengis melawan jujur...
Namun kau tetap unggul...

Kala itu tertelungkup oleh rapuh...
Dipecundangi fantasi-fantasi memilikimu...
Aku merasa engkau jauh...
Engkau jijik... engkau ludahi setulus-tulusku memberi hidup...

Aku mau memberi nafasku...
Bahkan segala yang belum ku miliki...
T'lah tersemat atas namamu...
Lalu perhatikanlah berulang-ulang...
pasang mata hatimu yang tajam...
Hunus aku dari belakang apabila ingkar itu ku genggam...

Kita mesti ditumbuk dan diketam...
di atas bejana penyucian sebelum jadi sepasang persembahan surgawi nan semerbak...
Biarlah habis didera dan dihantam...
Sekeliling alam godaan yang bermuarakan cahaya...

Aku ajak sadarmu...
Ke semenanjung tanpa tepi...
Aku tunjuki engkau ranting-ranting dan dedaunan yang gugur oleh seleksi alam...
Kamu akan dihibur angin-angin sejuk yang bertiup tak kenal waktu...
Kau kan nyaman dan tersipu...
Namun mereka tetaplah angin...

Aku ini siapa?
Nampaknya sinis betul memandangku...
Aku hanya lelaki yang terduduk dengan pena bahasa...
Menari-narilah dikau jenaka...
S'bagai terakhirku kau ku damba...

Muhammad Nurul Hidayat
30 Desember 2018

No comments:

Post a Comment