Saturday, May 11, 2019

Mengintipmu

Ku tenggelam
Ditelan mentah gulita malam.
Masih bisa mengintipmu,
Melampirkan sebaris romansa,
Kadang sendu, kadang menggebu.

Mengendus aroma jejakmu,
Seperti wangi nan surgawi.
Aku masih di sini,
Bersama rindu.

Cinta, kembalilah...
Sadari jalan pulangmu sebenarnya.
Dekaplah mimpi lewat hangat tubuhku.
Raih jemariku,
Hempaskan sunyi yang menipu.

Cinta...
Nuranimu adalah lentera,
Ikuti cahayanya bersahaja.
Aku gelap engkaupun gelap,
Meraba-raba tanda tanya...

Sebab ku tak boleh mengusikmu...
Telah tertanam sepanjang jalanmu,
Perantara kasihku yang mengangkasa.
Membelaimu di kala rapuh,
Menyentuh lembut sisi egomu yang kalut.

Sebab sakitmu adalah sakitku...
Pindahkanlah beban dan segala kesakitan itu.
Biar ku tanggung dan kaupun berpijar.
Bila akhirku tak pernah kuasa merengkuhmu.
Baca dan renungkanlah jejak-jejak persembahanku.

M. Nurul Hidayat
12 Mei 2019





Sunday, May 05, 2019

Elegi Permaisyuri

Dia...
Berkata tanpa kata.
Terkapar tanpa daya.
Tersenyum lewat lain dimensi.
Adakah cerah di antara celah?.

Mimpinya...
Yang mendukung dari belakang,
Yang menemani seiring berdampingan,
Yang memeluk dingin penawar luka seharian.
Adakah cerah di hadapan?

Perkenalannya...
Mencari sepatah kata.
Untuknya...
Perhatikanlah kini, perhatianlah nanti.
Rebahkan segala beban perguncangan nurani dan prasangka.
Di antara dua bisik saling tarik menarik.
Menyeret gelisah ke jurang keterpurukan jiwa.

Buka lagi penanda sajak penanda pancaranmu jua.
Segala warna telah menjelma dalam barisan karya.
Walau wajah dambaan berpaling menyakitkan,
Bukan waktu yang bijak tuk membunuh sisa-sisa harapan.

Dia berkata tanpa kata,
Menunggu mendung memantik pelangi,
Rintik-rintik berkah menghijaukan kerontang.
Setelah berhembus semilir kehidupan.

Dan apabila sang permaisyuri memperkenalkan diri.
Turunlah ia dibias cahaya langit.
Terpana semesta raya, terbawa suka cita.
Kemana gerangan indahnya bermuara?

M. Nurul Hidayat
5 Mei 2019