Sunday, May 05, 2019

Elegi Permaisyuri

Dia...
Berkata tanpa kata.
Terkapar tanpa daya.
Tersenyum lewat lain dimensi.
Adakah cerah di antara celah?.

Mimpinya...
Yang mendukung dari belakang,
Yang menemani seiring berdampingan,
Yang memeluk dingin penawar luka seharian.
Adakah cerah di hadapan?

Perkenalannya...
Mencari sepatah kata.
Untuknya...
Perhatikanlah kini, perhatianlah nanti.
Rebahkan segala beban perguncangan nurani dan prasangka.
Di antara dua bisik saling tarik menarik.
Menyeret gelisah ke jurang keterpurukan jiwa.

Buka lagi penanda sajak penanda pancaranmu jua.
Segala warna telah menjelma dalam barisan karya.
Walau wajah dambaan berpaling menyakitkan,
Bukan waktu yang bijak tuk membunuh sisa-sisa harapan.

Dia berkata tanpa kata,
Menunggu mendung memantik pelangi,
Rintik-rintik berkah menghijaukan kerontang.
Setelah berhembus semilir kehidupan.

Dan apabila sang permaisyuri memperkenalkan diri.
Turunlah ia dibias cahaya langit.
Terpana semesta raya, terbawa suka cita.
Kemana gerangan indahnya bermuara?

M. Nurul Hidayat
5 Mei 2019

No comments:

Post a Comment