Thursday, July 06, 2017

Terbenam...

Simak satu persatu...
Derap langkah menjauh...
Dari bilik lamunan
Tempat ku terbenam...

Tubuhmu menggigil...
Kehendakmu samar-samar...
Nyalakanlah perapian...
Cengkeram cahaya langit...

Akan terlalu redup ruang jiwa...
Tanpa kelakar di pagi buta...
Hadapi dan hadapilah...
Segala takkanlah percuma...

Apabila hujan badai menyentuhmu...
Mungkinkah berteduh di bawah kelopak sang mawar?
Kendati ombak melambai ramah...
Kendati sepoi menyeringai marah...

Thursday, February 23, 2017

Mimpi Besar

Mungkin parasmu dapat memukau berjuta mata... Bukan itu yang ku perlu... Aku cuma mau dengar tawa kecilmu... Sebab langit tengah membentangkan untaian peristiwa... Entah esok lusa nafasku tak lekang berderu... Aku puas mengenalmu... Lekaslah berpijar, perempuanku... Menjangkau harmoni jiwa... Bila rindukku berteriak... Serentak kau terhenyak... Seksama t'rus kau simak... Segala yang kau lawan... Apa yang kau dapati... Maka bangunlah... Jangan kau tusukkan duri di jemari... Pandangan kalbu adalah jawabmu... Bukalah ruang sanubarimu... Duhai hitam putihku... Pamitlah bila kau ingin pergi... Melambai doa besertamu... Cintaku turut semerbak di musim bunga... Takkan layupun meski kemarau menyapu bumi... Nanti kau lihat ada lelaki... Di belakang pundakmu... Tertatih langkahnya... Berdarah-darah perjalanannya... Menunaikan mimpi besarnya...

Monday, January 30, 2017

Sampai Waktu Membungkamnya...

Demi pasir yang berdesir. Demi sekawanan merpati dengan senandung paginya. Sungguhkah tak ingin kau tinggali. Satu istana yang hanya memilihmu s'bagai penghuni tunggalnya. Rasakanlah langit. Terulur tangannya padamu. Ikuti bimbingan itu seutuhnya jiwa... Berpasrahlah seluruhnya rasa... Risau bertaruh dalam kesunyian... Mulai menyibak celah cahaya... Di sela temaram itu... Ada sekelumit wajah sendu... Dialah jelmaan separuh hidupmu... Dia kekasih sejati yang mengungkap warna-warnamu... Ia adalah bayangan... Di langkah-langkah cahaya malam... Terus mengikutimu meski kau tak perduli... Setiap saat kau boleh bercermin di kelopak mata sang cinta... Ambilah riasan wajahmu lalu bersoleklah... Tepiskan debu jalanan di keningmu... Sematkan gincu yang merona... Biar merahnya menyemai asa... Karena telah ia selami rasa sakit... Sedalam lubuk samudera... Menghirup aroma darah yang menghitam... Tatkala ombak meracau... Berdebur angin lampau... Ada salam dari dia yang merindumu... Lewat awan yang berarak... Pastikan kau jadi saksi perjuangannya... Sejak awal semula... Sampai waktu membungkamnya... Sampai waktu membungkamnya...