Demi pasir yang berdesir.
Demi sekawanan merpati dengan senandung paginya.
Sungguhkah tak ingin kau tinggali.
Satu istana yang hanya memilihmu s'bagai penghuni tunggalnya.
Rasakanlah langit.
Terulur tangannya padamu.
Ikuti bimbingan itu seutuhnya jiwa...
Berpasrahlah seluruhnya rasa...
Risau bertaruh dalam kesunyian...
Mulai menyibak celah cahaya...
Di sela temaram itu...
Ada sekelumit wajah sendu...
Dialah jelmaan separuh hidupmu...
Dia kekasih sejati yang mengungkap warna-warnamu...
Ia adalah bayangan...
Di langkah-langkah cahaya malam...
Terus mengikutimu meski kau tak perduli...
Setiap saat kau boleh bercermin di kelopak mata sang cinta...
Ambilah riasan wajahmu lalu bersoleklah...
Tepiskan debu jalanan di keningmu...
Sematkan gincu yang merona...
Biar merahnya menyemai asa...
Karena telah ia selami rasa sakit...
Sedalam lubuk samudera...
Menghirup aroma darah yang menghitam...
Tatkala ombak meracau...
Berdebur angin lampau...
Ada salam dari dia yang merindumu...
Lewat awan yang berarak...
Pastikan kau jadi saksi perjuangannya...
Sejak awal semula...
Sampai waktu membungkamnya...
Sampai waktu membungkamnya...
