Tuesday, September 17, 2019

Ilusi

Berjanji di hadapan ilusi.
Berujung kehilangan sesuatu yang tak pernah ku miliki.
Berdarah-darah mengejar ketiadaan.
Bergumul sejuta perasaan.

Bagaimana ku bisa melihat lagi,
semua yang ku bawa sedemikian jauh.
Nyatanya tak pernah nyata,
Menyesaki nafas yang fana.

Terlampau cepat berjanji,
Terlalu lekas jatuh hati.
Bathin yang disayat-sayat dalam sengaja.
Membela khayal penyulut sesal.

Aku tak mau melihat lagi.
Biarkan angin membawa perih.
Berpantang jujur atas lemahku.
Dunia cuma berhak cahaya mataku.

Aku pergi seperti permintaan yang selalu.
Hatiku seperti hilang sama sekali.
Dimana kini mesti aku sembunyi.
Hempas kebodohan-kebodohan ilusi.

Wednesday, September 11, 2019

Temani Aku

Temani aku...
Bawa kejujuranmu...
Bila tiada ku sertakan pernik dunia.
Adakah kau habiskan tawa airmatamu...
Beribadah dalam pimpinanku.

Setidaknya mengenalmu...
Hidup ini mulai tertuju...
Tak sengaja ku temukanmu...
Hingga ku sengaja perjuangkanmu...

Semoga kelak kita benar-benar bertemu.
Bukan datang dalam kesunyian...
Namun bersama melawannya.
Bukan mencari kelengkapan...
Namun bersama menemuinya.

Aku adalah bayang-bayang rindumu.
Engkaupun penghuni relung rapuhku.
Ku menapaki sejarah hari esok.
Sebuah cerita yang kan kita nikmati berdua.

Aku adalah cermin wajahmu.
Engkaupun cahaya di langkahku.
Ku simpan indahmu di bingkai munajatku.
Wahai mimpi besarku.

M. Nurul Hidayat
12 September 2019