Sunday, July 12, 2020

Cahaya

Paska mendekam di balik sekat prasangka
Merangkum langkah-langkah yang dijeda
Tangan lusuh menyingkap perhiasan mata
Menapaki riwayat fatamorgana

Dalam bijaksanamu
Warna hidup telah menjelma
Duka bahagia berpadu mesra
Segala hambar adanya

Kini kau belajar menghidup-hidupi cahaya di pekat malam yang panjang.
Menyambung-nyambung harapan selaras dengan nafas yang masih bertahan
Kau terbiasa mengobati luka sendiri
Dengan ramuan sunyi yang diketam di atas bejana ilusi
Karena bahagia bukanlah ketika mereka membalas senyummu
Bukan pula ketika harta menyesaki rongga mulutmu

Ada percakapan di lingkup alam fikiranmu
Dengan frasa-frasa yang tak dibendaharakan  dunia
Ada diksi berbaris di jiwa liarmu
Menggema apabila malam kian larut

Karena seluruh pandangan akan ringan beranjak
Selembut hembus awanpun berarak sehingga lenyap
Kau bagai abadi dalam pencarian
Padahal cahayamu berpantang padam

Pula sedari itu,
Atas nama permadani semesta yang terhampar,
Dinaungi langit nirwana biru berbinar,
Kepada diri,
Katakan "aku hebat"
Kepada mereka,
Katakan "aku hina"
Kepada Tuhan,
Katakan "aku habis"

M. Nurul Hidayat
11 Juli 2020