Aku padanya dalam sentuhan kecil mendalam...
Pabila genggaman erat meradang...
Terasa menjaring kehampaan...
Yang tersisa berseru dalam pengakuan...
Tertumpah air mata darah dalam desah kepiluan...
Selagi hati tertambat pada ketiadaan...
Kini aku berucap syukur atas nama jiwa yang tersisih...
Karena di sudut kenangan telah membekas separuh hatiku...
Tempat khayalan ini mengucap beribu sesal...
Memudar seiring tuntutan keadaan...
Selaras kidung munajat antara marah dan keikhlasan...
Satu nama menempati tahta jiwaku...
Yang tuangkan secawan arak memabukkanku...
Yang bermahkotakan taburan permata...
Yang hidup dalam kematianku hari ini...
Friday, October 18, 2013
Satu sahabat hilang...
Satu sahabat hilang...
Entah kemana...
Terasa janggal bila masa itu mengganjal...
Bukan hendak ku sentuhkan hatiku...
Cuma menjalin kata demi kata...
Agar kita s'dikit bicara...
Satu sahabat hilang...
Yang tak terlihat namun terasa...
Dipersilahkan padanya seindah-indah jalan terpilih...
Restuku bersama...
Terasa janggal bila masa itu mengganjal...
Cukup aku memetik arti...
Cukup dia melayang lepas...
Entah kemana...
Terasa janggal bila masa itu mengganjal...
Bukan hendak ku sentuhkan hatiku...
Cuma menjalin kata demi kata...
Agar kita s'dikit bicara...
Satu sahabat hilang...
Yang tak terlihat namun terasa...
Dipersilahkan padanya seindah-indah jalan terpilih...
Restuku bersama...
Terasa janggal bila masa itu mengganjal...
Cukup aku memetik arti...
Cukup dia melayang lepas...
Wednesday, October 09, 2013
Prasangka
Detik melambung,kekal terkurung...
Kesalahan ini bukan untukku...
Hati terbawa,luka tertinggalkan...
Di sana berpaling pada keniscayaan...
Ku berdiri dalam terjangan badai sendiri...
Tiada awan seteduh yang dulu...
Tiada langit cerah membiru...
Hentikan fikiranku di titik ini...
Letih yang menyeruak...
Coba tafsirkan desah kehendak...
Bila prasangka memangkas pandangan jiwa...
Jadilah pemberi bukan pemimpi...
Dan arah cahaya kian mendekat...
Mendekap hangat...membasuh,memanjangkan harap...
Kesalahan ini bukan untukku...
Hati terbawa,luka tertinggalkan...
Di sana berpaling pada keniscayaan...
Ku berdiri dalam terjangan badai sendiri...
Tiada awan seteduh yang dulu...
Tiada langit cerah membiru...
Hentikan fikiranku di titik ini...
Letih yang menyeruak...
Coba tafsirkan desah kehendak...
Bila prasangka memangkas pandangan jiwa...
Jadilah pemberi bukan pemimpi...
Dan arah cahaya kian mendekat...
Mendekap hangat...membasuh,memanjangkan harap...
Saturday, August 24, 2013
Kesendirianku...
Kesendirianku adalah nafas...
yang berhembus pada heningnya perenungan...
Apabila bunyi-bunyian alam berdentum kencang...
Apabila bunyi-bunyian alam berdentum kencang...
Apabila semilir angin hantar ku terbang...
Dan...
andai jiwa bercermin...
Mata yang mana dapat kau pandang?...
andai jiwa bercermin...
Mata yang mana dapat kau pandang?...
Andai jiwa menerawang palung samudera...
Bebatuan keropos menerjang bersama ombak pasang...
Sesungguhnya takkan pernah terbalas cinta...
dengan hati busuk penuh prasangka...
Hingga terbongkar topeng tiada berwajah...
Lalatpun tak sudi sejenak hinggap...
Jangan sungkan tuk memudar dalam gelap...
sebagaimana berpijar dalam mimpi...
Aku sedang menyakiti diri sampai waktuku berganti...
Kini,janganlah jangan menoleh kemari...
Sang keledai hendak menepi...
Sang keledai hendak menepi...
Wednesday, August 14, 2013
Sebuah Perjalanan...
14 Agustus 2013
Dimanakah kita meniti jalan?
Kau tutup mataku dan kau bungkam mulutku...
Adakah langkahku berpijak di atas awan...
Yang ku rasa ketiadaan penuh makna...
Redup,redupkan arahmu...
Cahaya memburu...
Pijar,pijarkan lentera kalbu...
Dan mari saling membaca...
Bila kananku adalah kirimu...
Atau demikian pula engkau padaku...
Sempatkanlah sedetik waktu...
Menelusuri jejak-jejak yang bersaksi...
Engkaulah pilihan yang ku simpan pada bejana suci kepasrahan...
Tertinggalkan di sunyi malam kelam...
Dimanakah kau pasrahkan jiwaku dan jiwamu...
Disanalah tempat terindah tuk bertemu...
...
Dimanakah kita meniti jalan?Kau tutup mataku dan kau bungkam mulutku...
Adakah langkahku berpijak di atas awan...
Yang ku rasa ketiadaan penuh makna...
Redup,redupkan arahmu...
Cahaya memburu...
Pijar,pijarkan lentera kalbu...
Dan mari saling membaca...
Bila kananku adalah kirimu...
Atau demikian pula engkau padaku...
Sempatkanlah sedetik waktu...
Menelusuri jejak-jejak yang bersaksi...
Engkaulah pilihan yang ku simpan pada bejana suci kepasrahan...
Tertinggalkan di sunyi malam kelam...
Dimanakah kau pasrahkan jiwaku dan jiwamu...
Disanalah tempat terindah tuk bertemu...
...
Friday, August 02, 2013
Cinta Sang Gembala Takdir...
2 Agustus 2013 Yang terlupa dalam mata...
Yang kepayang di kepayahan...
Terjalur tiada terlanjur...
Merapat di malam kedua...
Mata biru...
Tak segar ku pandang...
Hati tercabik serpihan persinggahan...
Dendangkan kisah ringan...
Begitulah agar kita mengerti...
Aku ini gembala takdir...
Yang digiring oleh kepasrahan...
Bukalah mata hati...
Akupun tak fahami...
Adakah nampak terpentaskannya sandiwara nan picisan?
Ataukah berpadunya dua kehendak jiwa?
Tinggal kita rajut dengan temali kejujuran...
Kita bentangkan seluas langit ketulusan...
Pabila kau berkenan...
Tuesday, July 23, 2013
Bahasa Qalbu
Bahasa Qalbu
9 Juli 2013
Kecuali bahasa Qalbu…
Bermuarakan ikhlas…
Bersandarkan ridho Allah…
Tiada untaian kata yang menembus langit…Kecuali doa…
Ia melintas dimensi nalar manusia…
Menerobos ruang waktu…
Ketika mustahil menjelma niscaya…
Duhai engkau yang yakin…
Jangan redakan air matamu…
Teruslah menangis dalam munajat suci…
Atas nama calon pendampingmu…
Takkan ada yang tertukar…
Cuma Allah yang akan mendekatkan…
Menjalinkan,dan memperjalankan…
Sejauh itu yang terbaik…
Maka ikhtiarlah dengan ikhlasmu…
Dan Cuma Allah hakikat segala perpisahan…
Bila di sisiNya ada takdir lain bagimu…
Maka berpasrahlah dengan sepenuh kehambaanmu…
Monday, July 22, 2013
Kekasih
22 Juli 2013 Senang berbaur perih...
Awal dosa ternikmati...
Terhimpun dalam lintasan malam sendu...
Malam terketuknya satu pintu...
Meninggalkan dan ditinggalkan jadi tuntutan zaman...
Namun barisan kekasih dalam senyuman,sentosa di kekekalan...
Pada sudut kerumunan...
Kekasih larut dalam ingatan...
Tiada sedetik risau yang hinggap...
Terjamin sudah...
Penuh,menyeluruh...
Di antara senda gurau...
Kekasih tenggelam...
Bukanlah ia yang menyelami samudera...
Namun samudera t'lah membenamkannya...
Hingga ke lubuk tak berbatas...
Wednesday, July 10, 2013
Ku Tak Kenal Hati Sendiri
Terasing menyepi di sudut ruang tak pasti…
Ku Terdiam...
Bias kebiasaan jauh meredup…
Haruskah begini?…
Cahaya ku tempuhi…
Tapi sekarang ku tak kenal hati sendiri…
Lengkapilah kehilangan ini…
Bila pandanganku membisu…
Bila bocah-bocah dungu tertawa di sekelilingku…
Bila bunga yang ku kecup layu dan mengering…
Atau bila ku tak rasa hati sendiri…
Mati sebelum mati
7 Juli 2013
Aku ingin bunuh diri di hadapanMu…Aku ingin mati sebelum mati…
Aku inilah kosong…
Dalam titik ketiadaan…
Terhijab noda kemaksiatan…
Duhai Al Muhyii Al Mumiit…
Ajari aku hidup dalam kematian…
Dan mati dalam kehidupan…
Tiada gentar ku arungi belantara dunia…
Meski kematian mengintai di mana-mana…
Engkaulah penggenggam setiap jiwa…
Engkaulah sandaran setiap nyawa…
Wahai Al Waduud…
Peliharalah kerinduan ini hingga saat perjumpaan tiba…
percoyo tresno
8 Juni 2013
nalika kula nyobi mbikak manah... kula mengsah iring peteng lebet mangu...
nalika kula ucul peteng kala semanten...
kangge jawab pangarep ing ngajeng kula...
kala punika sampeyan dhateng mentas ing wanci...
lebet toya netra kula... gujeng ucul kula...
kula sinau wangsul pitados tresna...
saksampune semanten dangu kaangslup lara...
sinau pitados manah sampeyan salebeting manah kula...
wilujeng datheng asih lebet gesang kula...
sampeyan setunggal ingkang salajeng kula kangen...
mestikaken manah sampeyan konjuk kula...
ing penghujung wanci kula memokaken sampeyan...
kangsalaken kula tepangaken badan
nyelak uga merasuk mlebet ruhmu
dadosa kunjukan sae gesang kula
kala terik njoged uga asrepipun dalu
Aku ingin berkenalan denganmu...
14 Maret 2013
Aku ingin berkenalan denganmu...Meraba tanda tanya dalam senyuman malam...
Aku ingin berkenalan beserta hati yang ikhlas...
Seikhlas kalimat yang memudar di sudut-sudut pengharapan kecil...
Aku ingin berkenalan denganmu lagi...
Adakah sepercik hatimu berbinar?
Aku ingin berkenalan tapi waktu mengingkari...
Tersenyum,tertawa,saling berbagi segala...
Tanpa mengajak logika...
Ketika hati saling sapa...
Ketika lisan berperantara...
Ketika ikhlas bersama...
Adakah sekarang hati itu tertutup...
Ataukah lisan itu terkatup...
Hanyalah ikhlas yang senandungkan doa-doa untukmu...
Keabadian...
23 Mei 2013
Dalam buaian pelbagai bahasa…
Larut di riuhnya suasana…
Tenggelam,melayang…
Aku selalu akan bersama kamu,kamu,kamu…Membias dalam kelam,berbinar menyilaukan…
Pada surga yang ku reguk seperti kebenaran…
Kita menari dan berjalan…
Bila aku ini keabadian…
Tentulah kamu kesempurnaan…
Tiada warna yang ku sepelekan…
Dari sekian jejak nuansa…
Tapi sudahlah…itu semua bagian akal…
Hati mutlak mengingkari namun akan merengkuhmu terus…
Pada setiap pertanyaan tak berujung ini…
Pengkhianatan Terindah
20 Mei 2013 pukul 23:31
Tak sudi sepercik sentuhpun dari tangannya...
Tak sudi sekilas pandangpun dari matanya...
Dia menghembuskan semilir dusta...
Apabila jiwa melayang,mengambang...
Dia pilih yang lain tuk dicintai...
Dia pilih aku tuk disakiti...

Sejauh yang ku coba,yang terbaik yang ku bisa...
Sejauh kepalsuan membawa,Menampar ketulusan yang ku punya,,,
Hatiku beku membatu...
Dunia ikut membisu...
Terima kasih atas pengkhianatan terindah...
Yang kau beri saat ku mulai merangkai kepingan hati...
.........
Takkan sedingin rindumu yang menusukku…
Menjangkiti di setiap jengkal nadi dan syaraf…
Menembus ke alam tak terjangkau…
Beserta hati tak berakal…bertuliskan namamu…
Terus saja namamu…
Terukir mesra di dinding kalbu…
Terbingkai bunga-bunga kesucian…
Seperti malam-malam…
Ketika ku coba kosongkan dunia…
kala dua pasang mata bicara…
Ku pinta jujurmu di atas setiamu…
Ku tuntut hatiku menjaga bintang-bintang…
Yang berpijar di sekeliling kita…
Karena denganmu…
Cintaku telah menuju hati yang tentu…
Tempat kejujuranku,ketulusanku bersemayam di dalamnya…
Tempat bahagiaku,sedihku berpadu bersamamu…
Jakarta-Tangerang… Jejak yang hilang…
Jejak yang hilang…
Ketika aku terkatung dan terlunta…
Dalam deru metropolitan…
Sehembus nafas yang menghantarkan…
Sedetak takdir yang mengajarkan…
Sepercik perih yang memulangkan…
Jakarta-Tangerang…
Jejak seribu kenangan…
Aku berjalan seiringan angin terdiam…
Terlintaskan beragam tafsiran…
Pada bahu Jakarta aku bersandar dalam penantian…
Merajut pengalaman,meniti angan…
Perjalananpun melaju terus dengan iringan tanda tanya…
Tiada pertanda kehidupan di sekelilingku…
Hanya lingkup kemunafikan memberangus jiwa-jiwa yang tersisih…
Ini bukanlah masa lalu bagiku…
Bila bermula pada cinta berujung rindu
Hingga sekejap di Tanggerang tertambatku…
Tempatku bertaruh di kehampaan kota…
Tertatih,menjengkali makna persahabatan dan segenggam rupiah…
Kini tinggalah potret wajah kalian di bingkai ingatan...
Gelap...
Demi suara yang menyayat hati…
Sungguh ku berkawan gelap berkabut ketakutan yang teramat…
Apalah itu lukisan indah,bila tiada kau pandang…
Atau taman berjuta bunga,bila tiada kau kecup sepucuk keharuman…
Sebesar-besar mimpiku t’lah terlepas,terhempas…
Larut dalam senandung tak berbalas…
Takkan lagi langkah menuju wajahnya…
Hati membeku di penghujung sadar…
Hatipun rasa bersalah…
Penat sudah engkau bersusah…
Hadapi aku yang gila…
Ya…menggilaimu!!
Rasanya cukup sudah perjalanan ini…
Letih remuk tiada arti…
Kan ku genggam yang tak nampak…
Kan ku kenang yang tersirat…
Perjalanan Malam
12 Januari 2013 pukul 13:39
Menjengkali jejak sang awan…
Menelusuri ruang kepasrahan…
Hitam kelam…
Jangan ikuti aku…
Jalanku gelap berliku…
Jangan pula kau tiru…
Aku sedang sakit jiwa…
Malam…
t’lah kau penjarakan rinduku…
Bersembunyi di balik waktu…
Oh…dinginmu menyusupkan makna…
sunyi senyap berpadu…
Perjalanan malamku untuk kehidupan terdalam…
Yang terpendam tanpa terjamah…
Kehidupanku demi jawaban atas nama dirinya…
hatinya…
Dia...
31 Desember 2012 pukul 12:39
Dia adalah mereka...
Yang padanya ku bercerita...
Berjalan sendirinya tanpa seucap kata...
Tak pula bermula dalam rencana..
Dia adalah mereka...
Yang padanya ku titipkan seisi jiwa...
Saat hampa dirasa,merebak selaksa makna...
Tentang hidup yang tiada ku genggam...
Dan ruang gelap menyesatkan...
Bilakah mereka menjelmakan sewujud rasa...
Terjawab satu tanya yang mengambang di langit-langit hati...
Meneguhkan langkah yang rapuh...
Yang tertatih menembus keraguan...
Hati
26 Desember 2012 pukul 13:06
Wahai hati…tetaplah engkau terbingkai cinta
meski dalam buramnya pandangan jiwa…
Terkurunglah engkau dalam keleluasaan…
Terkekanglah engkau dalam kebebasan…
Hati bukan budak kefanaan manakala langkah berayun cerah…
Bukan pula engkau pemuja kesesatan setelah pergulatan antara sudut gelap dan cahaya…
maka kan ku genggam dan miliki engkau…
Kan ku bawa lari dan ku asingkan engkau…
sehingga meleburlah kau dengan jalanmu…
Ohh…wahai pelabuhan hidayah…
Bukalah selebar-lebar pintumu…
Untuk undangan illahi nikmat hakiki tersaji…
Lalu bersiaplah mengecup wangi damai
Beserta nuansa penuh kesentosaan…
Ohh…Wahai nahkoda kehidupan…
Kau tempuhi arah menyusahkanmu,maafkanlah…
Kau berfikir sambil membodohi,lupakanlah…
Kala gelombang pasang menerjangmu…
atau badai dahsyat yang ombang-ambingkanmu…
Bijaksanalah!!
Bilamana sudah kau mendarat semestinya…
Ternyata hanya Dialah…
Harapan untuk berharap…
Alasan untuk tak beralasan…
Maka tataplah samudea ini bak arena pertarungan sejati…
Seribu jiwa tumbang,Sejuta jiwa berjaya di sini
Ku Sudah Ikhlas…
Ku sudah ikhlas…
Ku sudah lepas…
Semua kehidupanku yang indah…
dalam santun lembut bahasamu…
Ku sudah ikhlas…
Ku sudah lepas…
Kata manis yang kau batalkan…
Ku wajarkan demikian…
Cinta bukan kebutuhan…
melainkan ruang tuk berbagi…
Cintaku bukan lagi tentang hati kita…
tapi hatimu saja…
Walau terlalu singkat batas ini untuk aku fahami…
Walau terlalu janggal cara ini untuk aku mengerti…
Cintaku tak akan bersuara lagi…
untuk hatimu…
Karena cintaku bukan lagi tentang hati kita…
Tapi hatimu saja…
Ku sudah lepas…
Semua kehidupanku yang indah…
dalam santun lembut bahasamu…
Ku sudah ikhlas…
Ku sudah lepas…
Kata manis yang kau batalkan…
Ku wajarkan demikian…
Cinta bukan kebutuhan…
melainkan ruang tuk berbagi…
Cintaku bukan lagi tentang hati kita…
tapi hatimu saja…
Walau terlalu singkat batas ini untuk aku fahami…
Walau terlalu janggal cara ini untuk aku mengerti…
Cintaku tak akan bersuara lagi…
untuk hatimu…
Karena cintaku bukan lagi tentang hati kita…
Tapi hatimu saja…
Puisi Tak Berjudul
18 Desember 2012 pukul 18:51
Tak lagi ku mau libatkan hati pada setiap kata berbalas...
Biarlah seperti bualan belaka...
Tak lagi merindu kerusakan...
Hingga tak merusakkan kemutlakan...
Menepi,sebelum jiwa termangsa percuma...
Yang dicari ada pada yang mencari...
Yang dirindu ada pada yang merindu...
Dan terbayar sempurna...
Usah berlari sejalan roda waktu...
Dapatilah jiwa melintas batas,menerjang ruang...
Lawan seluruhnya belenggu itu...
Belenggu yang sempitkan bathinmu...
Maaf
13 Desember 2012 pukul 16:23
Maaf…Sudah ku himpun kesusahan di hatimu…
Membuncah dalam tanya…
Berujung tanda tanya…
Seperti apakah aku?
Ketika kau mendekat…
Seperti apakah aku?
Ketika kau menjauh…
Kehilangan itu ada padaku…
Kehilangan atas dirimu dan atas diriku sendiri…
Melumpuhkan keceriaan apabila aku memuja mimpi…
Padahal ku cintai engkau…
Seperti kemarin adakah ku terlelap?
Aku tak berpura dalam romansa…
Bukan pula melawan logika...
Demi Hati
8 Desember 2012 pukul 12:45
Demi hati yang terdiam...
Demi hati tak terungkapkan...
maafkanlah kemarau yang memupuskan benih-benih kehidupan...
Demi hati yang bercahaya di kesunyian...
Demi hati yang suci dalam ketulusan...
Hormatilah segala luka dengan pembalasan yang indah...
Hati ini tersenyum dan menangis dalam sedetik masa...
Ketika dingin merambat di celah-celah malam...
Berbicara pelan dan mendalam...
Menghimpun seribu kisah,merangkum sejuta hikmah...
Hati ini jangan kau cabik lagi...
Dengan mimpi kosong yang kau hujamkan...
Atau bisik bualan dari angkasa membumbung...
Hati ini ingin menepi dan bersuka...Seperti mereka juga...
Jiwa Yang Rapuh
4 Desember 2012 pukul 18:55
Aku berbisik...aku merintih...
Tersudut dingin merunduk letih...
awan gelap memayungi langit jiwa...
merambat gelegar petir menyambar,membakar...
Aku berseru pada jiwa...
serukan sesal,serukan hina...
Dan aku rangkum kegelapan...
Semakin lama,semakin meradang luka...
Sekian kehilangan...sekian pertanyaan...
akankah terjawab pada sedetik malam.
Kita
12 Oktober 2012 pukul 9:44
Kita saling merasuk menyelaraskan dua dunia…
Kita berbuat kata dan mengucap laku…
Kita bersenyawa dalam udara pagi dan malam…
Kita adalah satu,bukannya dua…
Aku adalah perjalanan panjang…
Kamu adalah jalan… Aku adalah pemuja harapan…
Aku adalah kamu,bukannya aku saja…
Kamu adalah istana jiwa…
Tempatku mengecup damai…
Kamu lebih dari sekedar sya’ir picisan ini…
Kamu adalah aku,bukannya kamu saja…
Cahaya
Mengimbangi laju langkahmu...
Bila aku kehilangan arah,engkaulah jalan terang yang terbentang.
Betapa kamulah cahaya jiwa ketika sejuta gairah meredup dan sirna...
Aku tak menuliskan kata-kata ini dengan pena di atas kertas. Tapi sedikit berbahasa saja di keheningan...
Kita jauh dan janganlah membayangkanku sambil menatap langit...
Aku ini ada di luar dari apa yang kamu lihat itu...
Bukan pula sebagaimana kau sentuh sebentuk kesenangan...
Atau pula ketika kau terjaga dari mimpi panjang... Aku ada di hatimu dan ingin selalu begitu...
Memelukmu ketika malam,menjagamu ketika waktu dan nafas beradu...
Aku mencintaimu...
7 September 2012 pukul 20:15
Aku mencintaimu walau harus memapahmu dalam gelap...
Aku mencintaimu walau ku tahu pedih ini kian melumpuhkanku...
Bahkan aku tetap mencintaimu walau jalan kita berlumur darah dan air mata...
Aku mencintaimu walau ku tahu pedih ini kian melumpuhkanku...
Bahkan aku tetap mencintaimu walau jalan kita berlumur darah dan air mata...
Aku...
5 September 2012 pukul 12:32
Aku...
hanya kerikil yang mencoba menjadi mutiara di hadapmu...
Dan aku...
coba menggapai pelangi di ujung langit demi warnamu...
Hingga ku dapati rendah nilaiku...
Saat amarah hanyalah sampah...
dan rindu hanyalah angin lalu...
Apakah kau raih hatiku di kesunyian begini?Padahal kau ingat jiwaku yang bersimpuh memohon senyumanmu...
Pusara Cinta
7 Juli 2012 pukul 14:28
Hening senyap,hening gelap...
Aroma kematian menyebar...
Jiwa tergolek lumpuh...
Terhempas dinginnya angin-angin kesunyian...
Hening cinta jadi hakikat...
Nuansa haru merebak...
Hitam putih kepalsuan...
Tersamar dalam senyuman...
Hening senyap,hening gelap...
Tawa dan air mata berbaur akrab...
Birahi melirik manja...
Di gelap cahaya buta...
Sejuta cinta tinggal bualan...
Di kelam keranjang zaman...
Terbuang beserta sisa-sisa kemunafikan...
Juga dusta yang pernah dipercaya...
Maka jangan lagi menyanjung cinta...
Setelah nafsumu meludahinya...
Sebab sesalmu takkan menebus kedua tanganmu itu...
Tinggalah keseimbangan perlambang keadilan...
Harusnya cinta bertaha di singgasana jiwamu nan mulia...
Karena ia pernah merangkulmu dalam pangkuannya yang agung...
Dan meski ia hadir dalam ketidaksadaranmu...
ketika ia menyambutmu tak berbahasa...
Lemahlah jiwa terasa...
Sadarilah ia yang telah menjelma di segala waktu...
Bukan selingan di senggang waktu...
Menangislah kini...
Biar luapan sesalmu menggenangi pusara cinta...
Ia t'lah pupus dalam pesan yang tersirat...
Dan cuma hatimu mampu fahami...
Meski terlambat...
Cinta takkan menyakitimu walau sedikit...
Bila ia menyakiti,sesalnya kan mendahului luka...
Cinta takkan menyakitimu walau sedikit...
Kecuali t'lah kau rangkai pelangi di gelapnya malam...
Especialy for lovely.
17 Oktober 2011 pukul 2:30 ·
Sesungguhnya ku tak sanggup bertanya...Karena hanya cemburu yang membara...
Sesungguhnya ku tak bisa bertanya...
Atau jiwaku akan tercabik seketika...
Dan amarahku adalah cinta...
Cinta yang tak terlampiaskan demi sebuah nama...
Perjuangan adalah bingkai terindah yang mengiringi kisah kita.Meski harus melawan dunia...
Sebab ketika dunia teriak:"berhenti!"
Cinta kita berbisik:"teruskan!"
Ketika ku tenggelam di air matamu,kaupun menyelam di dalam darahku.Ketika jiwa kita berpadu.Harapanpun berpijar menitipkan kekuatan.
Sehingga aku bisa tersenyum saat memejamkan mata.Karena wajahmu begitu manis dalam khayalan.
Do'aku
5 November 2011 pukul 2:35 ·
Ya Allah...
Bila cinta inilah yang terbaik untuk kami satukan,maka berikan jalan untuk kami bersatu...
Ya Allah...
Naungi hidupnya s'lalu di bawah perlindunganmu...
Serta sampaikan sayang dari hati dengan sejuta harap ini.
Ya Allah pertemukan kami dalam kesuksesan dunia akhirat.
Bimbing jiwa kami untuk mengenalMu...
Ajarkan kami untuk membaca keagunganMu...
Serta didiklah kami menjadi hambaMu...
Ya Allah...
Jadikan aku imam yang bijak dan ia makmum yang taat.
Jadikan rasa ini terus bergema meski dalam keheningan jiwa kami yang rapuh.
Ammiin...
Pertanyaan Besar
14 November 2011 pukul 21:17 ·
Bermula tanpa permulaan,menikam perasaan lalu pergi ketika ku terkapar berlumurkan kehancuran.
Tiada yg coba membalut lukaku.Semua berlalu dan menertawakanku.
Lihatlah nanti bila dunia t'lah ku taklukan,kan ku jaga jiwaku dari kebisuan dan kepalsuan.
Apakah cinta yang membiarkanku dalam keterpurukan?
Apakah cinta yang menelantarkan hatiku yang membutuhkan?
Ataukah kebodohan yang melanda jiwaku ketika masih ku mempercayai itu sebagai cinta?
Ketika ia memudar tanpa kejelasan.
Dan kini aku terkubur diantara puing-puing harapan usang.
Bermula tanpa permulaan,menikam perasaan lalu pergi ketika ku terkapar berlumurkan kehancuran.
Tiada yg coba membalut lukaku.Semua berlalu dan menertawakanku.
Lihatlah nanti bila dunia t'lah ku taklukan,kan ku jaga jiwaku dari kebisuan dan kepalsuan.
Apakah cinta yang membiarkanku dalam keterpurukan?
Apakah cinta yang menelantarkan hatiku yang membutuhkan?
Ataukah kebodohan yang melanda jiwaku ketika masih ku mempercayai itu sebagai cinta?
Ketika ia memudar tanpa kejelasan.
Dan kini aku terkubur diantara puing-puing harapan usang.
Aku Bukan Pecundang
pada 27 November 2011 pukul 14:22 ·
Aku bukan pecundang yang jatuh dihempas keadaan.Aku bukan pengecut yang gentar menyambut sinar mentari.Lihatlah langkahku dipenuhi darah yang mengering.
Tanyakan pada angin malam tentang kesunyian.
Aku lebih memilih menantang kesulitan hingga telanjang dan kelaparan ketimbang ku harus pulang menjumpai luka dan menjadi sampah yang membusuk.
Dan letih yang menusuk tulang lebih nikmat dari secawan anggur yang tersaji di pesta malam akhir pekan.
Menatap terjalnya jalan hidup lebih menggelorakan gairahku daripada menari-nari dalam dekapan pelacur jalang yang melirik penuh goda.
Ya...
Kini aku terdampar,mungkin juga terjebak dalam hasrat diri.Dan dalam kepasrahanlah ku sandarkan s'gala usaha.
Subscribe to:
Comments (Atom)





















