Bila harus terbungkam
sunyi.
Demi hanya tetap
merasa.
Jadilah derap langkah
perjalanan...
Yang jejaknya t'lah
terpahat di takdirku...
Pada engkaukah kan ku
temui terangku?...
Seketika kau hadir...
Berjuta lainnya
menyingkir...
Dan bila kau tanya
mengapa...
Aku tersipu kelu...
Lantas darimana kau
kenal jiwaku?...
Yang tersembunyi di
antara reruntuhan berdebu...
Tertelungkup
sendiri...
Terasing di sudut
gelapku...
T'lah kita lalui
detik-detik yang mahal.
Tak terbayar oleh
buaian mimpi kosong...
Atau pula kefanaan hasrat kita...
Kini ku cuma punya
bingkisan sederhana...
Bilapun kiri menarikmu atau kanan memikatmu...
Tak ingin ku
berlebihan...
Bila ku mendamba keindahanmu...
Sementara kau tengah
terjebak di duniamu...
Tangkaplah jiwaku
kekasih...
Di antara bayangan
malam tempatmu menyendiri...
Lihat dan perlihatkan
cahayamu sehingga kita kan berdua...
Berdua saja...
Cukuplah ku
cintaimu...
Berhenti sampai di
situ...
Hingga batas
waktuku...
Kepergian atau
kematianku...
Tersenyumlah
untukku...
Sebab aku bodoh...
Bahkan tuk
menyentuhmu...
Ajarilah untuk ku
hembuskan kata cinta di telingamu...
Lalu genggamlah saja
segenap hatiku...
Sekejap mari redupkan catatan silam antara percumbuan dua
dunia...

