Monday, December 03, 2018

Rindu Tenggelam


Ku berkenalan dengan fana...
Mengikat segenap jiwa gelap buta...
Cerita usia remuk redam...
Dalam keliru pandangan...

Anggur malam cerutu legam...
Berpantun tiada penghujung...
Kelakar tiada kelar...
Seb'lum lincah tersumpal...

Aku mencari aku meniti...
Di separuh perpanjangan waktu...
Poros rindu memanggil...
Tenggelam menggigil...

Berai...
Liarpun luluh memudar...
Lepas...
Buka jalan sudut cahaya...
Sebelum redup harapanmu...
pandangi arah bijaksana...
Hidupkanlah satu pilihan...
Pilihlah satu kehidupan...

M. Nurul Hidayat
9 November 2018

Negaraku

Negaraku negara pura-pura...
Pura-pura sibuk...
Pura-pura kerja...
Pura-pura cinta...
Negara tergadai tumbal media...
Sang bijak memburu hakikat dalam kamuflase...
Akal-akal saling mencitra, saling menista...

Aku anai bercampur debu...
Deru serakah mengaburkanku...
Buyar penunjuk arah menjengkal...
Aku tiada merasuk dangkal...

Aku lebih baik hidup begini...
Mencicipi sajian di depan mata...
Ala kadarnya...
Ketimbang mati munafik dalam drama...
Hidup sentosa sebelah jiwa...

M. Nurul Hidayat
13 November 2018

Fail in Your Name


Don't wanna fail in your name...
Even though the sky collapses...
Hitting the wall of heart

Darling...
Are you hearing me?
I faintly breathe out ...
As you walk down the hall
As the night has turned blue ...
Look into your soul ...
Late by questions ...
Growing together with acceptance ...
I'm your world ...
The only circulating on fantasy
Like a park without borders ...
Because another second story ...
Tremendous in wonders...
In a torn soul ...
Show the other side...
I'm the holy bones ...
After being gnawed by the wild jungle ...
Looking for all it means..
Touching dreams ...
Trying to reach the light of your beautiful eyes ...
It's not love satisfaction next to the soul ...
Responsibility as a sign of its presence ....
There is no limit to any true reply ...
Always dwelling in eternity ...
Get closer now ...
Let me teach you how love works ...
Whimpering the feeling ...
Instantly laughing at the end of common sense ...
Get closer much ...
Let me be your man ...
Open the road above holy intention ...
Destiny will not change ...
However the universe shakes...
At anytime I got negligent...
Muhammad Nurul Hidayat
August 22, 2018

Contemplation

He acquisits the silence as boon companion...
He turns wild beneath the real him...
Feeding on his lonely past...
Preying upon any flesh...


The menacing jaws of him keep gnawing the tender leaves while the darkness covers whole evergreen...
In time such as this, a little peace manifest all rhetorical sermons...


No rostrum to show all stages are closed...
No sparkling merriment to keep on but the inner voice...
The bliss is to pursuit for the bright light of tomorrow cheers...


This is the huge nowhere just breath in your wish...
The best luck is yours oh those believing...
For the spiritual insight about to come...
Settle up your submittion...
Look out there!
He invokes above the worldly matters...
"Oh... should it had been removed...
Gracious... must be meant to be".
Heading the final chapter...
The wind is blowing faster...


Muhammad Nurul Hidayat

November 18th, 2018

Bingkisan Kalbu

Duhai langit...
Ku titip sedikit bingkisan kalbu...
Doa-doa kecil dari kejauhan...
Demi kedalaman perjalanan...
Jejak bidadariku...
Yang menghamparkan sejauh pandangan jiwa...
Hakikat kemurnian fitrah dan kaidah cinta...
Di lubuk imajinya...

Duhai embun pagi...
Mengapa dadaku mesti berguncang...
Sedang tak pernah dia di sini...
Aku takkan sampai hati mengganggunya...
Mengusik damai renungannya...

Aku siap s'bagai kehangatan...
Pabila dingin dunia terlampau menusuknya...
Maaf bila ku terlalu diam...
Resapilah sebenar-benar penjagaan...

Aku berkenan s'bagai penawar bekas-bekas lukanya...
Ku pasang ragaku sebagai pembela...
Ku ikrarkan hatiku sebagai pembeda...
Apabila dunia ini terlanjur diliputi buramnya dusta-dusta...

Duhai Pemilik Jiwa...
Apa daya kuasa hamba...
Adakah lagi sebenar-benar sandaran cinta...
Bila ku perturut sisi binatangnya jiwa...

Muhammad Nurul Hidayat
24 November 2018

Percakapan

Percakapan kita merasuk di lubuk bawah sadar...
Menyelinap manja pada malam-malam gemintang...
Aku adalah bahasa tak terucap, 
sedangkan dirimu menakar kesunyian dengan keterbatasan lentik jemari...


Indah rupamu bukan segalanya...
Sekadar hiasan titipan dunia...
Pandanglah jauh ke sana...
Tiadakah nampak tempat masa depan itu...
Tempat ku bongkar alasan membela singgasanamu...
Tertatih menerjang waktu...

Sedang aku tersesat antara bencimu juga kasihmu...
Kini seribu tanya menguap bersama embun pagi...
Aku pulang pergi di lingkup khayalanmu...
Akulah percakapanmu yang paling sejati...

Sebagian percakapan sebatas pembunuh waktu...
Sebagian lagi bergerak oleh rencana...
Percakapan adapula terurai pelipur kesunyian...
Namun kesunyianpun adalah percakapan...
Bila bahasa rindu merebut peranan...
Bukan karena tiada kata lagi yang terdengar...
Tapi hening dan suara telah cukup bersenyawa...
Di dalam kidung doa yang mengalun...
Percakapan selalu baik...
Antara jiwa-jiwa yang saling memperhatikan...
Dari balik tirai rahasia...
Janji suci bertahta dalam gubuk miskin papa...
Kaulah percakapanku...
Dalam sinis pandangan logika...
Namamu ku bela dan ku bela...
Pahamilah tempat kembalimu...
Aku ingin selalu bernafas...
Sehingga sempat mempermaisyurikanmu...

M. Nurul Hidayat
26 November 2018

Mahal

Aku bergerak menujumu...
Takkan memaksakan diri...
Tak lebih sebatas mengikuti...
Apa adanya kejujuran...
Adakah siang membangunkanmu?.
Adakah malam menyadarkanmu?.
Engkaulah kehadiran yang mahal...
Takkan impas oleh rekayasa perasaan...

Ingin ku patahkan jari jemariku...
Hendak ku lempar penaku...
Selalu kau menari-mari manja di sajakku...
Terus sampai syahdu lelapkanku...

Aku ingin jumpaimu...
Mengecup dalam nyata...
Tapi ku bukanlah siapa-siapa...
Kau kan lagi membuang muka...
Mendung kan menertawakanku...
Ah... bukan itu yang ku khawatirkan...
Ku cuma khawatir mengusik alam damaimu...

Aku ingin menyelami sorot matamu...
Melacak secuil harapan itu...
Tapi aku takut mengacak-acak isi fikiranmu...
Yang mungkin t'lah terpusat bukan padaku...
Ah entah... ku berlindung di balik doa...
Dari perbudakan seluruh prasangka...

Aku masuk dan merasuk...
Aku tersenyum dalam gulita...
Aku bermunajat setia...
Aku lebih dari cinta...

Kamu perempuan...
Kamu lancang!!
Kau lampaui semua pesona keindahan yang tampak...
Dan kau bajak seonggok hati kecil yang rawan...

Tulisan ku tutup...
Lisan manis terkatup...
Sayang janganlah meracau...
Engkau bunga dalam doaku...

M. Nurul Hidayat
29 November 2018