Percakapan kita merasuk di lubuk bawah sadar...
Menyelinap manja pada malam-malam gemintang...
Aku adalah bahasa tak terucap,
sedangkan dirimu menakar kesunyian dengan keterbatasan lentik jemari...
Menyelinap manja pada malam-malam gemintang...
Aku adalah bahasa tak terucap,
sedangkan dirimu menakar kesunyian dengan keterbatasan lentik jemari...
Indah rupamu bukan segalanya...
Sekadar hiasan titipan dunia...
Pandanglah jauh ke sana...
Tiadakah nampak tempat masa depan itu...
Tempat ku bongkar alasan membela singgasanamu...
Tertatih menerjang waktu...
Sedang aku tersesat antara bencimu juga kasihmu...
Kini seribu tanya menguap bersama embun pagi...
Aku pulang pergi di lingkup khayalanmu...
Akulah percakapanmu yang paling sejati...
Sebagian percakapan sebatas pembunuh waktu...
Sebagian lagi bergerak oleh rencana...
Percakapan adapula terurai pelipur kesunyian...
Namun kesunyianpun adalah percakapan...
Bila bahasa rindu merebut peranan...
Bukan karena tiada kata lagi yang terdengar...
Tapi hening dan suara telah cukup bersenyawa...
Di dalam kidung doa yang mengalun...
Percakapan selalu baik...
Antara jiwa-jiwa yang saling memperhatikan...
Dari balik tirai rahasia...
Janji suci bertahta dalam gubuk miskin papa...
Kaulah percakapanku...
Dalam sinis pandangan logika...
Namamu ku bela dan ku bela...
Pahamilah tempat kembalimu...
Aku ingin selalu bernafas...
Sehingga sempat mempermaisyurikanmu...
M. Nurul Hidayat

No comments:
Post a Comment