Monday, June 10, 2019

Puisi Terakhir

Selamat berhenti berharap
Semoga di saat yang tepat
Hati kecil penyambung harapan hitam.
Hilang ditelan kehilangan

Selamat berbahagia
Duhai penantianku di sana
Do'aku masih di langkahmu
Namun tak lagi cita-citaku

Aku pernah salah
Mendobrak dinding tinggi menjulang
Darah di telapak tanganku semerbak tubuhmu.
Ku bersih-bersihkan di telaga waktu.

Simpanlah salam
Simpanlah apa kabar
Aku pernah ada
Dalam ketiadaanmu.
Maka biarkan
Aku tiada
Dalam keberadaanmu

Bahagialah
Jangan sungkan sebarkan pada dunia
Jalan bahagia yang t'lah kau temukan
Aku berusaha tak melihat

Wahai jiwa yang tandus...
Lupakanlah seperti hujan menyapu debu-debu jalanan.
Memantik pelangi selepas langit berkabung mendung.
Lupakanlah demi keluhuran harga dirimu dan kesuksesan besar yang berbaris dalam yakinmu.

Lupakanlah cukup simpan di saku belakangmu.
Usah lagi kau bingkai dan kau rawat dalam harapmu.
Tak mengapa ia melekat pada riwayatmu.
Sebentuk kejujuran perjalanan.
Sebentuk hikmah masa depan.

Lupakanlah kendati sulit dan menghimpit.
Selamatkan jiwa dan akal sehatmu yang terlalu rapuh.
Sebelum badai dahsyat menyelesaikanmu.
Sebelum siksa cinta menyudahimu

Paksakan senyuman yang pahit itu.
Melangkahlah damai sentosa.
Hampir saja kau memastikan kedudukannya.
Sebelum ia memastikan kepergianmu.

Mungkin kau tunjuk wajahmu sebagai pelaku kesalahan.
Mungkin kau dakwa hatimu sebagai aktor pelanggaran.
Namun telah kau torehkan pertanda manusia di separuh pencarianmu.
Pandanglah luasnya hamparan dunia yang genit nan menggoda.
Semoga luka bermetamorfosa.
Semoga kecewa berangsur ditelan masa.

M. Nurul Hidayat
10 Juni 2019

No comments:

Post a Comment