Wednesday, December 25, 2019

A Lover

Dear, how does it feel to be a lover?.
Keeping up the same supplication heading your concluding hours.
For i'll be there completing your power.
For dejected soul may slumber beneath thunder.

Nymph, Thousand words you can't explain has been all understood,
Along the soul of your beauty to colour my black and white.
For i'll be your step, for you'll be my path.
For a single world of ours...
Rest assured,
I will only come for your attitude.

The time shall bark...
Only after a singing hope...

Are you ready for the silence?
Are you willing a deep longing?
I couldn't ask for more but your smile.
Of anytime i'm not around.
As a true time i'd have you crowned.

M. Nurul Hidayat
December 25th, 2019

Saturday, December 21, 2019

Memahami Indahmu

Memahami indahmu
Di tepian liarku
Melukis simpul senyum itu
Merajut sutera kehidupan selembut dekapanmu

Wajahmu adalah alasan mengapa aku harus bahagia.
Mencintaimu seutuhnya bukan sebutuhnya.
Tetaplah tinggal bukan meninggalkan.
Tetaplah ada tanpa mengada-ngada.

Wanitaku...
Cerita hanyalah perantara.
Raga sebatas sementara.
Yang kekal cuma cermin jiwa.
Semoga juga kita.

Aku adalah tempat,
Ketika cinta adalah memberi.
Ketika rindu tiada berharap,
Ketika harapan kian menjadi.

Aku tanpamu adalah rindu...
Yang nafasnya ku hisap laksana candu.
Aku ingin tersembunyi denganmu.
Terima kasih mau jadi semangatku.

Duhai puisi malamku...
Cinta bukanlah transaksi,
Yang mana kau kan memberi pabila menerima.
Ia bukan sekedar keperluan,
Ia sebentuk pemberian apa adanya.

Karena kau buka pintu itu saat aku melolong tersesat.
Karena cinta ini bergemuruh untuk saling menyelamatkan.
Telah ku lumpuhkan logika ketika memintamu.
Jadilah kelanjutan nafasku.

Datanglah tanpa pergi.
Menetap di ketetapan hati.
Terjemahkan bahasa berdua.
Lalu bersama sembuhkan luka.

"Kau tak perlu sempurna untuk cinta.
Cintalah yang akan sempurnakanmu."

M. Nurul Hidayat
2 Desember 2019

Romansa

Aku bisa mengendus jejak rapuhmu.
Dibias ilalang kerontang.
Pekat aroma paska hujan sembunyimu.
Menatap jendela jiwa menggerutu.

Belenggu kesunyian itu, kekasih, hempaskanlah!
Beri aku jemarimu, menari, bebaskanlah!
Aku adalah malam, tubuhku adalah awan.
Menaungi lelapmu yang mencari fantasi.
Rasakan bila nafasku menghampiri.

Kekasih,
Cahaya itu nyata dalam keraguanmu.
Izinkan ku pandu langkah sucimu.
Sebab aku bersemayam di lamunanmu.
Layaknya engkau membajak poros logikaku.

Akan berdansa di atas romansa.
Melukis warna di atas media jiwa.
Bersamamu, kelengkapanku.
Ku hidangkan secawan rindu yang kau ramu.

Reguklah sepuas dahagamu.
Takkan habis sepanjang jamuan ketulusan.
Ketika malam enggan beranjak.
Ketika gerimis bersahabat.

M. Nurul Hidayat
21 Desember 2019