Ada salam kagum dari kejauhan.
Melambai indah hingga penghujung pantai.
Menembus ombak yang beringas.
Nyanyian malam yang terlepas.
Mataku menyimpan wajahmu,
Seluas hamparan jalan perjuangan.
Telingaku memutar suaramu,
Menerobos pekak bising duniawi.
Rahasiakan pesonamu.
Pada titik-titik gerimis yang menerpa kemarau.
Sungguh tiada seteduh wajahmu.
Tempat kembaliku menceritakan kejujuran.
Menemukan padanan warna jiwa yang tersendiri
Jadilah tempatku yang hakiki.
Kita laksana sepasang kekosongan.
Dalam gemuruh segenap manusia.
Mencari ke dalam diri atas apa yang nampak.
Sempat terpisah, terjebak dan tak mengerti.
Kita pernah ragu, kita pernah mundur.
Kita pernah membuang-buang waktu.
Kini sorot matamu seperti pandanganku,
Menelusuri syair kalbu yang pernah lara.
Aku lelaki biasa, tapi aku meniatkanmu.
Lihatlah indah pada dirimu seindah mata hatiku melihatmu.
Aku lelaki biasa, tapi rindu t'lah membawaku.
Ku tunjukkan betapa dalam arti senyum kecilmu itu.
M. Nurul Hidayat
5 Januari 2019
No comments:
Post a Comment