Sunday, March 15, 2020

Senandung Penghabisan Gelap

Dalam media jiwa,
Ku hadirkan segenap ketiadaan.
Mengundang ilusi, merangkai imaji,
Semoga senyum itu mengakhiri.

Hidup ini sudah terlalu terjal berliku.
Mari kita saling menopang.
Sekian percakapan penuh keluhuran jiwa,
Isyarat kasih mesra berestetika...

Abadikan percakapan kita.
Yang dikutip bukanlah kata.
Yang dirangkum bukan bahasa.
Namun rasa di balik setiap pandang.

Simaklah satu hati bergumam:
"Jadilah pembeda dunia, singgasana bertabur aneka bunga tempat letih dan rindu akrab bermuara. Walau semerbak di sana melambai menggoda, engkaulah pulangku yang senantiasa".

Seraya tegas hatimu membalas:
"Jadilah jawaban di tengah udara yang bungkam. Teristimewa bersama malam yang pekat menghitam. Walau pahit dunia menentang, kita berlabuh di hamparan keabadian".

Karena kesunyian ini mencarimu.
Karena senyum itu memanggilku.
Tiada bosan s'makin ku pandang.
Sehingga hari menjelang peraduan.

Sebelum kau hidup di nafasku...
Sebelum larut menikmati arti berdua...
Menyelamlah wahai permaisuri.
Kedalaman palung rindu lirih memanggil.

Ku tak pernah merasa terlambat...
Bila ku simak isyarat penantianmu...
Berkecamuk bersama tanya.
Bergemuruh berkawan hampa

M. Nurul Hidayat
16 Maret 2020

No comments:

Post a Comment