Selamat datang di ruang hatiku...
Yang lama lusuh terbengkalai...
Perhatikan setiap sudutnya...
T'lah jadi rumah seribu luka...
Kenalilah aku, kekasih...
Sebenar-benarnya mata hatimu...
Bila mantap sudah langkah besar itu...
Katakanlah s'lamat tinggal kepada hari kemarin...
Lembut sentuhanmu t'lah menyampaikan bahasa jiwamu...
Saat tak sanggup kau tatap kedua mata ini...
Ku menangkap secarik pesan kasihmu...
Maukah jadi terakhirku?
Maukah mengiringi hembus usiaku?
Mengundang semerbak malam biru...
Di palung misteri takdir...
Seperti langit yang memayungi seribu nafas...
Curahkan nuansa kehidupan...
Kekasihku yang baik...
Perkenalkan akalku pada setia...
Manakala gemerlap dunia memikatmu...
Setinggi-tinggi namamu...
Pamerkanlah nilaimu...
Sebesar cita yang memburu...
Redupkan bias kelabu...
Friday, November 25, 2016
Setidaknya
Setidaknya aku tak pernah meminta...
Ku jaga kemurnian hati ini... Meski akalku memaksaku mengubur bayangmu dalam-dalam.
Tak pernah ku memaksamu hadir saat ku butuh...
Ku sekedar memaksamu untuk mengusap air mata itu... Air mata yang membasahi pipimu saat kau ingat aku...
Duniamu dipenuhi seribu goda... Aku sadar itu...
Aku tak pernah merasa bersaing,menang atau terkalahkan...
Yang ku rasa hanyalah hati ini untukmu...
Betapapun harus ku taklukkan semua yang menghiba akan penerimaanmu...
Yang ku tahu Tuhan t'lah selesai dengan takdirnya untukku...
Aku tenggelam memantaskan diri...
Bila hendak ku jadi pemimpin dan pembimbingmu...
Bukan dalam janji romantis yang melelehkan bathinmu sementara waktu...
Tapi inginku persembahkan ikrar suci bila ada umur dan restu...
Aku tenggelam demi senyummu...
Dalam jarak dalam tempat yang tak pernah ku tahu...
Sebab bagaimana lagi sanggup ku uraikan perasaan ini...
Aku t'lah jatuh dalam pasrah...
Bukan gagal dan menyerah...
Melainkan ku titip namamu atas nama bahagia...
Walau mungkin kini terhapus sudah namaku di hatimu...
Pabila Kau Berkenan
Sudahlah...
Akan ku bangun istana kecil ini...
Tempat penghabisan sisa hidup kita nanti.
Pabila kau kan berkenan...
Kan ku ketuk pintu ayah ibumu...
Meminta halal tuk memuliakanmu...
Menjadi air mata dan senyummu...
Tempat kau bersandar habiskan hidup...
Apalagi yang dapat ku katakan?.
Sesungguhnya akulah si keras kepala.
Pun aku ini yang mudah berpaling sekejap mata.
Namun bila wajahmu t'lah lancangnya meredupkan egoku.
Juga pancaran kilau matamu melunakkan binalnya hasratku.
Maka jadilah aku seperti yang s'lalu kau lihat.
Yang tak pernah sebelumnya seperti demikian.
Entah...
Aku pernah pula terhunus tajamnya belati.
Ketika perih itu meluapkan separuh darah di tubuh ini.
Aku terhempas bagai tak berdaya...
Oleh luka yang dapat ku obati sendiri sehingga tak berbekas.
Tetapi kali ini izinkanlah...
Izinkanlah hati yang lemah ini mengikuti kebenaran...
Sebab bagaimana lagi...
Lisanku t'lah terkunci.
Kedua tanganku terbelenggu.
Kedua kakiku lumpuh kaku...
Namun hatiku hidup untukmu...
Namun hatiku hidup untukmu...
Kau di Hati
Kau di hati
Kadang tak diambil hati.
Terang itu adakah berwarna kini?.
Tinggal sendiri ku menari...
Kaulah putih.
Akankah lekat di di bingkai riwayatku?.
Aku bergulat dengan bayanganku.
Membersihkan sudut hati yang berkarat.
Rapuhku berlagak.
Tetaplah menari-nari.
Bahagiaku seperti mimpi.
Ku abadikan senyum ini.
Ku rekam secuplik indahmu.
Ku sisihkan separuh waktu.
Ku tepis kelamnya ragu.
Sungguh...
Aku digoda gemerlap sana-sini...
Tawarkan sekecup hasrat.
Jerat nikmat terlaknat.
Melirik penuh isyarat.
Memandangi penuh harap,
Oh...Takkan pernah menggantikanmu.
Ya...Takkan pernah menggantikanmu!.
Sebab hati ini menujumu.
Dalam rahasia hatimu...
Sebab hati ini merangkulmu...
Dalam redup cahayaku...
Bila Terang...
Bila terang belum tentu cahaya...
Bila semerbak belum tentu aroma...
Bersiaplah untuk luka yang biasa...
Yang telah kau reguk seperti susu di pagi hari...
Biar kau melangkah lebih terarah...
Kemudian bekerja dan bekerja...
Sehingga diri bertemu diri...
Lalu kau akan menyerah di kehadiratNya...
Mohon ampun atas segala tingkah yang sok tahu...
Kaupun akan terdiam saja sebab apalagi yang mesti dibahas...
Kecuali kau yang dungu atas tamparan-tamparan waktu...
Tak kunjung cerahkanmu...
Maka matilah engkau terkubur malu...
Sebelum bangkit memanggul harapan...
Bila semerbak belum tentu aroma...
Bersiaplah untuk luka yang biasa...
Yang telah kau reguk seperti susu di pagi hari...
Biar kau melangkah lebih terarah...
Kemudian bekerja dan bekerja...
Sehingga diri bertemu diri...
Lalu kau akan menyerah di kehadiratNya...
Mohon ampun atas segala tingkah yang sok tahu...
Kaupun akan terdiam saja sebab apalagi yang mesti dibahas...
Kecuali kau yang dungu atas tamparan-tamparan waktu...
Tak kunjung cerahkanmu...
Maka matilah engkau terkubur malu...
Sebelum bangkit memanggul harapan...
Tuesday, November 22, 2016
Denganmu...
Denganmu ku tak ingin gagal...
Meski langit runtuh menerpa dinding hati...
Adakah kau mendengarku?...
Sayup-sayup suara nafas penghabisan...
Manakala kau telusuri lorong itu...
Manakala malam t'lah membiru...
Perhatikan ke dalam jiwamu...
Larut oleh pertanyaan...
Tumbuh bersama penerimaan...
Hanyalah aku ini...
Memahami hingga ke urat nadimu...
Aku duniamu...
Dunia kau beredar dan terlepas...
Seperti taman tanpa batas...
Sebab lain detik lain cerita...
Mudah itu adalah sulit...
Pada jiwa yang tercabik...
Tunjukkan sisi lain ternikmati...
Aku tinggalah tulang belulang...
Habis digerogoti rimba nan kejam...
Mencari arti... Menjamah mimpi...
Coba menjangkau garis cahaya di mata indahmu...
Bukanlah cinta kepuasan sebelah jiwa...
Tanggung jawab sebagai pertanda hadirnya....
Tiada batas atas segala balas sejatinya...
Senantiasa bersemayam di keabadian...
Mendekatlah kini...
Biar ku ajari kau bercinta...
Merintihlah terhimpit rasa...
Seketika terbahak-bahak di penghujung akal sehat...
Mendekatlah lagi...
Biarkanlah aku menjadi lelakimu...
Bukakan jalan di atas niat suci...
Takdir takkanlah berganti...
Betapapun semesta berguncang
Setiap ku sedikit melupakanmu...
Friday, November 11, 2016
Menulis Lagi...
Menulis lagi...
Dari pengap jeruji ini...
Berceloteh dengan khayal...
Sambil menunggu waktu tak bertepi...
Tahukah duhai buah fikiranku...
Terkadang aku bertanya...
Apakah memang cinta yang benar...
Yang meredupkan gairah ku bertamasya...
Di saat ku diliputi keharuman bunga-bunga lainnya...
Manakala wajahnya masuk ke relung mimpi...
Seperti melawan hari, seperti menahan ku melarikan diri...
Tamparlah aku bila berbohong...
Sebentar lagipun jasadku membeku...
Tetapi jantung ini berdegup...
Senandung namamu merajaiku...
Mungkinkah kau membuang muka?
Biar ku tuntaskan satu satu...
Lengkah demi langkah semoga bermuara padamu...
Sudikah kau bagi hari esokmu, duhai cahayaku?
Relakan sisa hidupmu,duhai cahayaku...
Adakah kau rasa dalamnya kerinduan ini...
Aku tak kuasa ungkapkan lagi...
Saturday, November 05, 2016
Mawar Surgawi
Merah itu...
Semerbak di taman ilusi...
Membuai sukmaku yang putih...
Kau sepucuk mawar surgawi...
Duhai bunga cahaya...
Teristimewa kan jumpa teristimewa pula...
Cara bukan di logika...
Pernah ku katakan ku adalah dirimu juga...
Seperti seluruh bukan separuh jiwa...
Sekejap melekat...
Pun kini kau berjarak...
Senyum ini tuk bahagiamu...
Do'anya gelap tersembunyi...
Di antara rintik hujan sendiriku...
Tersimpul secarik angan mendayu...
Tentang sayu tatap matamu...
Sontak menikam sadarku...
Kendati bathinku sempit dan terhimpit...
Tak ingin tergorespun noda hitam antara berdua...
Sebab hendak ku cinta...
Hendak ku sungguhkan seluruh jiwa...
Jangan todongkan belati demi seucap kata dariku...
Atau sekeranjang candu melambungkanku...
Aku cintai engkau begini saja...
T'lah banyak lagi terlalu salah...
Ingin namaku kan abadi...
Walau keabadian memanggil namaku...
Ku lukis wajahmu...
Dengan kebodohan-kebodohan ini...
Kosong itu tak bernyawa lagi...
Semerbak di taman ilusi...
Membuai sukmaku yang putih...
Kau sepucuk mawar surgawi...
Duhai bunga cahaya...
Teristimewa kan jumpa teristimewa pula...
Cara bukan di logika...
Pernah ku katakan ku adalah dirimu juga...
Seperti seluruh bukan separuh jiwa...
Sekejap melekat...
Pun kini kau berjarak...
Senyum ini tuk bahagiamu...
Do'anya gelap tersembunyi...
Di antara rintik hujan sendiriku...
Tersimpul secarik angan mendayu...
Tentang sayu tatap matamu...
Sontak menikam sadarku...
Kendati bathinku sempit dan terhimpit...
Tak ingin tergorespun noda hitam antara berdua...
Sebab hendak ku cinta...
Hendak ku sungguhkan seluruh jiwa...
Jangan todongkan belati demi seucap kata dariku...
Atau sekeranjang candu melambungkanku...
Aku cintai engkau begini saja...
T'lah banyak lagi terlalu salah...
Ingin namaku kan abadi...
Walau keabadian memanggil namaku...
Ku lukis wajahmu...
Dengan kebodohan-kebodohan ini...
Kosong itu tak bernyawa lagi...
Subscribe to:
Comments (Atom)







