Friday, November 25, 2016

Pabila Kau Berkenan

Sudahlah... Akan ku bangun istana kecil ini... Tempat penghabisan sisa hidup kita nanti. Pabila kau kan berkenan... Kan ku ketuk pintu ayah ibumu... Meminta halal tuk memuliakanmu... Menjadi air mata dan senyummu... Tempat kau bersandar habiskan hidup... Apalagi yang dapat ku katakan?. Sesungguhnya akulah si keras kepala. Pun aku ini yang mudah berpaling sekejap mata. Namun bila wajahmu t'lah lancangnya meredupkan egoku. Juga pancaran kilau matamu melunakkan binalnya hasratku. Maka jadilah aku seperti yang s'lalu kau lihat. Yang tak pernah sebelumnya seperti demikian. Entah... Aku pernah pula terhunus tajamnya belati. Ketika perih itu meluapkan separuh darah di tubuh ini. Aku terhempas bagai tak berdaya... Oleh luka yang dapat ku obati sendiri sehingga tak berbekas. Tetapi kali ini izinkanlah... Izinkanlah hati yang lemah ini mengikuti kebenaran... Sebab bagaimana lagi... Lisanku t'lah terkunci. Kedua tanganku terbelenggu. Kedua kakiku lumpuh kaku... Namun hatiku hidup untukmu... Namun hatiku hidup untukmu...

No comments:

Post a Comment