Saturday, April 27, 2019

Langit Perjumpaan

Ku pergi takkan menjauh.
Ku diam takkan menghilang.
Senantiasa mengetuk relung kejujurannya.
Adakah namaku dalam sunyinya.

Masih ada debaran ini tiap tatapan jarak jauh.
Dia sibuk mendewasakan diri di dalam patuh.
Gemuruhnya jiwaku teramat sungguh.
Menyulam rapuh, menyelam keruh.

Ku pergi takkan menjauh.
Ku diam takkan menghilang.
Megaku menaunginya jua.
Salam-salam rinduku mulia.

Aku ingin bernafas di pagi esok.
Melanjutkan sehelai pengharapan elok ku sulam.
Menunaikan puisi hari di bingkai cahaya wajah itu.
Mentasbihkan atribut penghias manis senyum itu.

Aku mendambanya sungguh lantang suaraku.
Berseloroh dengan semesta teramat asyik narasiku.
Sampailah aku sebagai pelaku keajaiban.
Bila tiba takdirku menyentuh langit perjumpaan.

M. Nurul Hidayat
28 April 2019

Thursday, April 25, 2019

Dirty Beloved

All unexpressable goes beyond language,
For humbly we are the fools of limitation.
Dream of lovers to be mingling within Thy Territory,
Interweaving inwards and Thy Purpose shall become a way of bestowal.

After bondage of lust...
Hurly burly of rush endless looking.
The sinners of Thy Knowledge,
Wrestle at where of none seeing.

The traces will give life to the deeds,
That of why driven along the path.
they'd love to fall for the absolute.
Ye know best the journey not to despair.

Dwellings i remain at,
Values worth fighting for,
As conscious as the remnant of hope i still possess,
Nothing quake will shake...

M. Nurul Hidayat
April 19th, 2019

Larut

Aku mencarimu di riuh belantara kata,
Tak ku tangkap sahut suaramu.
Lalu aku melacakmu dalam gemuruh hasrat diri,
Tak jua nampak sinar wajahmu.
Berkali lelah ku gagal menemukanmu.
Ternyata kau bersembunyi di balik bayanganku sendiri.

Kau merajut hari demi hari selembut sentuhan sutera putih,
Namun tiada kau menambal sunyi yang ku tanggung tergopoh-gopoh.

Aku mencintaimu polos dan telanjang.
Remang-remang malam larut beriringan.
Bagaimana caranya merapihkan puing jiwaku,
Agar tak nampak gusar mencumbu indahmu.

Aku ini takdir sebuah kehadiran.
Kamu itu garis lengkung senyum yang menikam.
Izin ku bawa serta prasangka dan curiga.
Ku hempas jauh ke sudut semestinya.

Kaulah separuh kesempurnaanku.
Sebab sedetik senyummu menutup seabad rapuhku.
Sandarkan hari-hari fantasimu,
Berpetualang bersamaku.

Muhammad Nurul Hidayat
24 April 2019

Thursday, April 18, 2019

Dirty Beloved

The unexpressable goes beyond language,
For humbly we are the fools of limitation.
Dream of lovers to be mingling within Thy Territory, interweaving inwards and Thy Purpose shall become a way of bestowal.

After bondage of lust...
Hurly burly of rush endless looking.
The sinners of Thy Knowledge,
Wrestle at where of none seeing.

The traces will give life to the deeds,
That of why driven along the path.
they'd love to fall for the absolute.
Ye know best the journey not to despair.

Dwellings i remain at,
Values worth fighting for,
As conscious as the remnant of hope i still possess,
Nothing quake will shake...

M. Nurul Hidayat
April 19th, 2019

Wednesday, April 17, 2019

Melepasmu

Melepasmu...
Mungkin itulah puncak ketinggian cintaku.
Rasakan rasaku menyusup di senyap dan ramaimu.
Demi hasrat yang berjarak, biarlah aku lekang bilapun mesti.
Semoga kau menghirup nafas-nafas rinduku yang sendu kini.

Melepasmu...
Mungkin itulah terjemah cahaya jiwa.
Di antara gejolak yang mengendarai pembenaran.
Aku, kamu akan mengukir awal keabadian.
Lepas, lepaskanlah kekasih, kawan temaram.

Semoga sekejap kau mengingatku...
Langkahku menyusuri api dan duri.
Suaraku parau ditikam sunyi.
Namun jangan temaniku,
Di hadapmu ada cita nan menggelora.

Jalanmu wajib bahagia, kekasih...
Bagi-bagikan aku ceriamu.
Perjuanganku biar membara di sini.
Kepadamu jua berpulang hati.

M. Nurul Hidayat
17 April 2019

Tuesday, April 16, 2019

Intisari

Kau intisari...
Pelbagai dinamika tak berujung.
Kasihmu tepian akhir pencarian.
Kasihmu ujung juga penghabisan.

Aura wajahmu adalah kisi-kisi masa depanku,
Akan berkesimpulan di ujung ujianku.
Dalam ruang ilmu kehidupan hati,
Kaulah sabda keheningan...
Penyucian juga penantian...

Cerita tentangmu telah bocor di kalangan penduduk langit,
Semenjak namamu menyesaki malam malam yang biru.
Jiwaku khidmat dirantai rindu,
Rindu yang ku langitkan kepalang tanggung.

Bolehkah selalu ku penuhi warnamu?
Bolehkah kau raih peluk penghabisanku?
Lalu tenggelamlah di kedua bola mataku.
Sebelum waktuku berlalu,
Sebelum segala lemah mencegahku.

Perkenankan tubuhku mendekapmu selamanya...
Meski tak sanggup menghalang maut yang niscaya.
Hempas segala kerontangnya jiwa dan dahaganya mata.
Bila kasih t'lah terungkap dari tirai rahasia.

Jadilah kelengkapan untuk sisa perjalananku.
Mengarungi deru dan haru,
Menyaksikan setia yang terperaga,
Menuai kejujuran yang dibela-bela.

Aku menahan pahit perih nan bergumul.
Luka bernanah berabad berkumpul.
Kaulah segala demi segala untuk,
Segala atas nama yang ku bentuk.

Muhammad Nurul Hidayat
16 April 2019

Saturday, April 13, 2019

Lewat Doa

Lewat doa sederhana ini...
Ku beranikan diri mencintaimu dalam diam.
Untuk kesehatan, senyum dan hari-hari cerahmu,
Ku lampirkan seutas munajat yang lugu.

Lewat sajak murahan ini...
Ku bercerita kepada langit malamku yang tertawa lirih.
Manakala ku sebut namamu seperti selalu.
Manakala suaramu terbata dan membeku.

Ku habiskan waktuku mencintaimu,
Pagi, siang, sore, malamku.
Walau aku kini jauh tersisih,
Di tepian asing yang tak kau peduli.

Tapi ku tak pernah lupa...
Aku ini hamba...
Apalah artinya cita tanpa izinNya.
Sedangkan segenap do'a berselimut kebodohan fana.
Warna takdir tersurat di ruang rahasia.

Aku ingin menemukan bidadariku di ujung do'a...
Entah dia entah siapa.
Sebab segala gerakku digerakkan.
Pun segala munajatku dimunajatkan.

Duhai dunia...
Pasanglah segenap matamu sempurna.
Biar kau saksikan kemenangan atau kegagalanku di hari kelak.
Berpasrahku ini bukanlah lemah.
Di dalam pasrah, ku himpun langkah.

M. Nurul Hidayat
13 April 2019

Wednesday, April 10, 2019

Keindahan

Kan ku simpan wajahmu...
Dalam lipatan do'a yang hangat tiada terburu.
Meski lengkung senyum itu sempat terhalang,
Rupamu tetap seindah-indah penciptaan.

Omong kosong bila ku untai puji-pujian atas indahmu,
Sebab hatiku bukanlah jatuh di situ.
Ia hanya pelengkap syukurku dalam sekejap detik ku tengok raut wajah itu.
Wajah mimpi-mimpiku...

Sebait rindu yang mengalir,
Mungkin tak pernah kau reguk di sana.
Tak mengapa indahmu kan tetap ku damba.
Melawan bengisnya jarak raga...
Memuja yakin senjata jiwa...

Kau yang dititipi keindahan...
Bolehkah jua hamba miliki?.
Hamba takkan bersimpuh meminta.
Hamba meretas jalan mulia.

Wahai manifestasi mahakarya ilahi...
Maaf hamba tak pandai berpujangga di hadapanmu.
Hamba cuma selarik majas yang membuntuti gerakmu.
Seraya membawa keabadian rindu.

M. Nurul Hidayat
11 April 2019

Saturday, April 06, 2019

Someday

"Someday will be no same days. You shall talk to the heaven, the sheer magnificence. Throughout the confusion days spinning around, you'll find the concluding bliss wrapped up."

Then i ponder,
Blessings of wonder
Any bigger than the worries of foolish.
I feel like dancing over my sanity.

If i feel my pitch dark witching hour.
Sure to believe my revealing power.
Gonna start earlier.
Then someday is today.

Should circumstance goes blank in wisdom.
Sure will the soul alter for self-independence.
For nobody to confide in soulful whisper.
So i qoute my own affirmation.

Cherish o cherish upcoming cheers.
Come deeply inside of shattered fears.
Never skip yourself giving loveliness touch,
Nobody knows you need the most.

Cherish o cherish my someday of luck.
Gain the self-dignity for which you leave.
Not the ego of your hiding place.
Not the negligence of your guilty face.

M. Nurul Hidayat
April 7th, 2019



Mencarimu

Aku mencarimu,
Mungkin dalam gelapnya akal sehatku.
Setapak sehasta kegelapan,
Ku maknai tanpa petunjuk cahaya.

Aku lolong menerka.
Lusuh awam membuta.
Dihujani riuh gemuruh terus lurus mengejar sewujud tanda tanya.
Ku terabas batas, ku membekas dalam hempas.
Adakah aku ampas?
Adakah terlepas?

Aku mencarimu.
Kau samarkan raut senyuman itu.
Dengan apa aku harus bertemu?
Kepada siapa langkah rindu bertamu?

Masih mencarimu.
Mungkin maut mendahuluiku.
Ku amanatkan pesan kasihku teristimewa.
Bilapun sampai kepadamu.

Tetap mencarimu.
Mungkin pamit mendahuluiku.
Gerak langkah juga curahanku.
Mulialah kelanjutan jalanmu.
Seluas itulah hamparan rinduku.

M. Nurul Hidayat
7 April 2019

Thursday, April 04, 2019

In The Silence

I seek you in the silence,
In the rising melody of such broken song.
This is what i am holding back,
When all smiling paths are invisible to track.

For the careful touch.
For all disclosed in front of your sense.
Here i'm coming in nothing,
Picking you up into sweetness of your will.

Wandering around questions.
Since hesitancy in prison.
The beauty of my eyes stays in my concern.

Escort me to your garden of thousand hidden.
i'm officially paraliyzed for seeing you.
Still trying to make you mind,
Love never goes blind.

M. Nurul Hidayat
April 5th, 2019