Lewat doa sederhana ini...
Ku beranikan diri mencintaimu dalam diam.
Untuk kesehatan, senyum dan hari-hari cerahmu,
Ku lampirkan seutas munajat yang lugu.
Lewat sajak murahan ini...
Ku bercerita kepada langit malamku yang tertawa lirih.
Manakala ku sebut namamu seperti selalu.
Manakala suaramu terbata dan membeku.
Ku habiskan waktuku mencintaimu,
Pagi, siang, sore, malamku.
Walau aku kini jauh tersisih,
Di tepian asing yang tak kau peduli.
Tapi ku tak pernah lupa...
Aku ini hamba...
Apalah artinya cita tanpa izinNya.
Sedangkan segenap do'a berselimut kebodohan fana.
Warna takdir tersurat di ruang rahasia.
Aku ingin menemukan bidadariku di ujung do'a...
Entah dia entah siapa.
Sebab segala gerakku digerakkan.
Pun segala munajatku dimunajatkan.
Duhai dunia...
Pasanglah segenap matamu sempurna.
Biar kau saksikan kemenangan atau kegagalanku di hari kelak.
Berpasrahku ini bukanlah lemah.
Di dalam pasrah, ku himpun langkah.
M. Nurul Hidayat
13 April 2019
Ku beranikan diri mencintaimu dalam diam.
Untuk kesehatan, senyum dan hari-hari cerahmu,
Ku lampirkan seutas munajat yang lugu.
Lewat sajak murahan ini...
Ku bercerita kepada langit malamku yang tertawa lirih.
Manakala ku sebut namamu seperti selalu.
Manakala suaramu terbata dan membeku.
Ku habiskan waktuku mencintaimu,
Pagi, siang, sore, malamku.
Walau aku kini jauh tersisih,
Di tepian asing yang tak kau peduli.
Tapi ku tak pernah lupa...
Aku ini hamba...
Apalah artinya cita tanpa izinNya.
Sedangkan segenap do'a berselimut kebodohan fana.
Warna takdir tersurat di ruang rahasia.
Aku ingin menemukan bidadariku di ujung do'a...
Entah dia entah siapa.
Sebab segala gerakku digerakkan.
Pun segala munajatku dimunajatkan.
Duhai dunia...
Pasanglah segenap matamu sempurna.
Biar kau saksikan kemenangan atau kegagalanku di hari kelak.
Berpasrahku ini bukanlah lemah.
Di dalam pasrah, ku himpun langkah.
M. Nurul Hidayat
13 April 2019
No comments:
Post a Comment