Aku mencarimu di riuh belantara kata,
Tak ku tangkap sahut suaramu.
Lalu aku melacakmu dalam gemuruh hasrat diri,
Tak jua nampak sinar wajahmu.
Berkali lelah ku gagal menemukanmu.
Ternyata kau bersembunyi di balik bayanganku sendiri.
Kau merajut hari demi hari selembut sentuhan sutera putih,
Namun tiada kau menambal sunyi yang ku tanggung tergopoh-gopoh.
Aku mencintaimu polos dan telanjang.
Remang-remang malam larut beriringan.
Bagaimana caranya merapihkan puing jiwaku,
Agar tak nampak gusar mencumbu indahmu.
Aku ini takdir sebuah kehadiran.
Kamu itu garis lengkung senyum yang menikam.
Izin ku bawa serta prasangka dan curiga.
Ku hempas jauh ke sudut semestinya.
Kaulah separuh kesempurnaanku.
Sebab sedetik senyummu menutup seabad rapuhku.
Sandarkan hari-hari fantasimu,
Berpetualang bersamaku.
Muhammad Nurul Hidayat
24 April 2019
Tak ku tangkap sahut suaramu.
Lalu aku melacakmu dalam gemuruh hasrat diri,
Tak jua nampak sinar wajahmu.
Berkali lelah ku gagal menemukanmu.
Ternyata kau bersembunyi di balik bayanganku sendiri.
Kau merajut hari demi hari selembut sentuhan sutera putih,
Namun tiada kau menambal sunyi yang ku tanggung tergopoh-gopoh.
Aku mencintaimu polos dan telanjang.
Remang-remang malam larut beriringan.
Bagaimana caranya merapihkan puing jiwaku,
Agar tak nampak gusar mencumbu indahmu.
Aku ini takdir sebuah kehadiran.
Kamu itu garis lengkung senyum yang menikam.
Izin ku bawa serta prasangka dan curiga.
Ku hempas jauh ke sudut semestinya.
Kaulah separuh kesempurnaanku.
Sebab sedetik senyummu menutup seabad rapuhku.
Sandarkan hari-hari fantasimu,
Berpetualang bersamaku.
Muhammad Nurul Hidayat
24 April 2019
No comments:
Post a Comment