Monday, September 21, 2020

Merekam Wajahmu

Merekam wajahmu
Dengan lensa jiwaku
Sungguh sepasang pandang bola mata itu
Panorama keajaiban wujudmu

Ku yakin ku tak sendiri
Menelusuri kejujuran nurani
Walau dusta menguliti permukaan bumi
Wajahmu kuatkan ku berdiri

Pagi ini seperti ku melayang di atas awan
Sedikit leluasa ku pandangi masa depan
Merekam wajahmu beriring melodi
Lantunan tersembunyi mulai pekak berbunyi

Tersenyum saja...
Jangan kau tahan tahan
Sebab rinduku terlanjur bertahta di penghujung angkasa
Sebab malamku terlanjur larut oleh bayang-bayang bibir merahmu
Sebab hanya kepada kamu
Aku takkan pernah mau berhenti


M. Nurul Hidayat

19 September 2020

Thursday, August 06, 2020

Masih

Aku akan datang
Sekedar tuk menegaskan
Bahwa aku belum habis
Sebab setiap hembus nafas ini
Adalah affirmasi kekuatan
Tuk merengkuh dan mengabadikanmu
Sebagai titipan yang ku jaga
Senantiasa

Seperti apa warna dunia?
Bila ku gagal menemukanmu
Sementara khayalku bergerilya dalam rintih kehampaan
Mencari-cari sisa wajahku di kedalaman hatimu

Kau adalah tahun demi tahun perjuanganku
Rindu telah jadi rutinitas siang malamku
Masih syairku melayang di dinding langitmu
Tangkap dan dekaplah ku tak pernah jauh

Dalam rapuhku yang kian parah
Namamu tetap lestari terbingkai indah
Aku tak perlu percakapan yang berlarut untuk menetapkan dirimu
Satu di antara berjuta pilihan di cakrawala duniaku

Muhammad Nurul Hidayat
6 Agustus 2020

Sunday, July 12, 2020

Cahaya

Paska mendekam di balik sekat prasangka
Merangkum langkah-langkah yang dijeda
Tangan lusuh menyingkap perhiasan mata
Menapaki riwayat fatamorgana

Dalam bijaksanamu
Warna hidup telah menjelma
Duka bahagia berpadu mesra
Segala hambar adanya

Kini kau belajar menghidup-hidupi cahaya di pekat malam yang panjang.
Menyambung-nyambung harapan selaras dengan nafas yang masih bertahan
Kau terbiasa mengobati luka sendiri
Dengan ramuan sunyi yang diketam di atas bejana ilusi
Karena bahagia bukanlah ketika mereka membalas senyummu
Bukan pula ketika harta menyesaki rongga mulutmu

Ada percakapan di lingkup alam fikiranmu
Dengan frasa-frasa yang tak dibendaharakan  dunia
Ada diksi berbaris di jiwa liarmu
Menggema apabila malam kian larut

Karena seluruh pandangan akan ringan beranjak
Selembut hembus awanpun berarak sehingga lenyap
Kau bagai abadi dalam pencarian
Padahal cahayamu berpantang padam

Pula sedari itu,
Atas nama permadani semesta yang terhampar,
Dinaungi langit nirwana biru berbinar,
Kepada diri,
Katakan "aku hebat"
Kepada mereka,
Katakan "aku hina"
Kepada Tuhan,
Katakan "aku habis"

M. Nurul Hidayat
11 Juli 2020

Wednesday, May 27, 2020

Selalu

Aku masih sering melihatmu
Bermain gemerincik air di telaga itu
Melepas resah di pinggiran lamunan
Tempat segala damai dihembuskan

Hei aku di sini...
Selalu di sini...
Semoga kau membaca mataku
Aku masih padamu
Mencinta tanpa pertemuan
Merindu tanpa alasan

Izinkan ku sekedar menghidupi keyakinanku
Memberikan nyawa abadi pada kejujuran sang waktu

Sambut dan kenali siapapun sekehendakmu
Bentangkan lebar hasrat penjelajahmu
Ya...
Hingga akhirmupun menepi...
Cinta sejatimu di sini...

Akan ku pertanggungjawabkan perasaan ini
Setinggi-tingginya kehormatan lelaki sejati
Sebab teringin ku bernyanyi denganmu
Di setiap malam yang kita miliki

Maka bila umur menyampaikan segala hasrat
Hingga tiba khidmat yang tersurat
Maka jadilah pengisi
Jangan cuma jadi puisi

M. Nurul Hidayat
27 Mei 2020

Sunday, April 12, 2020

Kisi-Kisi Pertemuan

Kisi-kisi pertemuan...
Dialah mata yang menikam perlahan.
Memandangi aku bertelanjang kejujuran.
Kemana harap ku langitkan...
Dimana ego terbungkam...

Dia lahir di atas tangan kesucian.
Seiring kembalinya senandung mewah kesetiaan.
Aku terpana menelusuri aliran kasihnya.
Bermuara di palung mimpi...
Penghabisan akal sehatku...

Kisi-kisi pertemuan...
Dialah perwujudan cinta yang membungkam sejuta bahasa.
Dia adalah jawaban yang dikirim oleh senja.
Persiapan malam yang hangat dalam perapian...
Untuk satu peluk berkepanjangan...

Laksana jalan terang mengurai lampau.
Dia tegas merangkum nilai-nilai ketulusan.
Sementara aku menggoreskan sebait ikhtisar.
Berceloteh dengan pena hitamku...
Jemari kian mengharu biru...

Aku dan kisi-kisi itu...
Bercerita hampir di segala waktu.
Bukan menunggu, bukan memburu,
Sekedar saling meneduhkan rindu.

M. Nurul Hidayat
12 April 2020

Friday, March 20, 2020

Melody of Life

Dear my whole emptiness inside,
i'd mind splashing my elegiac melody of life. Been through the crowd, proselytizing the genuiness of conscious, then get into the stop of such unsatisfaction.

Life is boldly unrewindable. then i pondered like being about to catch myself above the high, parading lunatic dance like a missguided soul. I was wild and grumble to live a life of nothingness.
I dressed up behind the scenario as the hilarity was profoundly well-adjusted. i knew that the shine had been so much fading away.

For those i dearly fork over my insanity,
I thank you for having bear with me, and for being ones not to be separated from eagerness at all hardship and ease. I am a man in the middle of questions yet i believe the bright awaits, The spark counts on...

M. Nurul Hidayat
March 8th, 2020

Sunday, March 15, 2020

Senandung Penghabisan Gelap

Dalam media jiwa,
Ku hadirkan segenap ketiadaan.
Mengundang ilusi, merangkai imaji,
Semoga senyum itu mengakhiri.

Hidup ini sudah terlalu terjal berliku.
Mari kita saling menopang.
Sekian percakapan penuh keluhuran jiwa,
Isyarat kasih mesra berestetika...

Abadikan percakapan kita.
Yang dikutip bukanlah kata.
Yang dirangkum bukan bahasa.
Namun rasa di balik setiap pandang.

Simaklah satu hati bergumam:
"Jadilah pembeda dunia, singgasana bertabur aneka bunga tempat letih dan rindu akrab bermuara. Walau semerbak di sana melambai menggoda, engkaulah pulangku yang senantiasa".

Seraya tegas hatimu membalas:
"Jadilah jawaban di tengah udara yang bungkam. Teristimewa bersama malam yang pekat menghitam. Walau pahit dunia menentang, kita berlabuh di hamparan keabadian".

Karena kesunyian ini mencarimu.
Karena senyum itu memanggilku.
Tiada bosan s'makin ku pandang.
Sehingga hari menjelang peraduan.

Sebelum kau hidup di nafasku...
Sebelum larut menikmati arti berdua...
Menyelamlah wahai permaisuri.
Kedalaman palung rindu lirih memanggil.

Ku tak pernah merasa terlambat...
Bila ku simak isyarat penantianmu...
Berkecamuk bersama tanya.
Bergemuruh berkawan hampa

M. Nurul Hidayat
16 Maret 2020

Sunday, January 26, 2020

Balada Sang Pendatang

Hatiku bergetar.
menyusuri jalan itu.
Ku berjudi yang tiada merugi.
mengkonfirmasi sunyi sebagian maksud hati.

Degup jantung kian memburu.
Semakin mendekat seperti menjemput mimpi.
Ya... lumayan banyak yang berbeda.
Nanti ku coba lagi.

Langkahku seperti tertahan di atas awan.
mengambang.
Terus ku paksa ku ayunkan.
Dikawal semerbak seperti ku kenal.

Mengetuk-ngetuk khayalan.
Memanggil-manggil harapan.
mengisyaratkan ancang-ancang persiapan.
Sesuatu besar di hadapan.

Aku seperti  penghuni yang abadi.
Jelas betul setiap jengkal ku resapi.
Ada siang yang menangkap.
Ada malam yang mendekap.
Ada rindu yang ku titip di sela-sela jendela depan.

M. Nurul Hidayat
26 Januari 2020

Saturday, January 04, 2020

Salam

Ada salam kagum dari kejauhan.
Melambai indah hingga penghujung pantai.
Menembus ombak yang beringas.
Nyanyian malam yang terlepas.

Mataku menyimpan wajahmu,
Seluas hamparan jalan perjuangan.
Telingaku memutar suaramu,
Menerobos pekak bising duniawi.

Rahasiakan pesonamu.
Pada titik-titik gerimis yang menerpa kemarau.
Sungguh tiada seteduh wajahmu.
Tempat kembaliku menceritakan kejujuran.
Menemukan padanan warna jiwa yang tersendiri
Jadilah tempatku yang hakiki.

Kita laksana sepasang kekosongan.
Dalam gemuruh segenap manusia.
Mencari ke dalam diri atas apa yang nampak.
Sempat terpisah, terjebak dan tak mengerti.

Kita pernah ragu, kita pernah mundur.
Kita pernah membuang-buang waktu.
Kini sorot matamu seperti pandanganku,
Menelusuri syair kalbu yang pernah lara.

Aku lelaki biasa, tapi aku meniatkanmu.
Lihatlah indah pada dirimu seindah mata hatiku melihatmu.
Aku lelaki biasa, tapi rindu t'lah membawaku.
Ku tunjukkan betapa dalam arti senyum kecilmu itu.

M. Nurul Hidayat
5 Januari 2019