Wednesday, April 25, 2018

Rumah

Aku adalah tempat bukan dunia...
Aku adalah jiwa bukan drama...
Sebentuk rumah teduhkan panasmu...
Bila kau singgah, hangatlah hampamu...
Dalam sembunyimu juga rahasiamu...
Muara jiwa senandungkan irama tabu...
Tak terjamah dunia...
Namun ku tangkap dari kelopak indahmu...
Marilah arungi jalan...
Menuju ujung malam...
Sambutlah terang benderang...
Tanpa harus bergandengan...
Malam akan menjelang pagi...
Rumahpun melambai di pelupuk mata...
Ikrarlah bintang pembimbing langkah...
Sematkan yakin tiada patah...


Bila...

Yang ku damba sungguh bukan dia
Pada ketinggian angkasa raya...
Dialah kali pertamaku...
Tertatih tuk mengerti...
Dalam getir ku berdiri...
Ego terbiasa meraja...
Bertahtakan dingin bahasa...
Tersungkur lumpuh menerima...
Akankah gelap bercahaya?
Bila ia hadir di sisi yang lain...
Bila menyentuh lampauku...
Niscaya membeku segalaku...
Takkan menghujam kenanganku...
Bila cinta menikamnya...
Mematikan pelik warnanya...
Niscaya kan mencari-cari...
Keberadaan yang ditiadakan...

Menang

Waktu kan memanggil sadarnya pada poros lukaku...
T'lah terlalu meninggikannya...
Merebak hening pengertian...
Dalam nilai yang setara...
Lara tak terdengar...
Lirih yang memudar...
Terangkum bersama pergulatanku menyisih...
Selayak-layaknya tempat menatap...
Ke dalam diri hilang harap...
Takkan ku mencela...
Cerita bukan prasangka...
Biarkanlah hidup menata reruntuhan kecewa...
Bonus utama atas usaha memuja citra...
Yang lepaskan jiwa pada jiwa...
Mencari di ketiadaan...
Memapah di kekosongan...
Rayakanlah sendiri lewat seteguk keinsyafan...
Tak setetespun asa berpihak di ketulusan...
Namun ketulusan s'lalu menang...
Jangan hendak berpulang jiwa...
Seindah-indah jebakan fana...
Susahkan keliling dunia...
Menyasar arah tanda tanya...

Muhammad Nurul Hidayat

Secuil Tawa

Adakah tempat?
Di sudut kecil jiwa itu...
Untuk wajahku yang tersisih...
Untuk langkahku yang tertatih...
Adakah sisa senyuman?
Bila umur masih terbangkanku...
Setinggi alam nirwananya...
Secuil tawa yang pudar pada mata...
Dia mimpiku...
Dalam dua dimensi dunia...
Telah ku kabarkan semua...
Lewat s'luruh media sukma...
Dan terdampar...
Di tepian lembar khayal...
Ku gores perlahan sehingga semutpun tak mengacuhkan...
Di kesunyian, menari gemulai ku...
Di keindahan itu, menghisap belenggu...
Kalau saja ku rancang mimpi...
Selaras lembaran yang ku isi...
Niscaya ku rekam canda tawa klasik...
Dari wajah bidadariku...
Sebelum aku benar-benar siap menatapnya...
Karya: M.Nurul Hidayat
22 April 2018

Mungkin

Bukanlah ku pemilik...
Tak pula ku memiliki...
Serba-serbi idaman hati...
Tuk seluruhnya merengkuhmu...
Mungkin tersingkir ku seb'lum hadir...
Bergerilya di pedalaman kalbu...
Membajak arah cahaya...
Menyusuri rimba... tertinggalkan nama...
Namaku atas pertaruhan...
Antara kemenangan dan kebuntuan...
Tersemat jiwa misteri nan lekas berganti...
Malamku kan terasing...
Siangku kan mengering...
Setandus jejak langkah ke arah itu..
Namun tetap ku jalani...
Bilakah dapat ku tengok...
Warna potretku terkini...
Setelah resiko menyentuh langit...
Menyulut mendung di musim semi...
Kenanglah tangan yang menampung air mata...
Membungkam rasa teristimewa...
Karya: Muhammad Nurul Hidayat

Thursday, April 12, 2018

Membacamu

Intailah tirai kamarku...
Saat ku terbata-bata membacamu...
Ku rekam lembaran-lembaran lirikmu...
Terurai riwayat jiwamu...

Perhatikanlah...
Ku belajar menujumu...
Dalam terik yang membakar...
Hempas terjal yang mencakar...
Bila kau baru berubah saat ku terlanjur berubah...
Mungkin kita kan jumpa dalam sejarah...
Kenanglah hari di saat kau kebumikan namaku...
Di dasar palung hatimu terdalam...
Gugur namun abadi...

Ku berdiri...
Di titik bumi yang s'lalu
sama...
mencari samar-samar suaramu...
Menjagamu dalam ketidakmampuanku...

Dari sinilah ku tatap engkau dari jauh...
Coba menangkap garis senyummu...
Mungkin inilah terbaik yang ku mampu...
Suatu hari kau kan tahu...

Muhammad Nurul Hidayat
1 April 2018