Sunday, March 31, 2019

Sabda Cinta

Jadilah dia...
Sehingga sukmamu berdansa riang,
Di keharibaan selaksa angan yang legam.

Jadilah dia barang sejenak.
Mencicipi sekuntum gairah dalam kumparan usang.
Lalu tersipu laksana bercumbu.
Berpura membelai tanpa wajahmu.

Jadilah dia.
Bertukar jiwa sekilas saja,
Menelusuri satu nama di malammu.
Biar seluruhmu tenggelam di ombaknya.
Menghujamkan risalahnya...

Mereka memang elok,
Tapi dia cuma butuh bibirmu,
Supaya terbuka jadi lawan bicara.
Ketimbang tertutup melawan bicara.

Kau lempar hanya seucap kata,
Cukup menggoncangkan persembunyiannya.
Sebab apabila telah mendarat sabda cinta dalam sempurna,
Dusta manakah kuasa menghalangi?.
Mengetuk fitrah paling hakiki.
Coba saja kau tutup jeritan hati,
Berkali dalam galau sendiri...

M. Nurul Hidayat
1 April 2019

Saturday, March 30, 2019

Sang Pendidik

Dia adalah jiwa pengabdian.
Mungkin terlupa mungkin terabaikan.
Tapi nilainya menerobos batas dimensi duniawi.
Mendekat merengkuh sejati.

Di hamparan ladang pengharapan.
Ia tanami benih cinta tiada batasan.
Biar dunia menyemai panen sejahtera di hari kemudian.
Mungkin saat ia tinggal kenangan.

Tuhan...
Tenggelamkan ia dalam samudera kebijaksanaan meski wujudnya mesti tak terlihat.
Larutkan namanya dalam harap tak terdengar di sentosa malam.
Sehingga riwayatnya kan sejahtera,
Dalam saksi do'a-do'a,
Diiringi kidung gita cinta.

Pijarkan cahaya...
Pendidik, pelayan, perantara.
Sentuhkan segenap hati kepada bakal investasi.
Sungguh tiada akan merugi.

Arahkan cahaya..
Pendidik, pelayan, perantara.
Diabadikan dalam hormat senantiasa.
Hanya bila kau membawa jiwa.

M. Nurul Hidayat
31 Maret 2019

Saturday, March 23, 2019

Wajah Tuhan

Wajah Tuhan tersebar di segala inci kasat matamu.
Kemana pandang tertuju di sana karyaNya menantang akalmu...
Mengetuk nuranimu...

Pada wajah-wajah sahabat, kerabat bahkan musuh bebuyutanmu,
Isyarat kasihNya membayang di pelupuk sadar setiap jiwa hamba.
Pada dinding waktu yang kau gores segala ragam emosimu,
Tuhan percikkan setetes samudera kasihNya demi dahaga seisi semesta.

Jangan-jangan aku larut dalam pencarian,
Sesuatu yang sejatinya di dalam aku selalu.
Serasa jauh oleh hijab nafsu.
Serasa hampa oleh syahwat dunia,
Serasa kosong oleh cita nan picik lagi dangkal,
Serasa tiada oleh kematian dalam kehidupan.

Wajah Tuhan bersemayam dalam percayamu.
Sejuk siang dan malam berjalan serupa.
Nafas yang kau bela kan terlepas semata.
Supaya kesadaran datang bagi yang ingkar.
Saat terlambat untuk segala sesal.

M. Nurul Hidayat
23 Maret 2019

Tuesday, March 19, 2019

Perkenalan

Jangan henti semangat.
Lekas-lekas laju derap.
Lekas-lekas lalu gerak.
Mari jumpa di puncak.

Demikianlah sehingga ku tandai,
Segenap saksi rinduku yang paripurna.
Jalanan gelap, udara dingin hingga ruangan pengap,
Telah semerbak melatilah di buatnya.

Ya...
Jangan beri celah ku menembus dinding langitmu.
Khawatir ku terpedaya fatamorgana nafsu.
Dari hamparan bumi yang rendah,
Ku cuma layangkan salam-salam atas namamu.
Ku jangkau keindahanmu dalam perantara mata hati
Sungguh mewah dan sucinya kehadiranmu.

Cukup dalam hening ini perkenalan berdua,
Membuatku makin yakin tuk tidak memilih selain hanya kamu.
Yakin akulah terbaik tuk membimbing dan menjagamu.
Yakin kamulah terbaik tuk melengkapi dan menguatkanku.
Sebab perkenalan ini terindah yang pernah ada di dalam kita.
dalam bungkam hingar suara.
Aku cinta...

M. Nurul Hidayat
19 Maret 2019

Sunday, March 17, 2019

You Belong The Rest

Once upon a miserable night...
Covered by dark letters of my clause.
My senses were blinded by pressure.
It seemed like an ended path.
I solely was as one reading you.

Before the mirrored image of mine,
In the stream of whole honest reflections.
Yet i couldn't hardly find my longings to fulfill,
but your simply coming.

Can i only recall your dearest shadow?
If i need you to share a little day passed.
Please, stop questioning the clarity.
At certain tip of true discovery.

Now i am coming from somewhere of destined tidings
The soul keeps moving down the pike.
If you are really the path,
Will i definitely see you with no wrath.
O girl, sent has been you here.
I madly love you as a hungry licking leech.
O girl, i am calling you with my incompleted pieces.
The rest just belongs to you.

Muhammad Nurul Hidayat
17 Maret 2019


Saling Menemukan

Hei...
Seandainyapun benar kau yang paling cintaiku.
Belum pasti kau itu jodohku.
Buat apa kita mendekat di waktu yang salah?.
Mengumbar nafsu yang dibahasakan sebagai cinta?.

Cinta yang benar itu mendekatkan kepada Sang Pemiliknya.
Bukan pemaksaan agar dicintai bertahtakan ego nan tinggi.
Izinkan ku muliakan jiwa ragamu wahai bidadari.
Iringi aku do'a supaya kuat sendiri.
Menghimpun kelayakan menapaki jalan memastikanmu.

Hei...
Mungkin saja aku cumbui kamu sehina syahwat berbalut kasih.
Serendah-rendah nilai kehormatan yang tergadai dusta.
Menempuh percuma dalam keagungan fatamorgana.
Tapi nilaimu bagiku jauh di atas itu semua.

Berpijarlah di hening munajat.
Manakala dunia terlelap terbuai gelap.
Hembuskan inginmu padaNya.
Semoga kita saling menemukan.

M. Nurul Hidayat
10 Maret 2019

Friday, March 15, 2019

Sesungguhnya

Aku mencerna esensi kehidupan,
Di antara semak belukar kerontang.
Sesungguhnya bila cinta hadir ketika kelak kau jemput.
Maka cinta itu benar adanya.
Tak peduli kepada siapa saja ia sempat singgah.

Dan kepada orang-orang...
Aku lebih suka menceritakan kekuranganku.
Bukan supaya mereka memaklumi.
Tapi semoga kekecewaan mereka berkurang...

Jiwa bertuhan takkan gentar di kesepian,
Sebab segala denyut nadinya berkawan kebersamaan.
Dan teruntuk satu arah jalan itu.
Percayalah aku menuju.

Seperti rezeki yang rahasia.
Seperti umur tiada terka.
Seperti wajahnya membayang terhadap mata.
Dekatlah ia sepertinya.

Dusta yang paling besar,
Adalah kepada jiwamu sendiri.
Sebab ialah keledai yang kau tunggangi.
Sementara medan di hadapan berisyarat tiada pasti.

M. Nurul Hidayat
16 Maret 2019

Sunday, March 10, 2019

An Obscure Rhapsody

I desire touching the essence of my being.
I pay a lot for unexplained chasm.
Exhaling the favored secrecy,
The sweetheart of running ages.

O nymph, you should awake,
By virtue of the coming light,
Sneaking into wonder,
As the point to ponder.

To one as a striking chord,
I do compose my symphony.
Looking forward to harmony.
Should all be meant to be.

I desire touching the tip of heaven.
I congregate within imagery companion.
O nymph, you better follow the line.
Let me see us heading the same.

M. Nurul Hidayat
March 5th, 2019

Saturday, March 09, 2019

Tegap

Tegaplah kamu berjalan.
Beranjak dari hangus reruntuhan sang lampau.
Memang hari depan kan kejam.
Langitkan kobaran harap laksana obor pembimbing jalan.
Berpantang-pantang menangis.
Menyusuri liku cerita, menapaki sekilas derita sebagai warna yang Tuhan celupkan sedetik masa.

Ya... Terkadang dunia memang bengis.
Di ujungnya gerbang cahayamu tersurat,
Namun penjemputannya yang tersimpan.

Yang berjuang kadangpun terbuang.
Pengujian kedalaman hati.
Namun niat yang menetap pertanda menang.
Lepas segala piciknya batasan ilusi.

Bukan diksi yang menari, menerawang sesal-sesal di sana.
Mulailah berkemas benahi diri.
Pandanglah tajam ke arah pasti.

Kamulah pengembara fana.
Kamulah titah surga yang menopang.
Implementasi ayat-ayat rindu yang berwujud.
Menurut versi kebodohan khayal.

Kamulah romansa.
Kelak mengukir riwayat semesta.
Kamulah penyajian dan peristirahatan.
Kamulah akhir.
Yang mimpinya tanpa akhir.

M. Nurul Hidayat
10 Maret 2019


Thursday, March 07, 2019

The Elan

Writing a lot,
Since shutting the mouth.
I hanker for an exposed dawn,
To whom i confide in.
Outclass the stereotypes.
Liberate souls of the duskiness.

Why should my spirit share?
Just like thirsty counterfeit.
My scream is loud and high,
gonna call the tune after all.

I am wandering around myself,
Just having not realized those laid for me.
Lost is the lonesome night.
Search after search.

Look at the shadow,
Sniffing through the mirror.
All is too serious as a hell,
Tracing how terrible you have made.

Give birth to your renewal,
For the pledge never sighted.
Navigate the derivation of your single end.
Something away from your conscious past.

M. Nurul Hidayat
March 8th, 2019

Dia Adalah...

Kan datang suatu hari...
Kau sandarkan beban hatimu yang seluruh...
Di pundak itu...
Tanpa ragu...

Jarakmu mencari hangat tubuhnya...
Rebah lelah dari kemunafikan fana...
Temui satu tempat terpercaya...
Tempat kau jatuhkan segalanya...

Dia adalah suatu harimu...
Akhir semua tanya, pelengkap separuh jiwa...
Walau jalannya ditertawakan dunia...
Musim akan bersemi di separuhnya...
Usia akan berpihak di selebihnya...

Sekali-kali jangan kamu lewatkan dia...
Oleh keraguan warisan lama...
Kehadirannya menjalar di segala sudut alam sadarmu...
Membajak malam-malam ketidaksadaranmu...

M. Nurul Hidayat
7 Maret 2019

Monday, March 04, 2019

Ceritakan Aku

Ceritakan aku hidupmu...
Terus dan terus saja...
Setiaku menyaksikan sembari membuka jalan...
Sebab kepadamulah hati mencari dan menemukan...

Ceritakan aku jiwamu...
Yang kau tutup di persembunyian...
Perkenalanmu, kehormatanku...
Kehadiranmu, semenanjung harapku...

Bila disinggasanakan kisah romansa, pada tepian setapak rindu gelap.
Kan ku simak gaung syukur dari palung jiwa:
"Tunai sudah separuh agamaku, selebihnya sampai ke ujung waktu..."

Cerita itulah warna cerah penghiburku...
Hari-hari rindunya sang pengecut ini...
Terangkai sudah barisan sajak kepada wajah dunia...
Namun terbungkam di hadapanmu...

Terima kasih telah jumpaiku dalam hidup...
Tubuhku gemetar menatapmu...
Detik demi detik menjelang puncak keberanianku...
Jumpaimu di pelataran rindu...

M. Nurul Hidayat
4 Maret 2019


Saturday, March 02, 2019

Gracious

Gracious...
The shelter of heaven resonates my longings in Your Name...
As my shifting soul is in bouyancy fashion...
Madly delving into your only path...

To my temporality...
My hopes are enclosed...
My daydreams are lining straight...
For merely the day of truth...
Will i abide in patience...

As Rumi, the lover, said:
"In the slaughter house of love, they kill only the best, none of the weak of deformed.
Don't run away from dying. Whoever's not killed for love is dead meat."

I offer You my submittion...
Inside of all precise moments...
Dying in life... Drunk in love...
Before your majestic sovereignty...

Gracious...
I went astray such a halfway secret...
Grant me your guidance so i can breath...
Accentuated is the nothingness...
It's me creeping on the creed...

M. Nurul Hidayat
March 3th, 2019

Siratan Makna

Kamu adalah puisi...
Yang ku bacakan di hadapan Tuhan pada setiap rindu...
Hatiku adalah benih...
Yang ku tanam bersama sunyi senyap penantian...
Ku sirami dengan derai perjuangan...
Biar ku petik semanis senyum halalmu...


Aku merangkai imaji setapak demi setapak jalan menuju hadirmu...
Menjaring rembulan, membelenggu matahari...
Demi janji yang terpatri semesta siaga melengkapi...
Takkan lekang disengat dunia jua padam dihempas malam...
khayalku bersenyawa di buaian sajak, alam dan kopi...
Engkau senantiasa objek karya tertinggi...


Namun tubuhku masih kotor tuk memelukmu duhai muliaku...
Perangaiku masih mentah untuk membimbingmu duhai surgaku...
Biar ku rakit kapal rapuhku...
Sebelum berlayar membawamu...


Cinta adalah ketika tiada lagi yang paling utama...
Selain saling berbalas pesan dalam siratan makna...
Berbahasa bersejiwa...
Meski raga masih berkecuali...


Aku hamba bersahaja...
Engkau hati teristimewa...
Bila ujung duniaku harus tanpamu...
Ah... entah bagaimana...


M. Nurul Hidayat

2 Maret 2019