Saturday, February 23, 2019

Aku Adalah Guru

Setiap jiwa adalah potensi cahaya...
Dikau cuma membantu mereka berpijar...
Besok lusa terbuka lembar-lembar cerita...
Awal cerah kau boleh berbangga...

Jernih jernihkan niat...
Lantang lantang hentak langkah...
Tuhanmu merekam segala ucap di lisan...
Sebar petuah bekal pulang...

Dikau terpatri sebagai jalan...
Pahlawan kecil menuju terang...
Maka jadilah harapan...
Jangan cuma berharap...

Aku adalah guru...
Walau ombak pasang nan menghadang...
Sebagai perkenalan sehingga kematian...
Aku tersenyum mengukir jalan...

Aku adalah guru...
Beserta ketidaksempurnaanku...
Melukis langit masa depan...
Setinggi warna-warna impian...

M Nurul Hidayat
24 Februari 2019

Friday, February 22, 2019

Manis

Kau siksa aku dengan manis...
Saat ku hanya bisa meratapi keluguanku...
Dipecundangi diri sendiri...
Yang tak kuasa apapun...
Selain merindumu...

Kau bermain di dalam fikiranku...
Sepenuh waktu mengawal detak nadiku...
Kau laksana udara yang ku hirup...
Hampamu dingin menusuk...

Warna di kanvasku tak pernah mengering...
Ku celup kembali tuk ku goreskan sewujud lukisan bola matamu...
Walau tersimpan entah di balik wajah...
Diabadikan dalam bingkai terindah...

Sungguh cinta tak pernah salah...
Tangan manusialah yang kadang menodainya...
Semoga jejak langkahku kau lacak dalam sunyi...
Riwayat perjalananku menuju hatimu itu...
Kelak bila kita satu...
Sehingga ku sadari bahwa hatiku berasal dari penciptaanmu...
Atau bila kau punggungi ajakan suciku...
Sehingga ku tahu dengan apa ku harus berlalu...

Dulu aku terlalu mudah menterjemahkan sekedar suka sebagai cinta...
Kini ku tak pernah mudah membohongi cinta sebagai sekedar suka...
Cintaku bersembunyi di balik langit mendung gelap...
Hujan deras dan angin menyamarkan hadirnya...
Namun sebelum ku rengkuh segenap hati...
Ku yakin ia bagaikan senja...
Tak pernah menetap namun selalu kembali...

M. Nurul Hidayat
22 Februari 2019

Wednesday, February 20, 2019

Rahasia dan Harapan

Jiwa lemah memapah...
Di antara yakin dan resah berpasrah...
Penghujung tanya s'moga dijelang indah...
Gelora kenanganmu, syahdu di pelukmu...
Kehangatan dan perlindungan yang benar selaras dengan naluriku padamu...
Cuma waktu menabrak restu...

Aku bercerita dalam ceritamu...
Kamu memperhatikan perhatianku...
Di musim dingin ini...
Banyak-banyaklah ku bicara dengan diri sendiri...
Kawanku sedikit, rumahku sempit...
Semoga seleksi alam menuntun jalan hakiki...

Terlebih bila jiwa berdansa dalam pusaran bayang-bayang kekasih rahasia...
Keindahan yang aneh ataupun keanehan yang indah adalah ketika segalanya memang hanya untuknya...
Hadirnya seperti cukup sebagai ruang persembahan...
Menutup genit sang mata...

Kamu seperti bahagiaku yang hilang...
Kamu seperti kepingan separuh kehidupan...
Kamu adalah setinggi-tinggi tujuan...
Ya... Semulia-mulia harapan!.

M. Nurul Hidayat
21 Februari 2019

Monday, February 18, 2019

Jangan

Jangan mencariku dalam prasangkamu...
Temui aku dalam dirimu sendiri...
Supaya kamu tak salah mengartikan...
Segala yang tak perlu dijelaskan...

Kamu bidadari syairku...
Muara tunggal ku mewartakan kasih...
Kamu meninggali seisi hati yang sibuk...
Tampak samar-samar di balik awan...

Mengapa kau tutup cahaya hatimu?
Juga kau halangi lorong gelapmu?
Malamku nyaris sekarat...
Melukis teka-teki wajahmu...

Apakah hadirmu perwakilan metafora dunia...
Yang diutus guna menelanjangiku...
Semenjak kau berpesiar di atas badai...
Justru perkenalan itu mulai ku rangkai...

Maukah kau jadi kekasih terbaik?
Sebagai madrasah bagi keturunanku?
Sebagai rumah untuk ku berpulang setelah terik dunia menyengat jiwa...
Sebagai sandaran lelah pengobat hari-hari berselimut sibuk tak berkesudahan...

Bila kau lenyap bersama air mataku...
Kan ku kenang jejak simfonimu...
Sebab tak pernah ku takut mengatakan cinta...
Aku cuma takut mengganggu...

18 Februari 2019

Thursday, February 14, 2019

Ibu


Hendak ku kecup damaimu sekali lagi...
Hendak ke dekap indahmu hingga terlelap...
Lalu ku pandangi kedua mata sucimu...
Sumber kehidupanku...

Duhai ibu...
Ku mohon tuk singgah lagi...
Di malam panjang yang tak ingin ku akhiri...
Meski sekejap saja kau luangkan keabadianmu...
Aku ingin bercerita...

Duhai ibu...
Bolehkah aku terbangun denganmu?
Beri aku belaian pagi oleh lembutmu?
Sajikan aku sarapan terlezat...
Siapkan perlengkapan sekolahku...
Lalu ku minta kau tuntun langkah kecilku yang manja...
Menuju segala tempat dalam ceria...

Ibu...
Di rumah ini ada nafasmu...
Di darah ini ada jiwamu...

Ibu...
malam memaksaku merindu...
Bertahun sudah tanpamu...
Tolonglah ibu...
Sering-seringlah tersenyum di mimpiku...
Aku rindu...

M. Nurul Hidayat
15 Februari 2019

Wednesday, February 13, 2019

Ikatan

Bila seluruh bidadari langit berkerumun di mataku...
Membujukku... menghasutku...
Angkat kaki dan tertawa liar...
Mereka kira aku menggigil menuju kematian?.
Ataukah aku tenggelam di telan kesepian?
Sungguh di pelupuk pandangan hanya dia bersemayam...

Sesungguhnya sebuah ikatan hanya menjerat bukan mempersatukan...
Bila ia tercipta oleh kehendak manusia bukan restu Tuhan...
Hatiku paling terikat erat kepada dia...
Walau ruang logika rapat membatas...

Aku mau terikat dengan dia...
Sehingga selama-lamanya...
Melintas dimensi dunia apabila t'lah tiada...
Jadi teman di keabadian, puncak ketinggian cinta...

Mungkinkah aku menjemput kekosongan?
Ataukah semua berujung kematian?
Cintaku akan senantiasa berdegup...
Dalam do'a diam-diam...

M. Nurul Hidayat
30 Januari 2018



Aku Adalah Rindu

Aku benci rindu...
Sebab tak berwenang menyatakannya...
Tapi aku mulai mereguk sungai keikhlasan...
Bila hati kerontang ditawan kesendirian...

Rinduku manis dalam rahasia...
Sosok di balik tirai pesona...
Rupanya elok bercahaya...
Terasing gemerlap warna dunia...

Aku memujinya di hadapan langit menantang...
Sedangkan menatap indahnyapun tak sanggup sudah...
Ingin ku utarakan rasaku yang kemarin...
Bertahan teruji waktu, jarak dan godaan...

Aku adalah rindu itu sendiri...
Sesungguhnya aku hidup di pelupuk matanya...
Berdansa dan bernyanyi...
Terkadang notasiku tercerai-berai...
Menempuh kidung tiada usai...

Aku adalah sumpah setia...
Menjemput ujung tanda tanya...
Jangan berpayah-payah menelanjangi waktu...
Lonceng jiwa bahkan bergema...

M. Nurul Hidayat
2 Februari 2019

Seluruh Jiwa

Kendati ditelan awan lalu...
Bayanganku berarak berbaris menujumu...
Usah terlampau panik begitu...
Usah mengelabui fitrah ilahi...

Hei...
Bagaimana aku tak ada padamu?.
Sedangkan jalanku ke arahmu...
Bagaimana kau tak merasakanku?.
Sedang akulah cermin jiwamu...

Ikuti tarianku di atas matahari...
Elok gemulai penanda gerak...
Aku melihatmu berjalan di balik kabut...
Pekat dan pengap saling menatap...

Kamu pasti menunggu secarik syair kekacauan ini...
Wajahmu muram di sela purnama...
Kau kecup malam yang legam...
Meniti jalan cerita...
Menempuh ujung rahasia...

Hei...
Kau dan aku jiwa bersenyawa...
Lekat dan padu dikerumuni keramaian sunyi...
menyucikan debu-debu masa lalu...
Sebelum guratan takdir bertemu...

Hei...
Ini kebiasaanku menyayangimu...
Terlampau kilat jerat melekat...
Terlampau kuat hati kecilku bertahan...
Demi dirimu yang tiada dua...
Sungguh ku niatkan seluruh jiwa...

M. Nurul Hidayat
13 Februari 2019



Thursday, February 07, 2019

Hilang Kata

Puisiku kehilangan kata-kata...
Tercecer di peraduan sendu...
Saat semua berbangga-bangga cerita...
Di gubuk renta ku sembunyikan lara...
Tertunduk menyamarkan luka....
Entah terhempas, entah terlepas...

Ketika berselancar di atas ombak kehidupan...
Ketika harus membenturkan dinding cerita...
Keruntuhanku menjadi senyum di alam langit.
Ku perhatikan gerak bumi bersirkulasi...
Manakala menguburkanmu ke dalam kesepianku...

Kemana syairku yang hilang?.
Aku melolong melawan...
Hembus kemarau kian menggugurkan...
Hijau harapan di ranting kusam...

Di remang wajah dunia...
Langkah kerdil mengembara...
Menjemput satu peraduan itu...
Menghiba takdir sehingga hadir...

Duhai malam...
Hendak ku pinjam damaimu...
Sebagaimana ku rengkuh gelora siang...
Sehingga sejatera peristirahatan...
Semoga syair-syair picisan ini...
Semoga kepingan fana ini...
Berujung pada percumbuan suci...
Denganmu... nafasmu...

Bila ku gagal menemukanmu...
Senja takkan berduka...
Namun langit takkan bicara...
Hingga malam melarutkan setiap lelap...
Dan menembus segala gelap...

Aku mempuisikan wajahmu...
Dalam kepak sayap sang mega...
Kamu cuma lari sembunyi...
Sementara aliran nadiku membeku...

M. Nurul Hidayat
14 Februari 2018

Jarak

Memunguti puing-puing rindu...
Seluas jarak aku dan kamu...
Dalam halang jalan terbentang...
Belenggu hasrat sebelum waktunya...

Kan ku datangimu dengan pasti...
Pabila bulanpun tergenapi...
Ucaplah syukur atas pemeliharaan sempurna...
Segelintir jiwa yang menyusuri jalan kita...

Gelap malam yang bersepakat...
Lelapnya dunia sang pengobat...
Lukisan senyummu tak lekang di persembunyian...
Esok lusa kan ku tangkap...

Siapakah dirimu?
Serupa pemacu debar jantungku...
Bisikkanlah cerita tentang diriku...
Dalam debar penantian di kamarmu...

Enyahkan sejenak lara di langkahmu...
Jemariku hangat menggapaimu...
Meski tak lagi kau dekap erat tubuhku...
melawan hujan mencumbu rindu...

Muhammad Nurul Hidayat
18 Januari 2018

Menemukanmu

Menemukanmu

Kita tak pernah jauh...
Walau pekat menyelimuti lorong malam...
Sadarku terjaga tuk mengenang...
Senda guraumu yang menggelitiki egoku...
Senyum kecilmu yang membantai jenuhku...

Kini kau mekar...
Disirami sejuknya hikmah...
Kau reguk sepanjang jalan pengembaraan...
Meski ragamu hilang tersapu batas pandangan...

Rindu ini telah ku pasrahkan...
Seperti alunan kidung harapan...
Ia mengiringi latar belakang derap langkahmu...
Betapa ia tak ingin lepas...
Meliputimu selalu...

"Aku takut kau tak menemukanku."
Tersempat benakpun meragu.
Bagai potret yang tak kunjung usang...
Lukisan matamu mengawasiku...
Melalui lorong-lorong malam dan labirin sunyi temaram...
Sejuta kemungkinan siap dijelang...
Maka rebahlah bidadariku...
Senyumlah menembus ke ujung umurku...
Berpijarlah pada waktunya...
Gaunmu elok bertahta bahagia...
Singgasanamu kekal buah manis doa-doa...
Melangkah anggun menyusuri jengkal dunia...
Maukah kau ku jelang?
Maukah jadi tujuan?
Maka janganlah kau mencariku...
Biar aku yang menemukanmu...

Muhammad Nurul Hidayat
21 Januari 2019