Dapatkah kau dengar dia berbisik:
"Terima kasih persinggahan, kau sempat tinggal di sini ajariku jadi diri sendiri, sebab seindah-indahnya jiwa adalah kejujuran meski terasing dalam gemerlap dunia."
"Terima kasih kepasrahan, kau ajariku tak berharap, sebab sakit yang berulang akan jadi cerita usang. Aku hanya ingin utarakan cintaku yang mendalam... yang selalu diragukan''.
Lalu bersama malam, terangkat imajinya ke alam langit, hanya lirih ia bergumam:
"Kemarin adalah keindahan, takkan dimengerti oleh siapapun. Bila terdakwa tiada hak meminta, biar penjara jiwa jadi bagian. Ku belenggu nafsu menyesatkan, ku insyafi segala penyucian hingga menjelang kebebasanku, saat terindah tuk ku datangi satu jiwa yang sama."
"Kemarin adalah keindahan, takkan dimengerti oleh siapapun. Bila terdakwa tiada hak meminta, biar penjara jiwa jadi bagian. Ku belenggu nafsu menyesatkan, ku insyafi segala penyucian hingga menjelang kebebasanku, saat terindah tuk ku datangi satu jiwa yang sama."
Duhai pelukis mimpi...
Telah kau jinakkan liarnya...
Telah kau cerahkan suramnya...
Dia terlahir ketika bumi mengheningkan cipta...
Pernah jatuh hati tapi terjatuh...
Pernah berjuang tapi terbuang...
Hatinya yang sulit percaya...
Hanya padamu coba membuka...
Telah kau jinakkan liarnya...
Telah kau cerahkan suramnya...
Dia terlahir ketika bumi mengheningkan cipta...
Pernah jatuh hati tapi terjatuh...
Pernah berjuang tapi terbuang...
Hatinya yang sulit percaya...
Hanya padamu coba membuka...
Bila kelak tiada tempat untuknya lagi...
Pastikan ia mengerti...
Sehingga ia berhenti...
Pastikan ia mengerti...
Sehingga ia berhenti...
Muhammad Nurul Hidayat
18 Juni 2018
18 Juni 2018
No comments:
Post a Comment