Perempuanku...
Demi kesejatian yang kau buru...
Syukurku terpanjat syahdu...
Engkaulah wujud pengecualian...
Dari sudut kecil arena panggung duniawi...
Syukurku terpanjat syahdu...
Engkaulah wujud pengecualian...
Dari sudut kecil arena panggung duniawi...
Akulah pria itu...
Yang kelak membongkar hatimu...
Dalam lorong buta jemarimu meraba...
Kemana arahmu bermuara?
Yang kelak membongkar hatimu...
Dalam lorong buta jemarimu meraba...
Kemana arahmu bermuara?
Perempuanku, engkau yang mengundang angin malam...
Dinginnya seperti kekal menusuk tulang...
Sengajakah engkau, perempuanku, tenggelamkan relung sadarku...
Aku terlepas... aku terhempas...
Dinginnya seperti kekal menusuk tulang...
Sengajakah engkau, perempuanku, tenggelamkan relung sadarku...
Aku terlepas... aku terhempas...
Sebelah manapun jalan memuliakanmu...
Satu yang sungguh tengah ku tuju...
Jangan dulu jangan dulu percayaiku...
Dengarlah saja sabda bathinmu...
Satu yang sungguh tengah ku tuju...
Jangan dulu jangan dulu percayaiku...
Dengarlah saja sabda bathinmu...
Perempuanku...
Betapa indah mencintaimu...
sebab kau hadir di mataku...
Saat keduanya tak menatap kehidupan...
Kau selalu hidup dalam harapan...
Betapa indah mencintaimu...
sebab kau hadir di mataku...
Saat keduanya tak menatap kehidupan...
Kau selalu hidup dalam harapan...
Muhammad Nurul Hidayat
7 Juli 2018
7 Juli 2018
No comments:
Post a Comment