Perlahan demi perlahan...
Sedikit bukalah percayamu...
Ada hati yang mendatangimu...
Mungkin di saat kau ragu...
Segala pahit yang kau tempuh adalah juga kisahnya...
Maka bantulah langkahnya di sepertiga malam yang benderang.
Ada hati yang mendatangimu...
Mungkin di saat kau ragu...
Segala pahit yang kau tempuh adalah juga kisahnya...
Maka bantulah langkahnya di sepertiga malam yang benderang.
Wajahmu adalah pagi yang terbitkan sudut cahaya...
Kian merambat pada hamparan kemarau
Kemudian berpendar selaras titah ilahi.
Deru ombak menjadi lirikmu...
Suara alam menjelmakan notasimu...
Kian merambat pada hamparan kemarau
Kemudian berpendar selaras titah ilahi.
Deru ombak menjadi lirikmu...
Suara alam menjelmakan notasimu...
Meski elokmu hanya sekuntum fana...
Kaulah jiwa yang semerbak...
Kaulah dimensi pembeda...
Dalam kekosongan bahasa manusia...
Kaulah jiwa yang semerbak...
Kaulah dimensi pembeda...
Dalam kekosongan bahasa manusia...
Duhai permaisyuri tak bermahkota
Bantulah ia mengkaji langit...
Derap gerakmu menjadi asa...
Ia kan memahkotaimu dunia...
Tempat kau menari-nari jenaka...
Kau lempar lagi tawa itu...
Menerobos alam jiwa...
Menggenapi ruang cita...
Bantulah ia mengkaji langit...
Derap gerakmu menjadi asa...
Ia kan memahkotaimu dunia...
Tempat kau menari-nari jenaka...
Kau lempar lagi tawa itu...
Menerobos alam jiwa...
Menggenapi ruang cita...
Muhammad Nurul Hidayat
13 Juni 2018
13 Juni 2018
No comments:
Post a Comment