Monday, December 03, 2018

Rindu Tenggelam


Ku berkenalan dengan fana...
Mengikat segenap jiwa gelap buta...
Cerita usia remuk redam...
Dalam keliru pandangan...

Anggur malam cerutu legam...
Berpantun tiada penghujung...
Kelakar tiada kelar...
Seb'lum lincah tersumpal...

Aku mencari aku meniti...
Di separuh perpanjangan waktu...
Poros rindu memanggil...
Tenggelam menggigil...

Berai...
Liarpun luluh memudar...
Lepas...
Buka jalan sudut cahaya...
Sebelum redup harapanmu...
pandangi arah bijaksana...
Hidupkanlah satu pilihan...
Pilihlah satu kehidupan...

M. Nurul Hidayat
9 November 2018

Negaraku

Negaraku negara pura-pura...
Pura-pura sibuk...
Pura-pura kerja...
Pura-pura cinta...
Negara tergadai tumbal media...
Sang bijak memburu hakikat dalam kamuflase...
Akal-akal saling mencitra, saling menista...

Aku anai bercampur debu...
Deru serakah mengaburkanku...
Buyar penunjuk arah menjengkal...
Aku tiada merasuk dangkal...

Aku lebih baik hidup begini...
Mencicipi sajian di depan mata...
Ala kadarnya...
Ketimbang mati munafik dalam drama...
Hidup sentosa sebelah jiwa...

M. Nurul Hidayat
13 November 2018

Fail in Your Name


Don't wanna fail in your name...
Even though the sky collapses...
Hitting the wall of heart

Darling...
Are you hearing me?
I faintly breathe out ...
As you walk down the hall
As the night has turned blue ...
Look into your soul ...
Late by questions ...
Growing together with acceptance ...
I'm your world ...
The only circulating on fantasy
Like a park without borders ...
Because another second story ...
Tremendous in wonders...
In a torn soul ...
Show the other side...
I'm the holy bones ...
After being gnawed by the wild jungle ...
Looking for all it means..
Touching dreams ...
Trying to reach the light of your beautiful eyes ...
It's not love satisfaction next to the soul ...
Responsibility as a sign of its presence ....
There is no limit to any true reply ...
Always dwelling in eternity ...
Get closer now ...
Let me teach you how love works ...
Whimpering the feeling ...
Instantly laughing at the end of common sense ...
Get closer much ...
Let me be your man ...
Open the road above holy intention ...
Destiny will not change ...
However the universe shakes...
At anytime I got negligent...
Muhammad Nurul Hidayat
August 22, 2018

Contemplation

He acquisits the silence as boon companion...
He turns wild beneath the real him...
Feeding on his lonely past...
Preying upon any flesh...


The menacing jaws of him keep gnawing the tender leaves while the darkness covers whole evergreen...
In time such as this, a little peace manifest all rhetorical sermons...


No rostrum to show all stages are closed...
No sparkling merriment to keep on but the inner voice...
The bliss is to pursuit for the bright light of tomorrow cheers...


This is the huge nowhere just breath in your wish...
The best luck is yours oh those believing...
For the spiritual insight about to come...
Settle up your submittion...
Look out there!
He invokes above the worldly matters...
"Oh... should it had been removed...
Gracious... must be meant to be".
Heading the final chapter...
The wind is blowing faster...


Muhammad Nurul Hidayat

November 18th, 2018

Bingkisan Kalbu

Duhai langit...
Ku titip sedikit bingkisan kalbu...
Doa-doa kecil dari kejauhan...
Demi kedalaman perjalanan...
Jejak bidadariku...
Yang menghamparkan sejauh pandangan jiwa...
Hakikat kemurnian fitrah dan kaidah cinta...
Di lubuk imajinya...

Duhai embun pagi...
Mengapa dadaku mesti berguncang...
Sedang tak pernah dia di sini...
Aku takkan sampai hati mengganggunya...
Mengusik damai renungannya...

Aku siap s'bagai kehangatan...
Pabila dingin dunia terlampau menusuknya...
Maaf bila ku terlalu diam...
Resapilah sebenar-benar penjagaan...

Aku berkenan s'bagai penawar bekas-bekas lukanya...
Ku pasang ragaku sebagai pembela...
Ku ikrarkan hatiku sebagai pembeda...
Apabila dunia ini terlanjur diliputi buramnya dusta-dusta...

Duhai Pemilik Jiwa...
Apa daya kuasa hamba...
Adakah lagi sebenar-benar sandaran cinta...
Bila ku perturut sisi binatangnya jiwa...

Muhammad Nurul Hidayat
24 November 2018

Percakapan

Percakapan kita merasuk di lubuk bawah sadar...
Menyelinap manja pada malam-malam gemintang...
Aku adalah bahasa tak terucap, 
sedangkan dirimu menakar kesunyian dengan keterbatasan lentik jemari...


Indah rupamu bukan segalanya...
Sekadar hiasan titipan dunia...
Pandanglah jauh ke sana...
Tiadakah nampak tempat masa depan itu...
Tempat ku bongkar alasan membela singgasanamu...
Tertatih menerjang waktu...

Sedang aku tersesat antara bencimu juga kasihmu...
Kini seribu tanya menguap bersama embun pagi...
Aku pulang pergi di lingkup khayalanmu...
Akulah percakapanmu yang paling sejati...

Sebagian percakapan sebatas pembunuh waktu...
Sebagian lagi bergerak oleh rencana...
Percakapan adapula terurai pelipur kesunyian...
Namun kesunyianpun adalah percakapan...
Bila bahasa rindu merebut peranan...
Bukan karena tiada kata lagi yang terdengar...
Tapi hening dan suara telah cukup bersenyawa...
Di dalam kidung doa yang mengalun...
Percakapan selalu baik...
Antara jiwa-jiwa yang saling memperhatikan...
Dari balik tirai rahasia...
Janji suci bertahta dalam gubuk miskin papa...
Kaulah percakapanku...
Dalam sinis pandangan logika...
Namamu ku bela dan ku bela...
Pahamilah tempat kembalimu...
Aku ingin selalu bernafas...
Sehingga sempat mempermaisyurikanmu...

M. Nurul Hidayat
26 November 2018

Mahal

Aku bergerak menujumu...
Takkan memaksakan diri...
Tak lebih sebatas mengikuti...
Apa adanya kejujuran...
Adakah siang membangunkanmu?.
Adakah malam menyadarkanmu?.
Engkaulah kehadiran yang mahal...
Takkan impas oleh rekayasa perasaan...

Ingin ku patahkan jari jemariku...
Hendak ku lempar penaku...
Selalu kau menari-mari manja di sajakku...
Terus sampai syahdu lelapkanku...

Aku ingin jumpaimu...
Mengecup dalam nyata...
Tapi ku bukanlah siapa-siapa...
Kau kan lagi membuang muka...
Mendung kan menertawakanku...
Ah... bukan itu yang ku khawatirkan...
Ku cuma khawatir mengusik alam damaimu...

Aku ingin menyelami sorot matamu...
Melacak secuil harapan itu...
Tapi aku takut mengacak-acak isi fikiranmu...
Yang mungkin t'lah terpusat bukan padaku...
Ah entah... ku berlindung di balik doa...
Dari perbudakan seluruh prasangka...

Aku masuk dan merasuk...
Aku tersenyum dalam gulita...
Aku bermunajat setia...
Aku lebih dari cinta...

Kamu perempuan...
Kamu lancang!!
Kau lampaui semua pesona keindahan yang tampak...
Dan kau bajak seonggok hati kecil yang rawan...

Tulisan ku tutup...
Lisan manis terkatup...
Sayang janganlah meracau...
Engkau bunga dalam doaku...

M. Nurul Hidayat
29 November 2018

Thursday, November 08, 2018

Tanpa Judul


Aku sepi di keramaian...
Mungkin kau takkan peduli...
Kau sengajakan jarak membentang...
Tiada ku berpantang...
Aku jantungmu yang berdegup sepanjang jengkal bumi...
Sejauh langkah kau ayunkan, di sanalah rinduku...
Dimana letak hatimu?
Aku hamba tiada berdaya...
Kemana arah tertuju...
Tempat penghabisan dilema...
Aku menghirup keramaian seperti deru nafasmu yang memburu...
Terpana seluas semesta jiwa...
Maukah kau tahu kabarku di sini?
Sekejap saja agar kau pahami...
Kaulah setinggi-tinggi kepasrahanku...
Nikmati duniamu...
Pertanyaanku di lain waktu...
Muhammad Nurul Hidayat
4 November 2018

Ruang Rindu


Kesunyian ini untukmu...
Duhai kaulah gemuruh keramaian di alam khayalku...
Tak perduli tawa, tak perduli air matapun kan ku jelang...
Memastikanmu di ujung jalan...
Apa kabar?
Seharian belum ku tengok potretmu...
Ku luangkan sejenak seperti biasa...
Ku kabarimu lewat doa...
Ku ingin menyerah...
Ku ingin berhenti...
Namun bagaimana aku berdusta...
Lalu berjalan menjauhi tujuan...
Apa kabar?
Aku selalu sendiri...
Mempertahankan namamu...
Biar mereka bilang aku dungu...
Namun tahukah kamu...
Bahwa tiada kata menyesal tuk membela segala yang diyakini...
Biar kita saling mencari...
Dalam seribu warna jiwa sendiri...
Sebab jarak diciptakan...
Untuk memberikan ruang kepada rindu...
Muhammad Nurul Hidayat
1 November 2018

A smiling coffee

Rhapsodies lining up as list to pass...
Takes my desires to the sunset...
A thousand brewed cheers...
A thousand distilled fears...
For a sublimation of incertitude...
Oh the aroma of dearest night...
You are my lonely part...
Stay humble and show your resoluteness...
The world will woof damn hard...
Captivated, i would be...
the leaves are falling down and so...
The winds are softly conversing...
One each other...
For the firmness of purpose...
Your aroma will remind of allegiance...
Let's dance for the sake of tomorrow...
When you will feel no sorrow...
M. Nurul Hidayat
Friday 28th, 2018

Awakening


This is for i should love me better...
When the sounds bark from the sky high...
Fully covered is my pain...
Crawling through the lane...
Would i starve to death?
As sun starts to fade...
All was bright and early...
i was too much in cheer...
I am not to literally below my feeling...
Found is no glad tidings...
Me is like i was, to keep tuned of blindness...
Striving for no goals like a broken vow...
I really am thrown, docked at the awakening...
Something is splendidly slipping into me...
As the morning vibe creeps...
Thus, i can save my delight...
For the next dining talk...
Muhammad Nurul Hidayat
9 Agustus 2018

Sabda Angin


Hai...
Aku angin...
Izinkan aku singgah sampaikan pesan...
Untuk jiwa seribu pertimbangan...
Resapilah rindu yang menyusup melalui pori-pori dan aliran darahmu...
Bertanya dan berulang di tiap-tiap setelah persembahanmu...
Hai...
Engkau yang disebut-sebut...
Yang jadi candu hati dan fikiran...
Namamu meninggi di dekapnya...
Tempatmulah di dekatnya...
Hai...
Aku anginmu kini...
Aku jadi saksi pekerjaannya...
Semilirku kan buatmu mengerti...
Cintanya selalu bergerak...
Menghimpun rangkaian hikmah...
Merangkum ragam emosi itu...
Menghamparkan arena...
Laksana wahana rintang...
Hai...
Tandai langkahnya...
Berapa jarak berapa musim menggores nyawa menghitam...
Demi iringan awan yang pulang pergi...
Demi langit yang menaungi...
Tak teringin membusuk di sini...
Harapnya bahagia menanti...
Muhammad Nurul Hidayat

Sailing Home


Sailing home, sailing home...
Smiling in the storm...
A hero's just come up...
Right out of gloomy soul...



Sailing home, sailing home...
Breathe in well wishing breeze...
Bring home just all has passed...
Sip the holy wine of afterwards...


If he could just reason out his being there...
Nothing brighter than the light of guidance...
After much deliberation for no up-made mind...
It's a power of silence that shows...

He is a drippy passage of eternity...
He longs for diverting night...
Such a drunken man of supplication...
For a subdued lust of evil sides...

M. Nurul Hidayat
September 16, 2018

Melodious Whisper


One lost his track...
Call at this desperate thirst...
Busted was the way...
Reaping no despair...
Heave of the sea with the rising chorus...
For the pitch advancing accordingly...
Black and blue has been he...
Earned a tons of memory...
What a time to reveal...
Strive forward and feel...
For the deep blue sea...
For the sheltering heaven...
He started up a "new-be"...
Blood and pain as the staple meal...
Light and hope should be clear...
"God gracious...had i been blessed this far..."
He narrated as being taken aback...
Oh dear of the rhyme...
Let me write the melodious whisper...
You can even catch in most time...
As the signal is obvious...
Hardly ever are you curious...
Arul
September, 13th 2018

Mendung


Sunyi yang bernyanyi...
Bunyi yang sembunyi...
Senja berangsur menggiring...
Ragam logika nan berbaur...
Aku mendung...
Engkau siapa?
Engkau sakitku...
Sedalam-dalam pedih dan doaku...
Berpulang di gelap...
Pamit ku beranjak...
Kata-kata yang mengering...
Dibias cahaya berpaling...
Tinggalah di sana...
Pesan tak terucap...
Tinggalah di sana...
Kasih berbalas murka...
Tinggalah menata...
Jiwa runtuh porak poranda...
M. Nurul Hidayat
31 Agustus 2018

Tuesday, August 07, 2018

Isyarat

Mengapa tiada berjanji?
Tak ingin lisanku terkutuk keingkaran...
Mentari esok samar-samar...
Dalam bias wajah isyarat...
Akan ku jalani ini...
Pandanglah dari singgasanamu...
Aku setegar karang diterpa badai...
Engkaulah bayangan dalam kesunyian...
Terhalang kelambu malam panjang...
Kau misteri penantian...
Bila ku bawa yang ku jaga...
Di penghabisan jengkal kemarau...
Perjuanganku ini abadi...
Sebab engkau t'lah terpilih...
Kekasihku...
Pancar-pancarkan isyaratmu...
Luruh temani peluhku...
Telah ku lambungkan jujurku...
Berteriak menembus dinding langitNya...
Kekasihku nan terpilih...
Engkau cemerlang di antara berjuta kesempatan...
Dekap kasihmu masih lekat menghangat...
Berabad sudah tiada ku sempat...
Muhammad Nurul Hidayat
8 Juli 2018

Memuliakanmu

Perempuanku...
Demi kesejatian yang kau buru...
Syukurku terpanjat syahdu...
Engkaulah wujud pengecualian...
Dari sudut kecil arena panggung duniawi...
Akulah pria itu...
Yang kelak membongkar hatimu...
Dalam lorong buta jemarimu meraba...
Kemana arahmu bermuara?
Perempuanku, engkau yang mengundang angin malam...
Dinginnya seperti kekal menusuk tulang...
Sengajakah engkau, perempuanku, tenggelamkan relung sadarku...
Aku terlepas... aku terhempas...
Sebelah manapun jalan memuliakanmu...
Satu yang sungguh tengah ku tuju...
Jangan dulu jangan dulu percayaiku...
Dengarlah saja sabda bathinmu...
Perempuanku...
Betapa indah mencintaimu...
sebab kau hadir di mataku...
Saat keduanya tak menatap kehidupan...
Kau selalu hidup dalam harapan...
Muhammad Nurul Hidayat
7 Juli 2018

Apakah kau membaca?

Kepada jiwa merdeka...
Lanjutkan petualanganmu...
Demi udara kebebasan...
Demi deru tantangan...
Luruskanlah arahmu...
Ringankanlah langkahmu...
Karena cinta kini berdiri...
Di atas puncak ketinggiannya...
Pabila kau bahagia dalam ketidaktahuannya...
Keledaipun tahu...
Cinta bukan kesalahan...
Kesalahan hanyalah cara...
Ketika rindu meminjam dusta...
Ketika gejolak menyamarkan logika...
Apakah kau membaca?
Cintalah yang seperti kau buang...
Dalam ruang tanda tanya yang menghitam...
Mungkin khilafnya adalah segala yang ternilai...
Mungkin seperti hanyalah seperti...
Mungkin kelak takkan mengelak...
Semoga waktu menyingkap kebenaran ikrarnya...
Dalam kebesaran takdir yang rahasia...
Serahasia isi jiwamu...
Membeku dia dalam denyut kehidupan...
Muhammad Nurul Hidayat
26 Juni 2018

Percakapan

Sebagian percakapan sebatas pembunuh waktu...
Sebagian lagi bergerak oleh rencana...
Percakapan adapula terurai pelipur kesunyian...
Namun kesunyianpun adalah percakapan...
Bila bahasa rindu merebut peranan...
Bukan karena tiada lagi kata yang terdengar...
Tapi diam dan suara telah cukup bersenyawa...
Di dalam kidung doa yang mengalun...
Percakapan selalu baik...
Antara jiwa-jiwa yang saling memperhatikan...
Dari balik tirai rahasia...
Janji suci bertahta dalam gubuk miskin papa...
Kaulah percakapanku...
Dalam sinis pandangan logika...
Namamu ku bela dan ku bela...
Pahamilah tempat kembalimu...
Aku ingin selalu bernafas...
Sehingga sempat mempermaisyurikanmu...
Muhammad Nurul Hidayat
23 Juni 2018

Rindu

Selidikilah aku...
Bongkar dan telanjangi niatku...
Bilapun dikepung kenanganmu...
Ku dengar debaran harap...
Luruh menyatu bersama yang tertahan di ujung bibirmu...
Jangan percaya padaku...
Seribu kataku hanya senilai benalu...
Menggerogoti langkah-langkah hijrahmu...
Namun kekasihku, aku selalu ada di situ...
Di segala jengkal bumi tempat kau bersolek pribadi...
Aku pandangi dengan seksama gemulai jemari yang tengah menata segala kepemilikan di sisimu...
Manakala kau amankan gairah rindu yang hendak mengguncang nalarmu...
Aku sungguh hadir di antara rapuhmu...
Kekasih aku rindu...
Izinkan kepada rembulan ku titip salam...
agar semesta mewakili segala gejolak ini...
Lalu menembuskannya ke palung jiwamu...
Sesuatu yang balik menyiksa bila tiada sungguhku...
Kekasih aku malu...
Bukan bila ku gagal mendekapmu...
Namun bila ku curangi ikrarku...
Dengan selirik hasrat pada selainmu...
Dengan segudang godaan hiasan dunia...
Bahwa engkaulah tujuan, duhai kekasih...
Kau terkekal di pelupuk mata, selagi jalan ini tertatih ku tapaki...
Demi senyummu...
Duhai kekasih...
Godaan akan meluluskanmu...
Perjuangan akan menghadirkanku...
Tiada percuma gerak semesta...
Tiada terpaksa takdir bersua...
Muhammad Nurul Hidayat
22 Juni 2018

Matamu

Cinta...
Adalah tempat kita menua...
Pabila kau sandarkan percaya...
Kan ku jaga segenap nyawa...
Aku bukan debu...
Memudar sebelum kau genggam...
Aku adalah irama detak jantungmu...
Pasang dan surut samuderamu...
Aku mau bercerita dalam tidurmu...
Betapa sang waktu telah merantaiku...
Ku tanamkan senyum terindahmu...
Di ambang penglihantanku...
Sehingga aku bisa pulang sesuka hati...
Kepada mata ternyaman...
Tempatku biasa teduhkan pandangan....
Pagiku adalah wajahmu...
Siangku adalah wujudmu...
Terasing ku dalam belenggu itu...
Malamku adalah kalbumu...
Kaulah ruang dan waktu...
Kesaksian-kesaksian rindu..
Muhammad Nurul Hidayat.
20 Juni 2018

Gumam Kalbu

Mengapa tak kau berlutut saja di kakinya, mengemis menahan kepergiannya?
"Tuhanku telah gariskan jalannya."
Pasti kau takut bila ada selainmu yang mendekatinya?
"Tuhanku menguasai perasaannya."
Apa kau tak khawatir bila hatinya dibawa pergi lelaki lain?
"Hatinya sungguh bukan wewenangku, bukan pula urusanku. Adalah Tuhanku penggenggamnya."
Apa yang akan kau lakukan dengan perasaanmu yang menggelora, sedang tiada lagi kini tempat kau mengungkapkannya?
"Senantiasa ku ceritakan pada penciptanya."
Apa kau memastikan diri takkan tergoda oleh wanita lain ketika ia jauh?
"Selama aku tak bercerita apapun padanya, itu pertanda dia tetap penghuni ruang hatiku".
Apakah kau membenci aturan Tuhanmu yang berlawanan dengan hasratmu tuk berdekatan dengannya?
"Tuhanku Maha Mengetahui segala yang akan bahaya".
Apa kau yakin di sisi sanapun ia sedang menjaga diri?
"Lebih dari yakin... bukan hanya menjaga diri, diapun memperbaiki diri."
Terakhir, jika dia sudah menjaga dan memperbaiki dirinya, namun akhirnya berujung bukan denganmu. Bagaimana?
"Berarti itu bagian terbaiknya, sekaligus bagian terbaikku".
Muhammad Nurul Hidayat
19 Juni 2018

Aku dan kesunyian

Aku mulai memaknai nilai kesunyian...
Senilai manisnya percakapan...
Apa yang indah dari secuplik sapa..
Dari sikap dua manusia di lorong bahasa...
Aku seperti mangajaknya bicara setiap saat...
Bahkan bila ia memampang egonya...
Di muka depan bilik renunganku...
Bagaikan menangkap rembulan...
Yang setia menyaksikan malam...
Aku akan mengencaninya setiap malam...
Menembus kesadarannya akan perkenalan...
Dia akan menyelami kedalaman palung jiwaku...
Kian pekat, kian larut dan melebur...
Bersama keheningan yang bersuara...
Aku pasti mencumbunya tanpa ragu...
Selembut angin namun setegas ombak...
Aku ini perlambang penantian...
Dan waktu ini penghantar kematian...
Muhammad Nurul Hidayat
18 Juni 2018

Balada Sang Pencinta

Dapatkah kau dengar dia berbisik:
"Terima kasih persinggahan, kau sempat tinggal di sini ajariku jadi diri sendiri, sebab seindah-indahnya jiwa adalah kejujuran meski terasing dalam gemerlap dunia."
"Terima kasih kepasrahan, kau ajariku tak berharap, sebab sakit yang berulang akan jadi cerita usang. Aku hanya ingin utarakan cintaku yang mendalam... yang selalu diragukan''.
Lalu bersama malam, terangkat imajinya ke alam langit, hanya lirih ia bergumam:
"Kemarin adalah keindahan, takkan dimengerti oleh siapapun. Bila terdakwa tiada hak meminta, biar penjara jiwa jadi bagian. Ku belenggu nafsu menyesatkan, ku insyafi segala penyucian hingga menjelang kebebasanku, saat terindah tuk ku datangi satu jiwa yang sama."
Duhai pelukis mimpi...
Telah kau jinakkan liarnya...
Telah kau cerahkan suramnya...
Dia terlahir ketika bumi mengheningkan cipta...
Pernah jatuh hati tapi terjatuh...
Pernah berjuang tapi terbuang...
Hatinya yang sulit percaya...
Hanya padamu coba membuka...
Bila kelak tiada tempat untuknya lagi...
Pastikan ia mengerti...
Sehingga ia berhenti...
Muhammad Nurul Hidayat
18 Juni 2018

Juara

Hai pemenang...
Bila pernah terlintas...
Bahwa ada selainmu...
Yang berjaya di puncak rindu...
itu keliru...
Hai juara...
Piala itu bukan emas bukan perunggu...
Ornamen penghias ruang tamu...
Tapi kemana kau bawa lari hati itu?
Apa yang kau perbuat bayanganpun tak tahu...
Antarlah aku...
Mengetuk pintu restu...
Bukan untuk membasmi segala ragu yang menjangkitimu...
Tapi tuk menyadarkan bahwa engkaulah satu...
Sudah ku pahat segudang mimpiku denganmu...
Bersama hembus kedamaian sunyi...
Akankah kau lengkapi?
Menahan langkah pergi...
Janganlah datang karena kesepian...
Dan janganlah pergi karena bosan...
Jadilah bagai mentari...
Terbit dan tenggelam atas titah sang alam...
Akulah khilaf dan lupa...
Menempuh satu titian kelam...
Namun kemenanganmu membawa cahayaku...
Maka berbagilah... kembalikanlah...
Muhammad Nurul Hidayat
17 Juni 2018

Sabda Angin

Hai...
Aku angin...
Izinkan aku singgah sampaikan pesan...
Untuk jiwa seribu pertimbangan...
Resapilah rindu yang menyusup melalui pori-pori dan aliran aliran darahmu...
Bertanya dan berulang di tiap-tiap setelah persembahanmu...
Hai...
Engkau yang disebut-sebut...
Yang jadi candu hati dan fikiran...
Namamu meninggi di dekapnya...
Tempatmulah di dekatnya...
Hai...
Aku anginmu kini...
Aku jadi saksi pekerjaannya...
Semilirku kan buatmu mengerti...
Cintanya selalu bergerak...
Menghimpun rangkaian hikmah...
Merangkum ragam emosi itu...
Menghamparkan arena...
Laksana wahana rintang...
Hai...
Tandai langkahnya...
Berapa jarak berapa musim menggores nyawa menghitam...
Demi iringan awan yang pulang pergi...
Demi langit yang menaungi...
Tak teringin membusuk di sini...
Harapnya bahagia menanti...
Muhammad Nurul Hidayat
15 Juni 2018

Penyesalanku... Pengakuanku...

Sentuh pundakku...
pabila kau rindu...
Sebab tubuh yang membelakangimu...
Tak mungkin membawa hati...
Aku sang aniaya...
Sang pendusta...
Egokah bila ku inginkan engkau...
Melebihi pada seisi jiwa di bumi?...
Aku menjernih dalam pasrah...
Berbinar semurni kasih sebenarnya...
Permohonan tinggal permohonan...
Segala t'lah kau genggam...
Kau jadi ukiran tinta sejak itu...
Kau penuntun jemariku...
Penyesalanku... pengakuanku...
Serahkan asa seutuh imanku...
Sebab dirimulah sajak itu...
Meliuk-liuk dalam angin bersuasana...
Sedetik ksatria...
Gemetar menggema...
Kala ku telanjangi dusta...
Membayang kehilangan di pelupuk mata...
Kini aku hampa...
Sungguh hampa...
Sebab inginku tampar aku...
ku jambak-jambak siasat dungu...
Hanya demi terus denganmu....
Ya.... denganmu...
Muhammad Nurul Hidayat
15 Juni 2018

Wajahmu

Perlahan demi perlahan...
Sedikit bukalah percayamu...
Ada hati yang mendatangimu...
Mungkin di saat kau ragu...
Segala pahit yang kau tempuh adalah juga kisahnya...
Maka bantulah langkahnya di sepertiga malam yang benderang.
Wajahmu adalah pagi yang terbitkan sudut cahaya...
Kian merambat pada hamparan kemarau
Kemudian berpendar selaras titah ilahi.
Deru ombak menjadi lirikmu...
Suara alam menjelmakan notasimu...
Meski elokmu hanya sekuntum fana...
Kaulah jiwa yang semerbak...
Kaulah dimensi pembeda...
Dalam kekosongan bahasa manusia...
Duhai permaisyuri tak bermahkota
Bantulah ia mengkaji langit...
Derap gerakmu menjadi asa...
Ia kan memahkotaimu dunia...
Tempat kau menari-nari jenaka...
Kau lempar lagi tawa itu...
Menerobos alam jiwa...
Menggenapi ruang cita...
Muhammad Nurul Hidayat
13 Juni 2018

Dari sini...

Dari sinilah aku bermodal...
Di titik ini aku memulai...
Biar ku tak seberuntung mereka...
Namun ceritaku harus luar biasa...
Akan ku kisahkan pada anakku kelak...
Ayahnya adalah seorang nan tangguh...
Sendiri menapaki liku terjal juga sunyi...
Dicibir, diledek, dianggap tak berdaya...
Istriku akan jadi saksi...
Darah benturan keras di sekujur nyawa...
Bekas-bekas luka yang mengering oleh senja...
Dia akan menyentuhkan selembut-lembut kasihnya...
Pada sosok yang pantang meminta-minta...
Yang arahnya sukar dilacak kemayu manja...
Yang keras hatinya sehingga halang porak poranda...
Dari sini
Akan aku wariskan yakinku nan sempurna...
KepadaNya yang runtuhkan ego menjulang...
Merintih mengemis sang fakir tuna upaya...
Sehingga hidup kekal dijelang...
Dari sinilah aku bermodal...
Tiada kabar pada sekitar...
Kecuali persembahanku di penghujung kabut yang buram...
Ku bagikan seraya sentosa alam...
Muhammad Nurul Hidayat
31 Juli 2018

Arah surgaku

Demi perkenalan sendiriku...
Demi pendalaman jiwaku...
Lengkapilah seutuhnya aku...
Duhai satu...

Beri tanda...
Engkau ada...
Sebagai pegangan hari esok...
Untuk berdua...
Sebab tulus yang tiada menggoresmu...
Takkan terkubur sengajamu...

Semua perkara waktu...
Tuhan kita satu...
Redamkan tinggimu...
Rasa kita padu...

Kau bukan di penghujung bahasaku...
Engkau tujuan arah surgaku...

Aku sakit...
Engkau jangan...
Aku bahagia...
Engkau harus...

Muhammad Nurul Hidayat
29 Juli 2018

Menandaimu

Benarkah kesunyian di sini?
Engkau yang merajai waktu-waktu yang bengis...
sedangkan aku sang awam terlipat ombak prasangka...
Sesekali terguncang dada...
Ingin ku bertanya "kamu sedang apa?".
Saat ku lukiskan garis senyuman itu.
Menandaimu dari atas angkasa...
Mengutip jejakmu bersama gemintang...
Akulah sudut logikamu yang pelik...
Saat menerawang hakikat pencarian...
Sesungguhnya t'lah sampai pada pertemuan...
Engkau nama seluas doa...
Entah ku rengkuh entah ku lepas...
iman yang tenangkan malamku...
bayanganmu selimut rindu...
Engkau setinggi-tingginya keinginan...
Aku hanya manusia biasa...
Kapan lagi kapan lagi jumpa?
Lancangnya kau membajak bahagia...
M. Nurul Hidayat
22 Juli 2018

Ketika...

Memantaskan diri adalah ketika sendiri...
Kadang bersama terlupa diri...
Kepada kidung malam yang diberkahi...
Ku langkahkan rencana bertuliskan namamu...
Jangan pergi...
Aku takkan pernah siap tuk melupakanmu...
Menarilah impianku...
Kebebasanlah nafasmu...
Tak perlu kau tahu...
Apa yang ku simpan di sini...
Do'a itu jembatan pertemuan...
Ku belajar menahan diri...
Kau bukannya yang merajai hari...
Kau sekelumit dari inti...
Aku hanya merasa jiwaku ada di jiwamu...
Demi perbedaan yang melengkapi...
Demi persamaan yang menguatkan...
Juga demi perjalanan takdir yang berliku...
Muhammas Nurul Hidayat
5 Agustus 2018

Wednesday, April 25, 2018

Rumah

Aku adalah tempat bukan dunia...
Aku adalah jiwa bukan drama...
Sebentuk rumah teduhkan panasmu...
Bila kau singgah, hangatlah hampamu...
Dalam sembunyimu juga rahasiamu...
Muara jiwa senandungkan irama tabu...
Tak terjamah dunia...
Namun ku tangkap dari kelopak indahmu...
Marilah arungi jalan...
Menuju ujung malam...
Sambutlah terang benderang...
Tanpa harus bergandengan...
Malam akan menjelang pagi...
Rumahpun melambai di pelupuk mata...
Ikrarlah bintang pembimbing langkah...
Sematkan yakin tiada patah...


Bila...

Yang ku damba sungguh bukan dia
Pada ketinggian angkasa raya...
Dialah kali pertamaku...
Tertatih tuk mengerti...
Dalam getir ku berdiri...
Ego terbiasa meraja...
Bertahtakan dingin bahasa...
Tersungkur lumpuh menerima...
Akankah gelap bercahaya?
Bila ia hadir di sisi yang lain...
Bila menyentuh lampauku...
Niscaya membeku segalaku...
Takkan menghujam kenanganku...
Bila cinta menikamnya...
Mematikan pelik warnanya...
Niscaya kan mencari-cari...
Keberadaan yang ditiadakan...

Menang

Waktu kan memanggil sadarnya pada poros lukaku...
T'lah terlalu meninggikannya...
Merebak hening pengertian...
Dalam nilai yang setara...
Lara tak terdengar...
Lirih yang memudar...
Terangkum bersama pergulatanku menyisih...
Selayak-layaknya tempat menatap...
Ke dalam diri hilang harap...
Takkan ku mencela...
Cerita bukan prasangka...
Biarkanlah hidup menata reruntuhan kecewa...
Bonus utama atas usaha memuja citra...
Yang lepaskan jiwa pada jiwa...
Mencari di ketiadaan...
Memapah di kekosongan...
Rayakanlah sendiri lewat seteguk keinsyafan...
Tak setetespun asa berpihak di ketulusan...
Namun ketulusan s'lalu menang...
Jangan hendak berpulang jiwa...
Seindah-indah jebakan fana...
Susahkan keliling dunia...
Menyasar arah tanda tanya...

Muhammad Nurul Hidayat

Secuil Tawa

Adakah tempat?
Di sudut kecil jiwa itu...
Untuk wajahku yang tersisih...
Untuk langkahku yang tertatih...
Adakah sisa senyuman?
Bila umur masih terbangkanku...
Setinggi alam nirwananya...
Secuil tawa yang pudar pada mata...
Dia mimpiku...
Dalam dua dimensi dunia...
Telah ku kabarkan semua...
Lewat s'luruh media sukma...
Dan terdampar...
Di tepian lembar khayal...
Ku gores perlahan sehingga semutpun tak mengacuhkan...
Di kesunyian, menari gemulai ku...
Di keindahan itu, menghisap belenggu...
Kalau saja ku rancang mimpi...
Selaras lembaran yang ku isi...
Niscaya ku rekam canda tawa klasik...
Dari wajah bidadariku...
Sebelum aku benar-benar siap menatapnya...
Karya: M.Nurul Hidayat
22 April 2018

Mungkin

Bukanlah ku pemilik...
Tak pula ku memiliki...
Serba-serbi idaman hati...
Tuk seluruhnya merengkuhmu...
Mungkin tersingkir ku seb'lum hadir...
Bergerilya di pedalaman kalbu...
Membajak arah cahaya...
Menyusuri rimba... tertinggalkan nama...
Namaku atas pertaruhan...
Antara kemenangan dan kebuntuan...
Tersemat jiwa misteri nan lekas berganti...
Malamku kan terasing...
Siangku kan mengering...
Setandus jejak langkah ke arah itu..
Namun tetap ku jalani...
Bilakah dapat ku tengok...
Warna potretku terkini...
Setelah resiko menyentuh langit...
Menyulut mendung di musim semi...
Kenanglah tangan yang menampung air mata...
Membungkam rasa teristimewa...
Karya: Muhammad Nurul Hidayat

Thursday, April 12, 2018

Membacamu

Intailah tirai kamarku...
Saat ku terbata-bata membacamu...
Ku rekam lembaran-lembaran lirikmu...
Terurai riwayat jiwamu...

Perhatikanlah...
Ku belajar menujumu...
Dalam terik yang membakar...
Hempas terjal yang mencakar...
Bila kau baru berubah saat ku terlanjur berubah...
Mungkin kita kan jumpa dalam sejarah...
Kenanglah hari di saat kau kebumikan namaku...
Di dasar palung hatimu terdalam...
Gugur namun abadi...

Ku berdiri...
Di titik bumi yang s'lalu
sama...
mencari samar-samar suaramu...
Menjagamu dalam ketidakmampuanku...

Dari sinilah ku tatap engkau dari jauh...
Coba menangkap garis senyummu...
Mungkin inilah terbaik yang ku mampu...
Suatu hari kau kan tahu...

Muhammad Nurul Hidayat
1 April 2018