Wednesday, December 25, 2019

A Lover

Dear, how does it feel to be a lover?.
Keeping up the same supplication heading your concluding hours.
For i'll be there completing your power.
For dejected soul may slumber beneath thunder.

Nymph, Thousand words you can't explain has been all understood,
Along the soul of your beauty to colour my black and white.
For i'll be your step, for you'll be my path.
For a single world of ours...
Rest assured,
I will only come for your attitude.

The time shall bark...
Only after a singing hope...

Are you ready for the silence?
Are you willing a deep longing?
I couldn't ask for more but your smile.
Of anytime i'm not around.
As a true time i'd have you crowned.

M. Nurul Hidayat
December 25th, 2019

Saturday, December 21, 2019

Memahami Indahmu

Memahami indahmu
Di tepian liarku
Melukis simpul senyum itu
Merajut sutera kehidupan selembut dekapanmu

Wajahmu adalah alasan mengapa aku harus bahagia.
Mencintaimu seutuhnya bukan sebutuhnya.
Tetaplah tinggal bukan meninggalkan.
Tetaplah ada tanpa mengada-ngada.

Wanitaku...
Cerita hanyalah perantara.
Raga sebatas sementara.
Yang kekal cuma cermin jiwa.
Semoga juga kita.

Aku adalah tempat,
Ketika cinta adalah memberi.
Ketika rindu tiada berharap,
Ketika harapan kian menjadi.

Aku tanpamu adalah rindu...
Yang nafasnya ku hisap laksana candu.
Aku ingin tersembunyi denganmu.
Terima kasih mau jadi semangatku.

Duhai puisi malamku...
Cinta bukanlah transaksi,
Yang mana kau kan memberi pabila menerima.
Ia bukan sekedar keperluan,
Ia sebentuk pemberian apa adanya.

Karena kau buka pintu itu saat aku melolong tersesat.
Karena cinta ini bergemuruh untuk saling menyelamatkan.
Telah ku lumpuhkan logika ketika memintamu.
Jadilah kelanjutan nafasku.

Datanglah tanpa pergi.
Menetap di ketetapan hati.
Terjemahkan bahasa berdua.
Lalu bersama sembuhkan luka.

"Kau tak perlu sempurna untuk cinta.
Cintalah yang akan sempurnakanmu."

M. Nurul Hidayat
2 Desember 2019

Romansa

Aku bisa mengendus jejak rapuhmu.
Dibias ilalang kerontang.
Pekat aroma paska hujan sembunyimu.
Menatap jendela jiwa menggerutu.

Belenggu kesunyian itu, kekasih, hempaskanlah!
Beri aku jemarimu, menari, bebaskanlah!
Aku adalah malam, tubuhku adalah awan.
Menaungi lelapmu yang mencari fantasi.
Rasakan bila nafasku menghampiri.

Kekasih,
Cahaya itu nyata dalam keraguanmu.
Izinkan ku pandu langkah sucimu.
Sebab aku bersemayam di lamunanmu.
Layaknya engkau membajak poros logikaku.

Akan berdansa di atas romansa.
Melukis warna di atas media jiwa.
Bersamamu, kelengkapanku.
Ku hidangkan secawan rindu yang kau ramu.

Reguklah sepuas dahagamu.
Takkan habis sepanjang jamuan ketulusan.
Ketika malam enggan beranjak.
Ketika gerimis bersahabat.

M. Nurul Hidayat
21 Desember 2019



Tuesday, October 01, 2019

Self-titled

Hit me bunch of displeasure,
I possess my colour.
Say i'm weirdly unlovable
I standstill at your nowhere.

Only converge will i beyond my feel.
Within those meant for me at will.
You don't need to get what seems gloomy dark.
My course is perpetual.

My ticking chances are slowly running out.
Some encouraging along my stream live in peaceful wishes.
Cause I am their longing shadow.
They are as well the inhabitant of my fragile recess.
I'm treading the history of tomorrow.
A story to enjoy indefinitely.

About to live once more...
Ridden by the taste of ordinals.
But i shrilled for my splitted soul.
I couldn't help no more.

M. Nurul Hidayat
October 2nd, 2019

Tuesday, September 17, 2019

Ilusi

Berjanji di hadapan ilusi.
Berujung kehilangan sesuatu yang tak pernah ku miliki.
Berdarah-darah mengejar ketiadaan.
Bergumul sejuta perasaan.

Bagaimana ku bisa melihat lagi,
semua yang ku bawa sedemikian jauh.
Nyatanya tak pernah nyata,
Menyesaki nafas yang fana.

Terlampau cepat berjanji,
Terlalu lekas jatuh hati.
Bathin yang disayat-sayat dalam sengaja.
Membela khayal penyulut sesal.

Aku tak mau melihat lagi.
Biarkan angin membawa perih.
Berpantang jujur atas lemahku.
Dunia cuma berhak cahaya mataku.

Aku pergi seperti permintaan yang selalu.
Hatiku seperti hilang sama sekali.
Dimana kini mesti aku sembunyi.
Hempas kebodohan-kebodohan ilusi.

Wednesday, September 11, 2019

Temani Aku

Temani aku...
Bawa kejujuranmu...
Bila tiada ku sertakan pernik dunia.
Adakah kau habiskan tawa airmatamu...
Beribadah dalam pimpinanku.

Setidaknya mengenalmu...
Hidup ini mulai tertuju...
Tak sengaja ku temukanmu...
Hingga ku sengaja perjuangkanmu...

Semoga kelak kita benar-benar bertemu.
Bukan datang dalam kesunyian...
Namun bersama melawannya.
Bukan mencari kelengkapan...
Namun bersama menemuinya.

Aku adalah bayang-bayang rindumu.
Engkaupun penghuni relung rapuhku.
Ku menapaki sejarah hari esok.
Sebuah cerita yang kan kita nikmati berdua.

Aku adalah cermin wajahmu.
Engkaupun cahaya di langkahku.
Ku simpan indahmu di bingkai munajatku.
Wahai mimpi besarku.

M. Nurul Hidayat
12 September 2019

Sunday, August 25, 2019

Menghabiskan Dunia

Terlalu lama sendiri.
Terlupa cara berbagi.
Teringin menghabiskan dunia di pelukmu.
Menemukan letak rindu di penghabisan jalanku.

Kekasih...
Cinta adalah karya lepas tuna tafsir.
Menyerahlah ke hadapan Maha Cinta yang mentakdir.
Jikalau benar jodoh itu.
Pasti bukan aku saja yang sendiri melawan gelap ini.
Karena doa-doa kecilmu sedang membangkang jarak yang meraksasa.
Kau menahan sunyi demi tegak harga diri.

Kekasih...
Aku menginsyafi segenap larangan itu.
Maka sambutlah perwakilan kehadiranku.
Menghujam ke palung kejujuranmu.
Dimana kau kecup pahit getirnya merindu.

Sebab aku menemanimu...
Senantiasa dan selalu...
Ku menuai putik candumu.
Semula kau tanam kepayang sembari bisu.

M. Nurul Hidayat
25 Agustus 2019

Sunday, August 11, 2019

Rhytm of My Life

Rhytm of My Life

Dear the rhytm of my life...
Escort my elegiac symphony,
To a precise goal of eternity.
My heart is worn out,
filled by the emptiness that no space remains.
My darkest, my wildest side,
Fondle the weary wanderer...

I am  your shadow of uncertainty.
When you get weary, when the time haunts.
I am your recalling memories.
I am the reminder of missing touch.
As the night holds you safe,
I could be nothing but your all thoughts.

Stare the heaven above!
Your multiplied longings.
Your endless searching.
Your envisioned blueprints.
Wrapped up into concept.
Nothing is that too much, tho...
Let it be yoo... !

Dance me over fantasy.
My cloudy shelter has presented me.
Cheers with no sorry...
Provide spaces to my crowded worry.

M. Nurul Hidayat
11 August, 2019

Saturday, August 10, 2019

Bersiap Menjemputmu

Terbanglah merpati...
Cakrawalamu menggoda sukma.
Tiada sejengkal semesta meluputkan takdirmu.
Kembali bersarang abadi.

Rebahkan sayap-sayap rapuhmu,
Bila langit tak bersahabat.
Doanya menjelma udara,
Mimpinya laksana rayuan senja.

Dia tak sempurna,
Tapi dia menujumu.
Hadirnya tak seindah khayalan-khayalanmu itu.
Mentasbihkan lirih dan luka,
Di tepian sunyi senyap.
Dia bangga memperjuangkanmu.

Berserah segenap jiwa itu,
Menjadi tawanan rindu.
Tengok dan hampirilah sekejap sempatmu.
Bagaimana cinta bermekaran,
Di atas gelap gersang dimensimu

Sirami seonggok jiwa itu,
Sepercik sudimu.
Sesungguhnya bersama yakin,
Bahagia siap menjemputmu.

M. Nurul Hidayat
10 Agustus 2019


Wednesday, July 31, 2019

Dunia Berdua

Ku ini rendah
Ku adalah tanah
Terinjak-injak seribu langkah berkejaran

Cobalah berlari
Seraya berpaling
Meludahi mimpi yang berpuisi

Teringin berlibur di pelukan itu
Yang hangatnya seperti pagi
Erat seperti melindungi
Bertamasya mengitari bola mata itu
Setelah kisruh jiwa yang rahasia
Lalu ku lukiskan dunia eksklusif milik berdua
Menetap dan mengobati luka

Usah menantang terik dunia
Menepi dan kembalilah
Kelemahanmu, kelemahanku
Marilah saling berteduh

Gejolak badai kian gemuruh
Seperti rindu kita seluruh
Menolehlah sekejap mata
Biar resahmu aku baca

M. Nurul Hidayat
1 Agustus 2019

Monday, June 10, 2019

Puisi Terakhir

Selamat berhenti berharap
Semoga di saat yang tepat
Hati kecil penyambung harapan hitam.
Hilang ditelan kehilangan

Selamat berbahagia
Duhai penantianku di sana
Do'aku masih di langkahmu
Namun tak lagi cita-citaku

Aku pernah salah
Mendobrak dinding tinggi menjulang
Darah di telapak tanganku semerbak tubuhmu.
Ku bersih-bersihkan di telaga waktu.

Simpanlah salam
Simpanlah apa kabar
Aku pernah ada
Dalam ketiadaanmu.
Maka biarkan
Aku tiada
Dalam keberadaanmu

Bahagialah
Jangan sungkan sebarkan pada dunia
Jalan bahagia yang t'lah kau temukan
Aku berusaha tak melihat

Wahai jiwa yang tandus...
Lupakanlah seperti hujan menyapu debu-debu jalanan.
Memantik pelangi selepas langit berkabung mendung.
Lupakanlah demi keluhuran harga dirimu dan kesuksesan besar yang berbaris dalam yakinmu.

Lupakanlah cukup simpan di saku belakangmu.
Usah lagi kau bingkai dan kau rawat dalam harapmu.
Tak mengapa ia melekat pada riwayatmu.
Sebentuk kejujuran perjalanan.
Sebentuk hikmah masa depan.

Lupakanlah kendati sulit dan menghimpit.
Selamatkan jiwa dan akal sehatmu yang terlalu rapuh.
Sebelum badai dahsyat menyelesaikanmu.
Sebelum siksa cinta menyudahimu

Paksakan senyuman yang pahit itu.
Melangkahlah damai sentosa.
Hampir saja kau memastikan kedudukannya.
Sebelum ia memastikan kepergianmu.

Mungkin kau tunjuk wajahmu sebagai pelaku kesalahan.
Mungkin kau dakwa hatimu sebagai aktor pelanggaran.
Namun telah kau torehkan pertanda manusia di separuh pencarianmu.
Pandanglah luasnya hamparan dunia yang genit nan menggoda.
Semoga luka bermetamorfosa.
Semoga kecewa berangsur ditelan masa.

M. Nurul Hidayat
10 Juni 2019

Monday, June 03, 2019

Selimutku

Jadilah selimutku...
Menghitung detik malam panjang.
Berbaring manja di tubuhku
Saling bertumbuh memanjat waktu.

Hiduplah denganku...
Wujudku cuma separuh kebahagiaan.
Duduklah menggenapi kelengkapan.
Sungguh, jiwamu sabda kehidupan.

Bila jalan berdua semakin pelik berliku.
Kenanglah bersama hangat yang terlelap.
Hatiku, sukmamu, memagut menyatu.
Menerbitkan keniscayaan di penghujung gelap itu.

Tetap setia selimutiku...
Jangan biarkan sekejap mencarimu.
Bukanlah permintaan itu hadirmu.
Melainkan ketetapan nahkoda yang tegas.
Melaju lagi menuju...

M. Nurul Hidayat
3 Juni 2019 

Saturday, May 11, 2019

Mengintipmu

Ku tenggelam
Ditelan mentah gulita malam.
Masih bisa mengintipmu,
Melampirkan sebaris romansa,
Kadang sendu, kadang menggebu.

Mengendus aroma jejakmu,
Seperti wangi nan surgawi.
Aku masih di sini,
Bersama rindu.

Cinta, kembalilah...
Sadari jalan pulangmu sebenarnya.
Dekaplah mimpi lewat hangat tubuhku.
Raih jemariku,
Hempaskan sunyi yang menipu.

Cinta...
Nuranimu adalah lentera,
Ikuti cahayanya bersahaja.
Aku gelap engkaupun gelap,
Meraba-raba tanda tanya...

Sebab ku tak boleh mengusikmu...
Telah tertanam sepanjang jalanmu,
Perantara kasihku yang mengangkasa.
Membelaimu di kala rapuh,
Menyentuh lembut sisi egomu yang kalut.

Sebab sakitmu adalah sakitku...
Pindahkanlah beban dan segala kesakitan itu.
Biar ku tanggung dan kaupun berpijar.
Bila akhirku tak pernah kuasa merengkuhmu.
Baca dan renungkanlah jejak-jejak persembahanku.

M. Nurul Hidayat
12 Mei 2019





Sunday, May 05, 2019

Elegi Permaisyuri

Dia...
Berkata tanpa kata.
Terkapar tanpa daya.
Tersenyum lewat lain dimensi.
Adakah cerah di antara celah?.

Mimpinya...
Yang mendukung dari belakang,
Yang menemani seiring berdampingan,
Yang memeluk dingin penawar luka seharian.
Adakah cerah di hadapan?

Perkenalannya...
Mencari sepatah kata.
Untuknya...
Perhatikanlah kini, perhatianlah nanti.
Rebahkan segala beban perguncangan nurani dan prasangka.
Di antara dua bisik saling tarik menarik.
Menyeret gelisah ke jurang keterpurukan jiwa.

Buka lagi penanda sajak penanda pancaranmu jua.
Segala warna telah menjelma dalam barisan karya.
Walau wajah dambaan berpaling menyakitkan,
Bukan waktu yang bijak tuk membunuh sisa-sisa harapan.

Dia berkata tanpa kata,
Menunggu mendung memantik pelangi,
Rintik-rintik berkah menghijaukan kerontang.
Setelah berhembus semilir kehidupan.

Dan apabila sang permaisyuri memperkenalkan diri.
Turunlah ia dibias cahaya langit.
Terpana semesta raya, terbawa suka cita.
Kemana gerangan indahnya bermuara?

M. Nurul Hidayat
5 Mei 2019

Saturday, April 27, 2019

Langit Perjumpaan

Ku pergi takkan menjauh.
Ku diam takkan menghilang.
Senantiasa mengetuk relung kejujurannya.
Adakah namaku dalam sunyinya.

Masih ada debaran ini tiap tatapan jarak jauh.
Dia sibuk mendewasakan diri di dalam patuh.
Gemuruhnya jiwaku teramat sungguh.
Menyulam rapuh, menyelam keruh.

Ku pergi takkan menjauh.
Ku diam takkan menghilang.
Megaku menaunginya jua.
Salam-salam rinduku mulia.

Aku ingin bernafas di pagi esok.
Melanjutkan sehelai pengharapan elok ku sulam.
Menunaikan puisi hari di bingkai cahaya wajah itu.
Mentasbihkan atribut penghias manis senyum itu.

Aku mendambanya sungguh lantang suaraku.
Berseloroh dengan semesta teramat asyik narasiku.
Sampailah aku sebagai pelaku keajaiban.
Bila tiba takdirku menyentuh langit perjumpaan.

M. Nurul Hidayat
28 April 2019

Thursday, April 25, 2019

Dirty Beloved

All unexpressable goes beyond language,
For humbly we are the fools of limitation.
Dream of lovers to be mingling within Thy Territory,
Interweaving inwards and Thy Purpose shall become a way of bestowal.

After bondage of lust...
Hurly burly of rush endless looking.
The sinners of Thy Knowledge,
Wrestle at where of none seeing.

The traces will give life to the deeds,
That of why driven along the path.
they'd love to fall for the absolute.
Ye know best the journey not to despair.

Dwellings i remain at,
Values worth fighting for,
As conscious as the remnant of hope i still possess,
Nothing quake will shake...

M. Nurul Hidayat
April 19th, 2019

Larut

Aku mencarimu di riuh belantara kata,
Tak ku tangkap sahut suaramu.
Lalu aku melacakmu dalam gemuruh hasrat diri,
Tak jua nampak sinar wajahmu.
Berkali lelah ku gagal menemukanmu.
Ternyata kau bersembunyi di balik bayanganku sendiri.

Kau merajut hari demi hari selembut sentuhan sutera putih,
Namun tiada kau menambal sunyi yang ku tanggung tergopoh-gopoh.

Aku mencintaimu polos dan telanjang.
Remang-remang malam larut beriringan.
Bagaimana caranya merapihkan puing jiwaku,
Agar tak nampak gusar mencumbu indahmu.

Aku ini takdir sebuah kehadiran.
Kamu itu garis lengkung senyum yang menikam.
Izin ku bawa serta prasangka dan curiga.
Ku hempas jauh ke sudut semestinya.

Kaulah separuh kesempurnaanku.
Sebab sedetik senyummu menutup seabad rapuhku.
Sandarkan hari-hari fantasimu,
Berpetualang bersamaku.

Muhammad Nurul Hidayat
24 April 2019

Thursday, April 18, 2019

Dirty Beloved

The unexpressable goes beyond language,
For humbly we are the fools of limitation.
Dream of lovers to be mingling within Thy Territory, interweaving inwards and Thy Purpose shall become a way of bestowal.

After bondage of lust...
Hurly burly of rush endless looking.
The sinners of Thy Knowledge,
Wrestle at where of none seeing.

The traces will give life to the deeds,
That of why driven along the path.
they'd love to fall for the absolute.
Ye know best the journey not to despair.

Dwellings i remain at,
Values worth fighting for,
As conscious as the remnant of hope i still possess,
Nothing quake will shake...

M. Nurul Hidayat
April 19th, 2019

Wednesday, April 17, 2019

Melepasmu

Melepasmu...
Mungkin itulah puncak ketinggian cintaku.
Rasakan rasaku menyusup di senyap dan ramaimu.
Demi hasrat yang berjarak, biarlah aku lekang bilapun mesti.
Semoga kau menghirup nafas-nafas rinduku yang sendu kini.

Melepasmu...
Mungkin itulah terjemah cahaya jiwa.
Di antara gejolak yang mengendarai pembenaran.
Aku, kamu akan mengukir awal keabadian.
Lepas, lepaskanlah kekasih, kawan temaram.

Semoga sekejap kau mengingatku...
Langkahku menyusuri api dan duri.
Suaraku parau ditikam sunyi.
Namun jangan temaniku,
Di hadapmu ada cita nan menggelora.

Jalanmu wajib bahagia, kekasih...
Bagi-bagikan aku ceriamu.
Perjuanganku biar membara di sini.
Kepadamu jua berpulang hati.

M. Nurul Hidayat
17 April 2019

Tuesday, April 16, 2019

Intisari

Kau intisari...
Pelbagai dinamika tak berujung.
Kasihmu tepian akhir pencarian.
Kasihmu ujung juga penghabisan.

Aura wajahmu adalah kisi-kisi masa depanku,
Akan berkesimpulan di ujung ujianku.
Dalam ruang ilmu kehidupan hati,
Kaulah sabda keheningan...
Penyucian juga penantian...

Cerita tentangmu telah bocor di kalangan penduduk langit,
Semenjak namamu menyesaki malam malam yang biru.
Jiwaku khidmat dirantai rindu,
Rindu yang ku langitkan kepalang tanggung.

Bolehkah selalu ku penuhi warnamu?
Bolehkah kau raih peluk penghabisanku?
Lalu tenggelamlah di kedua bola mataku.
Sebelum waktuku berlalu,
Sebelum segala lemah mencegahku.

Perkenankan tubuhku mendekapmu selamanya...
Meski tak sanggup menghalang maut yang niscaya.
Hempas segala kerontangnya jiwa dan dahaganya mata.
Bila kasih t'lah terungkap dari tirai rahasia.

Jadilah kelengkapan untuk sisa perjalananku.
Mengarungi deru dan haru,
Menyaksikan setia yang terperaga,
Menuai kejujuran yang dibela-bela.

Aku menahan pahit perih nan bergumul.
Luka bernanah berabad berkumpul.
Kaulah segala demi segala untuk,
Segala atas nama yang ku bentuk.

Muhammad Nurul Hidayat
16 April 2019

Saturday, April 13, 2019

Lewat Doa

Lewat doa sederhana ini...
Ku beranikan diri mencintaimu dalam diam.
Untuk kesehatan, senyum dan hari-hari cerahmu,
Ku lampirkan seutas munajat yang lugu.

Lewat sajak murahan ini...
Ku bercerita kepada langit malamku yang tertawa lirih.
Manakala ku sebut namamu seperti selalu.
Manakala suaramu terbata dan membeku.

Ku habiskan waktuku mencintaimu,
Pagi, siang, sore, malamku.
Walau aku kini jauh tersisih,
Di tepian asing yang tak kau peduli.

Tapi ku tak pernah lupa...
Aku ini hamba...
Apalah artinya cita tanpa izinNya.
Sedangkan segenap do'a berselimut kebodohan fana.
Warna takdir tersurat di ruang rahasia.

Aku ingin menemukan bidadariku di ujung do'a...
Entah dia entah siapa.
Sebab segala gerakku digerakkan.
Pun segala munajatku dimunajatkan.

Duhai dunia...
Pasanglah segenap matamu sempurna.
Biar kau saksikan kemenangan atau kegagalanku di hari kelak.
Berpasrahku ini bukanlah lemah.
Di dalam pasrah, ku himpun langkah.

M. Nurul Hidayat
13 April 2019

Wednesday, April 10, 2019

Keindahan

Kan ku simpan wajahmu...
Dalam lipatan do'a yang hangat tiada terburu.
Meski lengkung senyum itu sempat terhalang,
Rupamu tetap seindah-indah penciptaan.

Omong kosong bila ku untai puji-pujian atas indahmu,
Sebab hatiku bukanlah jatuh di situ.
Ia hanya pelengkap syukurku dalam sekejap detik ku tengok raut wajah itu.
Wajah mimpi-mimpiku...

Sebait rindu yang mengalir,
Mungkin tak pernah kau reguk di sana.
Tak mengapa indahmu kan tetap ku damba.
Melawan bengisnya jarak raga...
Memuja yakin senjata jiwa...

Kau yang dititipi keindahan...
Bolehkah jua hamba miliki?.
Hamba takkan bersimpuh meminta.
Hamba meretas jalan mulia.

Wahai manifestasi mahakarya ilahi...
Maaf hamba tak pandai berpujangga di hadapanmu.
Hamba cuma selarik majas yang membuntuti gerakmu.
Seraya membawa keabadian rindu.

M. Nurul Hidayat
11 April 2019

Saturday, April 06, 2019

Someday

"Someday will be no same days. You shall talk to the heaven, the sheer magnificence. Throughout the confusion days spinning around, you'll find the concluding bliss wrapped up."

Then i ponder,
Blessings of wonder
Any bigger than the worries of foolish.
I feel like dancing over my sanity.

If i feel my pitch dark witching hour.
Sure to believe my revealing power.
Gonna start earlier.
Then someday is today.

Should circumstance goes blank in wisdom.
Sure will the soul alter for self-independence.
For nobody to confide in soulful whisper.
So i qoute my own affirmation.

Cherish o cherish upcoming cheers.
Come deeply inside of shattered fears.
Never skip yourself giving loveliness touch,
Nobody knows you need the most.

Cherish o cherish my someday of luck.
Gain the self-dignity for which you leave.
Not the ego of your hiding place.
Not the negligence of your guilty face.

M. Nurul Hidayat
April 7th, 2019



Mencarimu

Aku mencarimu,
Mungkin dalam gelapnya akal sehatku.
Setapak sehasta kegelapan,
Ku maknai tanpa petunjuk cahaya.

Aku lolong menerka.
Lusuh awam membuta.
Dihujani riuh gemuruh terus lurus mengejar sewujud tanda tanya.
Ku terabas batas, ku membekas dalam hempas.
Adakah aku ampas?
Adakah terlepas?

Aku mencarimu.
Kau samarkan raut senyuman itu.
Dengan apa aku harus bertemu?
Kepada siapa langkah rindu bertamu?

Masih mencarimu.
Mungkin maut mendahuluiku.
Ku amanatkan pesan kasihku teristimewa.
Bilapun sampai kepadamu.

Tetap mencarimu.
Mungkin pamit mendahuluiku.
Gerak langkah juga curahanku.
Mulialah kelanjutan jalanmu.
Seluas itulah hamparan rinduku.

M. Nurul Hidayat
7 April 2019

Thursday, April 04, 2019

In The Silence

I seek you in the silence,
In the rising melody of such broken song.
This is what i am holding back,
When all smiling paths are invisible to track.

For the careful touch.
For all disclosed in front of your sense.
Here i'm coming in nothing,
Picking you up into sweetness of your will.

Wandering around questions.
Since hesitancy in prison.
The beauty of my eyes stays in my concern.

Escort me to your garden of thousand hidden.
i'm officially paraliyzed for seeing you.
Still trying to make you mind,
Love never goes blind.

M. Nurul Hidayat
April 5th, 2019

Sunday, March 31, 2019

Sabda Cinta

Jadilah dia...
Sehingga sukmamu berdansa riang,
Di keharibaan selaksa angan yang legam.

Jadilah dia barang sejenak.
Mencicipi sekuntum gairah dalam kumparan usang.
Lalu tersipu laksana bercumbu.
Berpura membelai tanpa wajahmu.

Jadilah dia.
Bertukar jiwa sekilas saja,
Menelusuri satu nama di malammu.
Biar seluruhmu tenggelam di ombaknya.
Menghujamkan risalahnya...

Mereka memang elok,
Tapi dia cuma butuh bibirmu,
Supaya terbuka jadi lawan bicara.
Ketimbang tertutup melawan bicara.

Kau lempar hanya seucap kata,
Cukup menggoncangkan persembunyiannya.
Sebab apabila telah mendarat sabda cinta dalam sempurna,
Dusta manakah kuasa menghalangi?.
Mengetuk fitrah paling hakiki.
Coba saja kau tutup jeritan hati,
Berkali dalam galau sendiri...

M. Nurul Hidayat
1 April 2019

Saturday, March 30, 2019

Sang Pendidik

Dia adalah jiwa pengabdian.
Mungkin terlupa mungkin terabaikan.
Tapi nilainya menerobos batas dimensi duniawi.
Mendekat merengkuh sejati.

Di hamparan ladang pengharapan.
Ia tanami benih cinta tiada batasan.
Biar dunia menyemai panen sejahtera di hari kemudian.
Mungkin saat ia tinggal kenangan.

Tuhan...
Tenggelamkan ia dalam samudera kebijaksanaan meski wujudnya mesti tak terlihat.
Larutkan namanya dalam harap tak terdengar di sentosa malam.
Sehingga riwayatnya kan sejahtera,
Dalam saksi do'a-do'a,
Diiringi kidung gita cinta.

Pijarkan cahaya...
Pendidik, pelayan, perantara.
Sentuhkan segenap hati kepada bakal investasi.
Sungguh tiada akan merugi.

Arahkan cahaya..
Pendidik, pelayan, perantara.
Diabadikan dalam hormat senantiasa.
Hanya bila kau membawa jiwa.

M. Nurul Hidayat
31 Maret 2019

Saturday, March 23, 2019

Wajah Tuhan

Wajah Tuhan tersebar di segala inci kasat matamu.
Kemana pandang tertuju di sana karyaNya menantang akalmu...
Mengetuk nuranimu...

Pada wajah-wajah sahabat, kerabat bahkan musuh bebuyutanmu,
Isyarat kasihNya membayang di pelupuk sadar setiap jiwa hamba.
Pada dinding waktu yang kau gores segala ragam emosimu,
Tuhan percikkan setetes samudera kasihNya demi dahaga seisi semesta.

Jangan-jangan aku larut dalam pencarian,
Sesuatu yang sejatinya di dalam aku selalu.
Serasa jauh oleh hijab nafsu.
Serasa hampa oleh syahwat dunia,
Serasa kosong oleh cita nan picik lagi dangkal,
Serasa tiada oleh kematian dalam kehidupan.

Wajah Tuhan bersemayam dalam percayamu.
Sejuk siang dan malam berjalan serupa.
Nafas yang kau bela kan terlepas semata.
Supaya kesadaran datang bagi yang ingkar.
Saat terlambat untuk segala sesal.

M. Nurul Hidayat
23 Maret 2019

Tuesday, March 19, 2019

Perkenalan

Jangan henti semangat.
Lekas-lekas laju derap.
Lekas-lekas lalu gerak.
Mari jumpa di puncak.

Demikianlah sehingga ku tandai,
Segenap saksi rinduku yang paripurna.
Jalanan gelap, udara dingin hingga ruangan pengap,
Telah semerbak melatilah di buatnya.

Ya...
Jangan beri celah ku menembus dinding langitmu.
Khawatir ku terpedaya fatamorgana nafsu.
Dari hamparan bumi yang rendah,
Ku cuma layangkan salam-salam atas namamu.
Ku jangkau keindahanmu dalam perantara mata hati
Sungguh mewah dan sucinya kehadiranmu.

Cukup dalam hening ini perkenalan berdua,
Membuatku makin yakin tuk tidak memilih selain hanya kamu.
Yakin akulah terbaik tuk membimbing dan menjagamu.
Yakin kamulah terbaik tuk melengkapi dan menguatkanku.
Sebab perkenalan ini terindah yang pernah ada di dalam kita.
dalam bungkam hingar suara.
Aku cinta...

M. Nurul Hidayat
19 Maret 2019

Sunday, March 17, 2019

You Belong The Rest

Once upon a miserable night...
Covered by dark letters of my clause.
My senses were blinded by pressure.
It seemed like an ended path.
I solely was as one reading you.

Before the mirrored image of mine,
In the stream of whole honest reflections.
Yet i couldn't hardly find my longings to fulfill,
but your simply coming.

Can i only recall your dearest shadow?
If i need you to share a little day passed.
Please, stop questioning the clarity.
At certain tip of true discovery.

Now i am coming from somewhere of destined tidings
The soul keeps moving down the pike.
If you are really the path,
Will i definitely see you with no wrath.
O girl, sent has been you here.
I madly love you as a hungry licking leech.
O girl, i am calling you with my incompleted pieces.
The rest just belongs to you.

Muhammad Nurul Hidayat
17 Maret 2019


Saling Menemukan

Hei...
Seandainyapun benar kau yang paling cintaiku.
Belum pasti kau itu jodohku.
Buat apa kita mendekat di waktu yang salah?.
Mengumbar nafsu yang dibahasakan sebagai cinta?.

Cinta yang benar itu mendekatkan kepada Sang Pemiliknya.
Bukan pemaksaan agar dicintai bertahtakan ego nan tinggi.
Izinkan ku muliakan jiwa ragamu wahai bidadari.
Iringi aku do'a supaya kuat sendiri.
Menghimpun kelayakan menapaki jalan memastikanmu.

Hei...
Mungkin saja aku cumbui kamu sehina syahwat berbalut kasih.
Serendah-rendah nilai kehormatan yang tergadai dusta.
Menempuh percuma dalam keagungan fatamorgana.
Tapi nilaimu bagiku jauh di atas itu semua.

Berpijarlah di hening munajat.
Manakala dunia terlelap terbuai gelap.
Hembuskan inginmu padaNya.
Semoga kita saling menemukan.

M. Nurul Hidayat
10 Maret 2019

Friday, March 15, 2019

Sesungguhnya

Aku mencerna esensi kehidupan,
Di antara semak belukar kerontang.
Sesungguhnya bila cinta hadir ketika kelak kau jemput.
Maka cinta itu benar adanya.
Tak peduli kepada siapa saja ia sempat singgah.

Dan kepada orang-orang...
Aku lebih suka menceritakan kekuranganku.
Bukan supaya mereka memaklumi.
Tapi semoga kekecewaan mereka berkurang...

Jiwa bertuhan takkan gentar di kesepian,
Sebab segala denyut nadinya berkawan kebersamaan.
Dan teruntuk satu arah jalan itu.
Percayalah aku menuju.

Seperti rezeki yang rahasia.
Seperti umur tiada terka.
Seperti wajahnya membayang terhadap mata.
Dekatlah ia sepertinya.

Dusta yang paling besar,
Adalah kepada jiwamu sendiri.
Sebab ialah keledai yang kau tunggangi.
Sementara medan di hadapan berisyarat tiada pasti.

M. Nurul Hidayat
16 Maret 2019

Sunday, March 10, 2019

An Obscure Rhapsody

I desire touching the essence of my being.
I pay a lot for unexplained chasm.
Exhaling the favored secrecy,
The sweetheart of running ages.

O nymph, you should awake,
By virtue of the coming light,
Sneaking into wonder,
As the point to ponder.

To one as a striking chord,
I do compose my symphony.
Looking forward to harmony.
Should all be meant to be.

I desire touching the tip of heaven.
I congregate within imagery companion.
O nymph, you better follow the line.
Let me see us heading the same.

M. Nurul Hidayat
March 5th, 2019

Saturday, March 09, 2019

Tegap

Tegaplah kamu berjalan.
Beranjak dari hangus reruntuhan sang lampau.
Memang hari depan kan kejam.
Langitkan kobaran harap laksana obor pembimbing jalan.
Berpantang-pantang menangis.
Menyusuri liku cerita, menapaki sekilas derita sebagai warna yang Tuhan celupkan sedetik masa.

Ya... Terkadang dunia memang bengis.
Di ujungnya gerbang cahayamu tersurat,
Namun penjemputannya yang tersimpan.

Yang berjuang kadangpun terbuang.
Pengujian kedalaman hati.
Namun niat yang menetap pertanda menang.
Lepas segala piciknya batasan ilusi.

Bukan diksi yang menari, menerawang sesal-sesal di sana.
Mulailah berkemas benahi diri.
Pandanglah tajam ke arah pasti.

Kamulah pengembara fana.
Kamulah titah surga yang menopang.
Implementasi ayat-ayat rindu yang berwujud.
Menurut versi kebodohan khayal.

Kamulah romansa.
Kelak mengukir riwayat semesta.
Kamulah penyajian dan peristirahatan.
Kamulah akhir.
Yang mimpinya tanpa akhir.

M. Nurul Hidayat
10 Maret 2019


Thursday, March 07, 2019

The Elan

Writing a lot,
Since shutting the mouth.
I hanker for an exposed dawn,
To whom i confide in.
Outclass the stereotypes.
Liberate souls of the duskiness.

Why should my spirit share?
Just like thirsty counterfeit.
My scream is loud and high,
gonna call the tune after all.

I am wandering around myself,
Just having not realized those laid for me.
Lost is the lonesome night.
Search after search.

Look at the shadow,
Sniffing through the mirror.
All is too serious as a hell,
Tracing how terrible you have made.

Give birth to your renewal,
For the pledge never sighted.
Navigate the derivation of your single end.
Something away from your conscious past.

M. Nurul Hidayat
March 8th, 2019

Dia Adalah...

Kan datang suatu hari...
Kau sandarkan beban hatimu yang seluruh...
Di pundak itu...
Tanpa ragu...

Jarakmu mencari hangat tubuhnya...
Rebah lelah dari kemunafikan fana...
Temui satu tempat terpercaya...
Tempat kau jatuhkan segalanya...

Dia adalah suatu harimu...
Akhir semua tanya, pelengkap separuh jiwa...
Walau jalannya ditertawakan dunia...
Musim akan bersemi di separuhnya...
Usia akan berpihak di selebihnya...

Sekali-kali jangan kamu lewatkan dia...
Oleh keraguan warisan lama...
Kehadirannya menjalar di segala sudut alam sadarmu...
Membajak malam-malam ketidaksadaranmu...

M. Nurul Hidayat
7 Maret 2019

Monday, March 04, 2019

Ceritakan Aku

Ceritakan aku hidupmu...
Terus dan terus saja...
Setiaku menyaksikan sembari membuka jalan...
Sebab kepadamulah hati mencari dan menemukan...

Ceritakan aku jiwamu...
Yang kau tutup di persembunyian...
Perkenalanmu, kehormatanku...
Kehadiranmu, semenanjung harapku...

Bila disinggasanakan kisah romansa, pada tepian setapak rindu gelap.
Kan ku simak gaung syukur dari palung jiwa:
"Tunai sudah separuh agamaku, selebihnya sampai ke ujung waktu..."

Cerita itulah warna cerah penghiburku...
Hari-hari rindunya sang pengecut ini...
Terangkai sudah barisan sajak kepada wajah dunia...
Namun terbungkam di hadapanmu...

Terima kasih telah jumpaiku dalam hidup...
Tubuhku gemetar menatapmu...
Detik demi detik menjelang puncak keberanianku...
Jumpaimu di pelataran rindu...

M. Nurul Hidayat
4 Maret 2019


Saturday, March 02, 2019

Gracious

Gracious...
The shelter of heaven resonates my longings in Your Name...
As my shifting soul is in bouyancy fashion...
Madly delving into your only path...

To my temporality...
My hopes are enclosed...
My daydreams are lining straight...
For merely the day of truth...
Will i abide in patience...

As Rumi, the lover, said:
"In the slaughter house of love, they kill only the best, none of the weak of deformed.
Don't run away from dying. Whoever's not killed for love is dead meat."

I offer You my submittion...
Inside of all precise moments...
Dying in life... Drunk in love...
Before your majestic sovereignty...

Gracious...
I went astray such a halfway secret...
Grant me your guidance so i can breath...
Accentuated is the nothingness...
It's me creeping on the creed...

M. Nurul Hidayat
March 3th, 2019

Siratan Makna

Kamu adalah puisi...
Yang ku bacakan di hadapan Tuhan pada setiap rindu...
Hatiku adalah benih...
Yang ku tanam bersama sunyi senyap penantian...
Ku sirami dengan derai perjuangan...
Biar ku petik semanis senyum halalmu...


Aku merangkai imaji setapak demi setapak jalan menuju hadirmu...
Menjaring rembulan, membelenggu matahari...
Demi janji yang terpatri semesta siaga melengkapi...
Takkan lekang disengat dunia jua padam dihempas malam...
khayalku bersenyawa di buaian sajak, alam dan kopi...
Engkau senantiasa objek karya tertinggi...


Namun tubuhku masih kotor tuk memelukmu duhai muliaku...
Perangaiku masih mentah untuk membimbingmu duhai surgaku...
Biar ku rakit kapal rapuhku...
Sebelum berlayar membawamu...


Cinta adalah ketika tiada lagi yang paling utama...
Selain saling berbalas pesan dalam siratan makna...
Berbahasa bersejiwa...
Meski raga masih berkecuali...


Aku hamba bersahaja...
Engkau hati teristimewa...
Bila ujung duniaku harus tanpamu...
Ah... entah bagaimana...


M. Nurul Hidayat

2 Maret 2019

Saturday, February 23, 2019

Aku Adalah Guru

Setiap jiwa adalah potensi cahaya...
Dikau cuma membantu mereka berpijar...
Besok lusa terbuka lembar-lembar cerita...
Awal cerah kau boleh berbangga...

Jernih jernihkan niat...
Lantang lantang hentak langkah...
Tuhanmu merekam segala ucap di lisan...
Sebar petuah bekal pulang...

Dikau terpatri sebagai jalan...
Pahlawan kecil menuju terang...
Maka jadilah harapan...
Jangan cuma berharap...

Aku adalah guru...
Walau ombak pasang nan menghadang...
Sebagai perkenalan sehingga kematian...
Aku tersenyum mengukir jalan...

Aku adalah guru...
Beserta ketidaksempurnaanku...
Melukis langit masa depan...
Setinggi warna-warna impian...

M Nurul Hidayat
24 Februari 2019

Friday, February 22, 2019

Manis

Kau siksa aku dengan manis...
Saat ku hanya bisa meratapi keluguanku...
Dipecundangi diri sendiri...
Yang tak kuasa apapun...
Selain merindumu...

Kau bermain di dalam fikiranku...
Sepenuh waktu mengawal detak nadiku...
Kau laksana udara yang ku hirup...
Hampamu dingin menusuk...

Warna di kanvasku tak pernah mengering...
Ku celup kembali tuk ku goreskan sewujud lukisan bola matamu...
Walau tersimpan entah di balik wajah...
Diabadikan dalam bingkai terindah...

Sungguh cinta tak pernah salah...
Tangan manusialah yang kadang menodainya...
Semoga jejak langkahku kau lacak dalam sunyi...
Riwayat perjalananku menuju hatimu itu...
Kelak bila kita satu...
Sehingga ku sadari bahwa hatiku berasal dari penciptaanmu...
Atau bila kau punggungi ajakan suciku...
Sehingga ku tahu dengan apa ku harus berlalu...

Dulu aku terlalu mudah menterjemahkan sekedar suka sebagai cinta...
Kini ku tak pernah mudah membohongi cinta sebagai sekedar suka...
Cintaku bersembunyi di balik langit mendung gelap...
Hujan deras dan angin menyamarkan hadirnya...
Namun sebelum ku rengkuh segenap hati...
Ku yakin ia bagaikan senja...
Tak pernah menetap namun selalu kembali...

M. Nurul Hidayat
22 Februari 2019

Wednesday, February 20, 2019

Rahasia dan Harapan

Jiwa lemah memapah...
Di antara yakin dan resah berpasrah...
Penghujung tanya s'moga dijelang indah...
Gelora kenanganmu, syahdu di pelukmu...
Kehangatan dan perlindungan yang benar selaras dengan naluriku padamu...
Cuma waktu menabrak restu...

Aku bercerita dalam ceritamu...
Kamu memperhatikan perhatianku...
Di musim dingin ini...
Banyak-banyaklah ku bicara dengan diri sendiri...
Kawanku sedikit, rumahku sempit...
Semoga seleksi alam menuntun jalan hakiki...

Terlebih bila jiwa berdansa dalam pusaran bayang-bayang kekasih rahasia...
Keindahan yang aneh ataupun keanehan yang indah adalah ketika segalanya memang hanya untuknya...
Hadirnya seperti cukup sebagai ruang persembahan...
Menutup genit sang mata...

Kamu seperti bahagiaku yang hilang...
Kamu seperti kepingan separuh kehidupan...
Kamu adalah setinggi-tinggi tujuan...
Ya... Semulia-mulia harapan!.

M. Nurul Hidayat
21 Februari 2019

Monday, February 18, 2019

Jangan

Jangan mencariku dalam prasangkamu...
Temui aku dalam dirimu sendiri...
Supaya kamu tak salah mengartikan...
Segala yang tak perlu dijelaskan...

Kamu bidadari syairku...
Muara tunggal ku mewartakan kasih...
Kamu meninggali seisi hati yang sibuk...
Tampak samar-samar di balik awan...

Mengapa kau tutup cahaya hatimu?
Juga kau halangi lorong gelapmu?
Malamku nyaris sekarat...
Melukis teka-teki wajahmu...

Apakah hadirmu perwakilan metafora dunia...
Yang diutus guna menelanjangiku...
Semenjak kau berpesiar di atas badai...
Justru perkenalan itu mulai ku rangkai...

Maukah kau jadi kekasih terbaik?
Sebagai madrasah bagi keturunanku?
Sebagai rumah untuk ku berpulang setelah terik dunia menyengat jiwa...
Sebagai sandaran lelah pengobat hari-hari berselimut sibuk tak berkesudahan...

Bila kau lenyap bersama air mataku...
Kan ku kenang jejak simfonimu...
Sebab tak pernah ku takut mengatakan cinta...
Aku cuma takut mengganggu...

18 Februari 2019

Thursday, February 14, 2019

Ibu


Hendak ku kecup damaimu sekali lagi...
Hendak ke dekap indahmu hingga terlelap...
Lalu ku pandangi kedua mata sucimu...
Sumber kehidupanku...

Duhai ibu...
Ku mohon tuk singgah lagi...
Di malam panjang yang tak ingin ku akhiri...
Meski sekejap saja kau luangkan keabadianmu...
Aku ingin bercerita...

Duhai ibu...
Bolehkah aku terbangun denganmu?
Beri aku belaian pagi oleh lembutmu?
Sajikan aku sarapan terlezat...
Siapkan perlengkapan sekolahku...
Lalu ku minta kau tuntun langkah kecilku yang manja...
Menuju segala tempat dalam ceria...

Ibu...
Di rumah ini ada nafasmu...
Di darah ini ada jiwamu...

Ibu...
malam memaksaku merindu...
Bertahun sudah tanpamu...
Tolonglah ibu...
Sering-seringlah tersenyum di mimpiku...
Aku rindu...

M. Nurul Hidayat
15 Februari 2019

Wednesday, February 13, 2019

Ikatan

Bila seluruh bidadari langit berkerumun di mataku...
Membujukku... menghasutku...
Angkat kaki dan tertawa liar...
Mereka kira aku menggigil menuju kematian?.
Ataukah aku tenggelam di telan kesepian?
Sungguh di pelupuk pandangan hanya dia bersemayam...

Sesungguhnya sebuah ikatan hanya menjerat bukan mempersatukan...
Bila ia tercipta oleh kehendak manusia bukan restu Tuhan...
Hatiku paling terikat erat kepada dia...
Walau ruang logika rapat membatas...

Aku mau terikat dengan dia...
Sehingga selama-lamanya...
Melintas dimensi dunia apabila t'lah tiada...
Jadi teman di keabadian, puncak ketinggian cinta...

Mungkinkah aku menjemput kekosongan?
Ataukah semua berujung kematian?
Cintaku akan senantiasa berdegup...
Dalam do'a diam-diam...

M. Nurul Hidayat
30 Januari 2018



Aku Adalah Rindu

Aku benci rindu...
Sebab tak berwenang menyatakannya...
Tapi aku mulai mereguk sungai keikhlasan...
Bila hati kerontang ditawan kesendirian...

Rinduku manis dalam rahasia...
Sosok di balik tirai pesona...
Rupanya elok bercahaya...
Terasing gemerlap warna dunia...

Aku memujinya di hadapan langit menantang...
Sedangkan menatap indahnyapun tak sanggup sudah...
Ingin ku utarakan rasaku yang kemarin...
Bertahan teruji waktu, jarak dan godaan...

Aku adalah rindu itu sendiri...
Sesungguhnya aku hidup di pelupuk matanya...
Berdansa dan bernyanyi...
Terkadang notasiku tercerai-berai...
Menempuh kidung tiada usai...

Aku adalah sumpah setia...
Menjemput ujung tanda tanya...
Jangan berpayah-payah menelanjangi waktu...
Lonceng jiwa bahkan bergema...

M. Nurul Hidayat
2 Februari 2019

Seluruh Jiwa

Kendati ditelan awan lalu...
Bayanganku berarak berbaris menujumu...
Usah terlampau panik begitu...
Usah mengelabui fitrah ilahi...

Hei...
Bagaimana aku tak ada padamu?.
Sedangkan jalanku ke arahmu...
Bagaimana kau tak merasakanku?.
Sedang akulah cermin jiwamu...

Ikuti tarianku di atas matahari...
Elok gemulai penanda gerak...
Aku melihatmu berjalan di balik kabut...
Pekat dan pengap saling menatap...

Kamu pasti menunggu secarik syair kekacauan ini...
Wajahmu muram di sela purnama...
Kau kecup malam yang legam...
Meniti jalan cerita...
Menempuh ujung rahasia...

Hei...
Kau dan aku jiwa bersenyawa...
Lekat dan padu dikerumuni keramaian sunyi...
menyucikan debu-debu masa lalu...
Sebelum guratan takdir bertemu...

Hei...
Ini kebiasaanku menyayangimu...
Terlampau kilat jerat melekat...
Terlampau kuat hati kecilku bertahan...
Demi dirimu yang tiada dua...
Sungguh ku niatkan seluruh jiwa...

M. Nurul Hidayat
13 Februari 2019



Thursday, February 07, 2019

Hilang Kata

Puisiku kehilangan kata-kata...
Tercecer di peraduan sendu...
Saat semua berbangga-bangga cerita...
Di gubuk renta ku sembunyikan lara...
Tertunduk menyamarkan luka....
Entah terhempas, entah terlepas...

Ketika berselancar di atas ombak kehidupan...
Ketika harus membenturkan dinding cerita...
Keruntuhanku menjadi senyum di alam langit.
Ku perhatikan gerak bumi bersirkulasi...
Manakala menguburkanmu ke dalam kesepianku...

Kemana syairku yang hilang?.
Aku melolong melawan...
Hembus kemarau kian menggugurkan...
Hijau harapan di ranting kusam...

Di remang wajah dunia...
Langkah kerdil mengembara...
Menjemput satu peraduan itu...
Menghiba takdir sehingga hadir...

Duhai malam...
Hendak ku pinjam damaimu...
Sebagaimana ku rengkuh gelora siang...
Sehingga sejatera peristirahatan...
Semoga syair-syair picisan ini...
Semoga kepingan fana ini...
Berujung pada percumbuan suci...
Denganmu... nafasmu...

Bila ku gagal menemukanmu...
Senja takkan berduka...
Namun langit takkan bicara...
Hingga malam melarutkan setiap lelap...
Dan menembus segala gelap...

Aku mempuisikan wajahmu...
Dalam kepak sayap sang mega...
Kamu cuma lari sembunyi...
Sementara aliran nadiku membeku...

M. Nurul Hidayat
14 Februari 2018

Jarak

Memunguti puing-puing rindu...
Seluas jarak aku dan kamu...
Dalam halang jalan terbentang...
Belenggu hasrat sebelum waktunya...

Kan ku datangimu dengan pasti...
Pabila bulanpun tergenapi...
Ucaplah syukur atas pemeliharaan sempurna...
Segelintir jiwa yang menyusuri jalan kita...

Gelap malam yang bersepakat...
Lelapnya dunia sang pengobat...
Lukisan senyummu tak lekang di persembunyian...
Esok lusa kan ku tangkap...

Siapakah dirimu?
Serupa pemacu debar jantungku...
Bisikkanlah cerita tentang diriku...
Dalam debar penantian di kamarmu...

Enyahkan sejenak lara di langkahmu...
Jemariku hangat menggapaimu...
Meski tak lagi kau dekap erat tubuhku...
melawan hujan mencumbu rindu...

Muhammad Nurul Hidayat
18 Januari 2018

Menemukanmu

Menemukanmu

Kita tak pernah jauh...
Walau pekat menyelimuti lorong malam...
Sadarku terjaga tuk mengenang...
Senda guraumu yang menggelitiki egoku...
Senyum kecilmu yang membantai jenuhku...

Kini kau mekar...
Disirami sejuknya hikmah...
Kau reguk sepanjang jalan pengembaraan...
Meski ragamu hilang tersapu batas pandangan...

Rindu ini telah ku pasrahkan...
Seperti alunan kidung harapan...
Ia mengiringi latar belakang derap langkahmu...
Betapa ia tak ingin lepas...
Meliputimu selalu...

"Aku takut kau tak menemukanku."
Tersempat benakpun meragu.
Bagai potret yang tak kunjung usang...
Lukisan matamu mengawasiku...
Melalui lorong-lorong malam dan labirin sunyi temaram...
Sejuta kemungkinan siap dijelang...
Maka rebahlah bidadariku...
Senyumlah menembus ke ujung umurku...
Berpijarlah pada waktunya...
Gaunmu elok bertahta bahagia...
Singgasanamu kekal buah manis doa-doa...
Melangkah anggun menyusuri jengkal dunia...
Maukah kau ku jelang?
Maukah jadi tujuan?
Maka janganlah kau mencariku...
Biar aku yang menemukanmu...

Muhammad Nurul Hidayat
21 Januari 2019

Sunday, January 27, 2019

Kau Seperti Ada

Kau Seperti Ada

Kau seperti ada...
Menantikan narasi jiwa...
Sampai kapan bisu membatu...
Tiada detikku meragu...


Demi bahasa yang lumpuh...
Seluruh rapuh akan luluh...
Kita tak bermain di permukaan dunia...
Dunia yang picik bertopeng sandiwara...

Kau gemetar di sentuhku...
Khayalmu menari-nari meniti arah tak pasti...
Rindumu menyusuri rangkaian tanda tanya...
Coba merengkuh misteri terdalam itu...
Lalu menyelami lubuk kehampaanku...
Tanpamu...

Kau seperti ada...
Sekali lagi tuk ke sekian kalinya...
Aku merasakan sayup-sayup kehadiranmu...
Menikam alam bawah sadarku...



M. Nurul Hidayat
24 Januari 2018

Kau Seperti Ada 2

Kau Seperti Ada 2

"Kau seperti ada...
Menahan langkah sunyiku beranjak...
Kau seperti ada...
Bila harap kembali menapak..."





Kan ku jadikan kau s'lalu ada...
Namun biar waktu yang menguak...
Sebab kita terlalu polos...
Tiada secarik isyarat menembus mutlak...


Kau seperti ada...
Bersama angin malam yang menggoda...
Aku memanggilmu dalam lirih...
Aku tahu kau merasa...


"Apakah kamu sedang sendiri?"
Dari palung jiwa ku bertanya...
"Apakah kamu sering merindu?"
Bilapun sungguh, temanilah aku...



M. Nurul Hidayat
24 Januari 2018

Saturday, January 12, 2019

Munajat Rindu

Hamba kasihinya...
Tumpah ruah dalam sujud...
Benarkah hamba bila membawa nama...
Dimintakan dalam lirih do'a...


Bolehkah hamba petik...
Sekilas wajah malam yang pamungkas...
Jatuh tersungkur sahaja...
Tergopoh lusuh tuna suara...

Di remang lorong surau...
Gelegarnya membahana...
Tersurat sepasang mata percaya...
Murnikah persembahanku?
Takkan terbaca sealam dunia...


Hamba berpantang...
Hamba berpegang...
Pabila esokpun entahlah mudah...
Hendak sesatkan dari jalan hakikat...
Duhai bukanlah bukan calon selamat...


Hamba kasihinya...
Mungkinkah berbalas nan sama?.


Muhammad Nurul Hidayat
14 Desember 2018

Saksi Mentari

Aku saksi mentari...
Terbangunkan alam harmoni...
Segar jiwa lepas landas...
Mencuri awal pembuka...

Sentosalah ruang rindu...
Tak tercemar keruh nafsu...
Selepas gelap nan sukar terjaga...
Langkah pacu menderu-deru...

Selamatkan...
Sisa waktu yang ditikam keinsyafan...
Esok lagi kan berkelana...
Dalam hingar tempat rahasia...

Aku saksi mentari...
Terbangunkan alam harmoni...
Aku reguk anggurku...
Namun mabuk terdahulu...

Muhammad Nurul Hidayat
17 Desember 2018

Rinduku Yang Getir


Rindu...
Boleh aku datang?
Mengetuk rumah dimana kau mengusirku?
Aku berpijar dalam redup...
Bila detik berkala...
Detakku terjaga...


Rindu...
Duhai penghujungku...
Boleh aku petik secuplik kisahmu...
Sisanya biar ku lengkapi...
Sampai penghujungmu...

Rindu...
Boleh aku menetap?
Saling menyambung nafas...
Hingga mati di pelukanmu...
Mencari yang dicari...
Perjalananku kepadamu...

Rinduku yang getir...
Benarkah kau tak ingat aku?
Kenanglah perlindungan dari sang lemah...
merangkak namun tetap melaju...
Takkan henti padamu...

Muhammad Nurul Hidayat
23 Desember 2018

Untitled Rhapsody


As picturous as my world...
For the dancing paintbrush...
My tears shall vanish the hiding fog...
Forever more...

No truth cringing away...
No shortcut to my way...
Throwing the shadow of sorrow...
I've found you dazzling sight...

Standing strong...
Heading where i trust to belong...
As the pinnacle is our own...
The future is walking closer...
Neither to wait nor to fake...

I am sober and sane...
To have you my last on this earth...
See you on the day of true reborn...
The shine will last and long...

M. Nurul Hidayat
28 Desember 2018

Terakhirku


Pernah letih jiwa ini menghardik bayangmu...
Ketika terus saja jadi irama fikiranku...
Mencoba bengis melawan jujur...
Namun kau tetap unggul...

Kala itu tertelungkup oleh rapuh...
Dipecundangi fantasi-fantasi memilikimu...
Aku merasa engkau jauh...
Engkau jijik... engkau ludahi setulus-tulusku memberi hidup...

Aku mau memberi nafasku...
Bahkan segala yang belum ku miliki...
T'lah tersemat atas namamu...
Lalu perhatikanlah berulang-ulang...
pasang mata hatimu yang tajam...
Hunus aku dari belakang apabila ingkar itu ku genggam...

Kita mesti ditumbuk dan diketam...
di atas bejana penyucian sebelum jadi sepasang persembahan surgawi nan semerbak...
Biarlah habis didera dan dihantam...
Sekeliling alam godaan yang bermuarakan cahaya...

Aku ajak sadarmu...
Ke semenanjung tanpa tepi...
Aku tunjuki engkau ranting-ranting dan dedaunan yang gugur oleh seleksi alam...
Kamu akan dihibur angin-angin sejuk yang bertiup tak kenal waktu...
Kau kan nyaman dan tersipu...
Namun mereka tetaplah angin...

Aku ini siapa?
Nampaknya sinis betul memandangku...
Aku hanya lelaki yang terduduk dengan pena bahasa...
Menari-narilah dikau jenaka...
S'bagai terakhirku kau ku damba...

Muhammad Nurul Hidayat
30 Desember 2018